Impianku (Bagian I) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Impianku (Bagian I) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:30 Rating: 4,5

Impianku (Bagian I)

TAK banyak yang kupinta Tuhan, hanya seulas senyum di masa depan. Saat toga disematkan, ijazah tabung aku genggam. Kebahagiaan bapak dan emak mengembang. Biarkan jemari melukis indahnya mimpi menjadi nyata. Sebagai bakti seorang anak kepada orang tua.

“Nek, hari ini mau jalan-jalan tidak?” tanyaku pada nenek, wanita berumur 95 tahun yang hampir enam tahun kujaga.

“Tidak, Ami. Hari ini saya tidak enak badan,” jawabnya pelan. Disertai tarikan selimut untuk menutupi kembali tubuh rentanya. Seolah tidak mau terendus sinar matahari.

Bukan hal mudah menuruti kemauannya–laksana anak kecil–ia ingin selalu diperhatikan dan dimanja. Usianya yang hampir seabad membuatnya kerap lupa dan pikun. Tak jarang, sesuatu yang telah diberikannya, akan dicari kembali. Dengan dalih kehilangan barang yang disayang.

Namaku Aminah, anak sulung dari empat bersaudara. Berasal dari Desa Sidodadi, Sekampung Udik. Sebuah desa kecil yang mengajarkanku arti kehidupan, ketegaran, dan perjuangan. Wanita seusiaku–yang sudah kepala tiga–bila di kampung telah memiliki anak dua ataupun tiga. Karena jika lewat tujuh belas tahun, bisa dikelompokkan menjadi perawan tua. Sedangkan aku? Entah berapa kali lebaran dan takbir berkumandang, selalu di perantauan. Mulai dari membantu menyekolahkan ketiga adik-adikku, hingga kini mereka telah menikah, dan punya anak.

Setelah kusiapkan sarapan pagi untuk beliau, dengan cekatan kuambil tas ransel hitam untuk pergi berbelanja. Selain mengurus nenek, membersihkan rumah, dan mengantar ke rumah sakit, aku pun harus ke pasar membeli sayuran dan kebutuhan lainnya. Aku tinggal bersama majikan dan nenek. Majikanku Shu Cang Lai. Beliau tidak menikah. Meski hampir enam tahun aku mengabdi di rumah ini, belum pernah aku melihat foto seorang wanita pun di kamarnya. Apalagi melihat ia bersama kekasih. Sedangkan nenek memiliki empat orang anak. Tiga laki-laki, yang paling bungsu perempuan.

“Paman, kangkung ini satu ikatnya berapa?” tanyaku pada penjual, seraya memilih kangkung hijau yang masih segar.

“Dua puluh lima dolar saja, Nona. Segar-segar loh! Kamu boleh memilih, kalau membeli banyak aku kasih murah.”

“Terima kasih, Paman. Aku beli dua ikat saja,” seraya kuulurkan uang logam satu keping. Bertuliskan lima puluh dolar. Tidak lupa kuucapkan terima kasih kepada lelaki paruh baya itu.

Majikanku bukanlah tipikal orang yang tidak punya. Karena setahuku ia seorang yang bermain saham. Meskipun tidak pernah pergi bekerja, tetapi tetap mendapat penghasilan. Hanya saja dalam perihal keuangan, perhitungannya sangatlah kikir. Semua jenis pengeluaran harus ditekan seirit mungkin.

Ransel hitam yang kutenteng telah penuh dan sesak. Terjejal beberapa ikat sayuran, buah, dan ikan, serta bumbu-bumbu dapur lainnya. Sesegera mungkin kulangkahkan kaki menuju apartemen Yonglun Li, Taipei, tempat aku bekerja. Karena untuk berbelanja pun, nenek memberiku tenggat waktu. Tidak boleh terlalu lama. Nenek paling tidak suka jika aku bercakap-cakap dengan sesama pekerja Indonesia. Di benaknya, jika sesama pekerja berbincang-bincang, pasti tengah membahas majikan masing-masing. Padahal semua tidak benar. Kami sama-sama saling menyapa.

“Saya pulang, Nek,” sapaku pada wanita tua yang duduk di atas sofa.

“Kamu belanja apa hari ini, Ami?” celetuk nenek.

“Hari ini saya membeli kangkung, Nek, buah, dan beberapa lauk-pauk.”

“Tiap hari kok makan kangkung?” tandasnya ketus.

Lah, Nek. Kemarin-kemarin kan kita masak sawi, brokoli, dan kubis? Hari ini kebetulan kangkungnya segar-segar, makanya aku beli.”

Nenek terdiam. Sifat pikun dan ingin tahu seolah telah menyatu dengan kulit putihnya.Tabiat mengatur yang identik dengan profesinya dahulu sebagai guru tidak pernah hilang. Ia memperlakukanku seperti muridnya. Apa pun selalu diatur, dinasihati. Tidak boleh ini dan itu. Harus begini dan begitu.

***
LONCENG jam dinding berdentang dua belas kali. Pertanda waktu makan siang telah tiba. Setelah semua hidangan tersaji di meja, lalu kupersilakan mereka untuk makan. Pada Senin sampai Jumat, anak pertama nenek yang kupanggil Ta Ke datang kemari untuk makan. Maklumlah untuk menekan anggaran pengeluaran rumah tangga, kan uangnya bisa untuk kebutuhan lain. Itulah penuturan yang kudengar dari nenek.

“Nenek, Tuan, Ta Ke. Silahkan makan,” ucapku seramah mungkin.

“Baik, Ami. Terima kasih,” timpal majikan seraya menuju ke meja makan.

Sementara mereka makan, aku membersihkan dapur dan perabotan. Selama bekerja di sini, aku tidak pernah makan bersama. Selalu menunggu mereka selesai. Dan hasilnya, hanya tersisa beberapa helai sayuran, kepala, dan duri ikan. Yang tidak layak untuk dimakan. Untung ada sebotol sambal terasi yang kubeli saat libur. Sedikit memberi rasa dan menemani gumpalan nasi putih di dalam mangkuk.

Sebenarnya ingin sekali aku memisahkan makanan sebelum kutaruh di meja. Tetapi apa yang harus disisakan? Semua menu jumlahnya sedikit. Jika kuambil duluan, akan ketahuan. Dan tidak pantas untuk disajikan. Hanya sabar yang bisa kulakukan.

Teringat pesan emak ketika aku lelah menghadapi perjuangan hidup, beliau selalu mengingatkan, “Nduk, dunia ini keras. Bahkan ia takkan pernah memberikan sebuah kebahagiaan pada penghuninya secara gratis. Dan harapan adalah tiang penyangga dunia. Untuk itu tetaplah semangat.”

Aku masih teringat, bagaimana seluruh saudara dan tetangga mencibir kita, lantaran emak berusaha mencari pinjaman uang untuk membeli beras saat adikku yang bungsu masih bayi. Kala itu, bapak belum pulang dari buruh panjat kelapa. Sedangkan kami seharian belum makan. Saat itu, emak tidak bisa bekerja mencuci baju di rumah tetangga, karena baru melahirkan.

“Makanya kalau gak punya uang jangan beranak terus. Sudah tahu hidupnya susah, anak malah dibanyakin,” kata Bude Yati, tetangga sebelah kami yang waktu itu menjual sayuran keliling.

Berkat jerih payahku, alhamdulilah tetangga yang dahulu mencibir mulai berpikir. Jika manusia mau berusaha, pasti ada jalan keluarnya. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untukku berkelana sebagai buruh migran. Mulai dari Singapura, Hong kong, dan kini Taiwan-lah destinasi terakhirku.

Tak hanya bekerja, aku di sini juga meneruskan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Secara diam-diam. Aku ingin mewujudkan sebuah impian yang tertunda, lantaran dahulu terbentur biaya. Selain pulang membawa uang, juga membawa ilmu. Yang bisa dimanfaatkan setelah aku tak lagi bekerja di luar negeri. Aku bersekolah di perguruan tinggi, yang menyediakan pembelajaran online. Setiap pribadi dituntut untuk mandiri dalam meraih prestasi.

***
“AMI …,” teriakan nenek membuyarkan lamunanku. Suara stereonya menggema ke seluruh ruangan.

“Iya, Nek. Aku datang,” balasku dengan tergopoh-gopoh.

“Kamu ada lihat uang saya gak? Saya taruh di laci ini, tapi sekarang enggak ada.”

“Wah, aku tidak melihat, Nek. Kan nenek melarangku untuk membuka laci ini? Jadi aku tidak pernah membuka, apalagi membersihkan.”

“Uang saya hilang. Enggak ada orang lain yang masuk ke rumah ini. Cuma saya, kamu, dan anak saya,” gerutu nenek dengan nada meninggi.

Aku mengigit bibir, sepasang mata ini berjuang keras menahan embun yang berdesak hendak keluar. Memuntahkan kekesalan dan sakit hati, atas tuduhan yang tak berbukti. Karena ini, bukan kali pertama nenek menuduhku sebagai pencuri. Dulu juga pernah terjadi. Ia kehilangan uang lima ribu dolar. Dan ternyata, uang itu dipakai untuk memperbaiki kloset WC yang pecah.

Rupanya tak hanya sampai sini nenek mencari gara-gara. Ketika majikan pulang pun, ia tetap berpikir jika uangnya sebanyak lima belas ribu dolar hilang. Jangankan mencuri, melihat bentuk dan tumpukannya saja aku tidak pernah. Apalagi uang berjumlah banyak, uang receh sisa belanja pun diminta lagi, jika aku pulang dari pasar. Uang untuk membeli koran setiap hari sepuluh dolar pun tidak dilebihkan. Jika seminggu maka ia akan menyiapkan sebanyak tujuh puluh dolar.

“Ami, kata nenek uangnya hilang. Apa kamu melihatnya?” tanya Tuan Shu penuh selidik.

“Tidak, Tuan. Saya tidak melihat, apalagi mengambil. Mungkin nenek lupa menaruh uang itu,” jelasku.

“Saya tidak lupa! Saya belum pikun,” sembur nenek dengan nada menyalak.

Akhirnya Tuan Shu menyuruhku pergi ke belakang, untuk menghindari pertengkaran dengan ibunya. Tetapi semenjak peristiwa itu, sikap tuan dan nenek sangat berubah. Mereka berdua tidak acuh padaku.

***
DENGAN runut, aku terus membersihkan tubuh nenek. Mulai punggung, lengan, dada, paha, hingga pergelangan kaki. Nenek hanya mau dilap, katanya tidak perlu mandi. Agar menghemat air. Aku terhenyak. Saat sedang mengelap bagian mata kaki nenek, entah disengaja atau tidak, tiba-tiba nenek menjambak ekor rambutku yang kuikat tinggi. Hingga seringaian sakit kurasakan.

“Nenek, apa yang kau lakukan?” desisku kesal.

Tapi nenek hanya diam. Tanpa mengucap sepatah kata pun. Seolah tidak bersalah. Sebenarnya bisa saja aku balik memukul dia. Toh… sudah renta ini. Tenagaku jauh lebih kuat dibanding tenaganya, yang terbalut kulit keriput. Namun kuurungkan niat itu.

***
KLING. Sebuah panggilan di messengger masuk dari sahabatku, Dewi. Ia menanyakan, kenapa Skype-ku hingga kini belum menyala. Padahal lima menit lagi kelas daring dari dosen akan dimulai.

“Ayo, Ami. Semangat. Ini adalah semester akhir kita. Pastikan kita harus menyemat toga di acara graduation perdana di university. Bukankah kau ingin pulang dan mengajak orang tuamu untuk merayakan wisuda bersama?” bujuk Dewi penuh semangat.

“Kamu tahu, Wi. Hari ini aku dituduh mencuri uang nenek, belum lagi rambutku yang juga ia jambak. Aku sakit hati, dan sedih sekali,” jelasku, disertai buraian air mata menjatuhi pipi.

Come on, girl. Mana Ami yang kukenal dulu? Laksana batu karang di tengah lautan, akan tetap tenang meski badai menerjang.”

Sedihku hilang. Malasku terbang. Laksana mendapat asupan nutrisi dan gizi dari ucapan Dewi, sahabatku. Dia memang teman yang baik dan mengerti akan diriku. Bahkan, dialah satu-satunya teman yang tahu, jika selama ini aku berkuliah secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan tuan dan nenek.

“Siapa kamu? Istriku bukan! Adikku bukan! Kok di sini mau sekolah,” maki tuan, ketika dahulu aku berpamitan hendak berkuliah. “Saya menggajimu untuk menjaga nenek, jadi kerjakan tugasmu sebaik mungkin. Tidak usah aneh-aneh.”

Akhirnya aku memutuskan berkuliah secara sembunyi-sembunyi. Tak mudah memang, acap kali pengiriman modul datang, aku harus memberi petugas keamanan apartemen dengan dua bungkus kopi dan biskuit.

Etik Nurhalimah adalah pekerja migran Indonesia di Taiwan. Cerpen yang ditulisnya memenangkan penghargaan RRI belum lama ini.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Etik Nurhalimah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu, 19 November 2017

0 Response to "Impianku (Bagian I)"