Di Rumah Jagal - Sitinjau Laut - Ketika Rinai Sakit - Gerimis Melati - Burung Pemikat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Rumah Jagal - Sitinjau Laut - Ketika Rinai Sakit - Gerimis Melati - Burung Pemikat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:30 Rating: 4,5

Di Rumah Jagal - Sitinjau Laut - Ketika Rinai Sakit - Gerimis Melati - Burung Pemikat

Di Rumah Jagal

leher ini sebentar lagi
sudah tak ada
kami selesai begitu saja;
tanpa kenangan

kisah
menguap serupa darah

tak ada kubur
tak ada ziarah
diri disantap sampai tandas
belulang ini, penanda tubuh terakhir
tak punya nisan, tak punya turunan
tumbuh dan usai
di tangan tukang jagal

tubuh ini sebentar lagi
sudah tak ada


Sitinjau Laut

bukit, segalanya kabut
di ketinggian ini, betapa aku bergantung
kepada jalan yang entah akan
membawaku ke mana. dan aku
menjadi kerdil, tak bisa jauh darimu

oi, kabut tebal. jarak pandang, jalan
berliku, hutan terbakar, dan jurang dalam
di bawah, antara imaji dan halusinasi
rumah menanti

Ketika Rinai Sakit

ketika rinai sakit
air di mana-mana, di luar basah
di dalam diri kami juga basah

ketika rinai sakit
kami memasuki tenda pengungsian
orang-orang yang selamat dari jerat ajal
kapal karam, sisa mesiu dan asap di mana-mana
kesedihan kami adalah kesedihan mereka
yang kehilangan rumah, kehilangan anggota tubuh
kehilangan ladang, kehilangan keluarga
kehilangan masa lalu, dan jalan pulang

ketika rinai tak berhenti sakit
air mata kami adalah air mata ia yang disiksa
majikannya
perempuan yang dirampas kehormatannya,
keluh kesah pasien rumah sakit yang jemu
dan cemas

ketika rinai sakit
hutan terus dibakar, gedung terus dibangun
gerimis kecil ini tak mampu jadi penawar
berhektare lahan yang diludahi api,
penghapus debu di jalan berlubang
kesedihan yang diulang sepanjang tahun

rinai masih sakit
kesedihan kami adalah kesedihan sebuah bangsa
yang dikepung perang dari luar dan dalam
tubuhnya sendiri

ketika rinai sakit
kami merindukan hujan sekali jatuh
menghapus api, melindapkan debu, memadamkan
amarah
dan menghentikan kesedihan republik ini

Gerimis Melati

ketika tangis pertamamu pecah
langit menjatuhkan kelopak melati
yang wanginya tercium sepanjang hidupmu

aku memandang bening matamu
seperti lubuk dengan mata air abadi
tak peduli musim apa, kami akan bisa melihat
gerimis jatuh, bau tanah yang meningatkan kami
pada asal dan muara

dalam gerimismu yang terus melati
orang-orang tak cemas tak bisa pulang,
air tak akan naik ke mana-mana.

ketika kau mulai belajar tertawa
suaramu adalah senandung yang paling rindu
pengantar tidur yang paling aman
setiap kami dihajar kesulitan

dalam diri kami kini
ada kebun melati yang meruapkan bau pelukan
gerimis melati, gerimis dengan aroma melati
senandung yang semerdu dan seindah melati
kekal di dalam diri kami

rinailah hari, hiburlah kami
dengan senandung kecilmu
dalam kebun melatimu, dalam sukacita kami
yang kedalamannya setangguh puisi

kau gerimis, melati dan senandung dari kedalaman
cukup maut saja yang tahu kebenarannya


Burung Pemikat

aku tak bisa mempercayaimu
kata-kata serupa getah
mencabut bulu-bulu, mengurungku dalam pelukmu

kita sepasang burung liar yang terperangkap
di sangkar sempit
lalu, entah siapa yang memulai, kita bersepakat
terbang
–setelah satu-satu sayap kita kembali tumbuh
menjelajahi angkasa, menukik ke pucuk daun
melupakan rumah yang lama

kau mengepak terlalu tinggi
sayap-sayapmu kokoh dan begitu gagah
di pokok-pokok rindang, kau bersiul nyaring
bulu dan suaramu menggoda pemikat menaruh
perangkap

di alam bebas begini. aku begitu takut sendirian
bukan atas ancaman dan gunjingan
aku terbiasa berumah sempit
mengenal hal-hal sederhana, berbagi tempat
denganmu

sedang kau dalam sekejap
menjadi burung pemikat
menggoda di celah getah dan perangkap

Indrian Koto lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Mengurus toko buku kecil jualbukusastra.com serta penerbitan kecil MK Books dan Penerbt JBS. Buku puisi pertamanya: Pleidoi Malin Kundang (Gambang, 2017).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Indrian Koto
[2]Pernah tersiar di surat kabar " Jawa Pos" Minggu 26 November 2017

0 Response to "Di Rumah Jagal - Sitinjau Laut - Ketika Rinai Sakit - Gerimis Melati - Burung Pemikat"