Kambing Hitam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kambing Hitam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Kambing Hitam

JUMAT Kliwon malam itu berhias benderang bulan purnama. Sebuah kampung di ujung timur Pulau Rote dibuat geger dengan temuan jasad seorang tokoh sepuh di sana. Wajah sang sepuh lebam-lebam. Leher sebelah kiri mengeluarkan darah segar seperti bekas terkaman hewan buas. 

Ibu-ibu tampak histeris. Anak-anak menjerit ketakutan. Sekelompok lelaki dewasa mengurus jasad sang sepuh nahas tersebut. Tidak lama kemudian, seorang lelaki berteriak dari ujung jalan. “Kena. Sudah kena. Si jahanam Yanto pelakunya”, teriak si lelaki berkaus putih dengan bawahan sarung. 

Sepetak perkebunan Jagung di ujung jalan kampung itu, Yanto dikelilingi segrombol lelaki yang sudah meledak amarahnya. Yanto tidak menggunakan baju, hanya menggunakan celana panjang berbahan katun. Celana Yanto pun nampak terkoyak-koyak, ibarat sebongkah bangkai sehabis diseretseret beralas tanah bebatuan. Tubuh Yanto berlumur darah. Dari Mulutnya pun setali tiga uang. 

Segrombol lelaki yang murka mengelilingi Yanto dengan cepat bertambah jumlahnya. Mereka berteriak-teriak. “Bunuh. Bunuh. Dasar binatang sakit jiwa”. 

Yanto hanya diam. Matanya terbelalak lebar. Mulutnya menghembuskan napas teratur. Seolah-olah dia tidak punya salah. Seolah-olah hanya menjadi kambing hitam. Seorang lelaki berkaus hitam yang sedari tadi berdiri di samping kanan Yanto tetiba menghantam dengan balok kayu. Yanto jatuh pingsan dengan kepala bagian kanan atas tersobek. Berliter-liter darah mengalir deras dari kepala Yanto. 

Pagi menjelang, Yanto terbangun dengan kondisi kaki dan tangan terpasung di sebuah kandang. Pemuka adat kampung itu yang karib disapa Mbah Reka menghembuskan asap rokok kretek seraya sesungut. “Tangguh juga binatang ini. Sudah dipukuli habishabisan. Luka menganga di kepala. Masih hidup saja”. 

*** 
DI atas kapal laut, Pastor Kornel sedang menanti Pulau yang hendak disandari. Pulau itu akan menjadi tempat bertugas Pastor Kornel selama lima tahun ke depan. Sesampainya di Pulau itu, Pastor Kornel bergegas menuju suatu kampung di mana sebuah Paroki sudah menunggu kedatangannya. Dengan cepat Pastor Kornel beradaptasi. 

Lima bulan sudah Pastor Kornel berada di kampung itu. Suasana tenang dihiasi semilir angin pantai. Pastor Kornel merupakan didikan sekolah rohani di Pulau Jawa –tampak luwes membumi di kampung itu. Pukul 11 siang, Pastor Kornel melakukan aktifi tas rutin, yakni mendatangi rumah-rumah di kampung tersebut untuk keperluan administrasi Paroki. “Bukan salah tempat ibadah kekurangan jemaat. Tapi kita, pengurusnya yang tidak sepenuh hati mengabdi,” kata Pastor Kornel pada suatu Sekolah Minggu di kampung itu. 

Sampai di depan rumah dengan nomor 13, Pastor Kornel berbincang-bincang dengan pemilik rumah. Sesudah beramah-tamah di ruang tamu, Pastor Kornel punya fi rasat lain dari halaman belakang rumah tersebut. “Boleh saya lihat pekarangan belakang rumah?”. 

Meski sempat ragu-ragu, si pemilik rumah akhirnya setuju. Pastor Kornel langsung mengarahkan pandangan ke sebuah kandang. Pastor Kornel pun semakin curiga, kandang yang serba tertutup tanpa bahana suara hewan ternak. Alangkah kagetnya Pastor Kornel setelah membuka kandang tersebut. Yanto tanpa busana sehelai benang pun, meringkuk dengan tangan serta kaki terpasung. Rambut Yanto sudah panjang tak karuan. Sekujur tubuhnya berubah warna hitam legam dan mengeluarkan aroma busuk. 

Amarah Pastor Kornel meledak. Dia terbingungbingung dengan apa yang dia saksikan saat ini. Kemarahan Pastor Kornel sudah tak tertahan. Dia meminta pemilik rumah untuk melepas pasung yang membelit Yanto. Si pemilik rumah menolak dengan amarah yang juga meledakledak. 

Tidak sampai setengah jam setelahnya, Pastor Kornel sudah bertamu di rumah pemuka Adat, mbah Reka. Pastor Kornel bersikukuh untuk melepaskan Yanto dari jerat pasung dan atap kandang. Mbah Reka dengan enteng menjawab. 

“Tidak bisa. Anak pendatang itu sudah bikin kacau kampung ini. Dia gila. Sakit jiwa. Kita mau dia mati. Mati perlahan-lahan lebih bagus”. Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut mbah Reka membuat Pastor Kornel marah sejadi-jadinya. “Saya akan pulang ke Jawa, mencari bala bantuan. Yanto akan saya lepaskan dari pasung-pasung itu. Manusia macam apa kalian ini.” 

*** 
DUA bulan setelah kepulangannya ke Pulau Jawa, Pastor Kornel kembali ke dermaga pulau Rote. Bersama lima orang berjubah putih-putih dan empat personel polisi, Pastor Kornel memimpin misi membebaskan Yanto. 

Melihat seragam coklat kepolisian diapit lima pastor, si pemilik rumah tidak bisa bilang tidak. Yanto dilepaskan dari pasung. Dikeluarkan dari kandang kambing dengan kondisi tubuh kurus kering tinggal tulang. Pastor Kornel yang membantu pembebasan Yanto sudah tidak peduli dengan aroma busuk yang dihasilkan tubuh Yanto. Saat peristiwa pembebasan Yanto, mbah Reka tidak nampak batang hidungnya. 

Sebelum diboyong ke Pulau Jawa, Yanto diurus sebaik mungkin oleh tim Pastor di sebuah bilik penginapan. Satu kali lagi, Yanto dimanusiakan selayaknya manusia. Di sesi potong rambut, berhambur keluar ulat belatung dari luka kepala Yanto yang membusuk. Pastor Kornel menangis saat membubuhkan obat ke belahan luka yang nyaris menampakkan isi kepala. 

*** 
DI Kota Banyumas, Yanto membuka usaha warung internet. Sejak pertama kali menapaki kota tersebut, Yanto tidak bisa berbicara. Yanto hanya bisa menuliskan masamasa kelam di kampung nan jauh di sana lewat medium kertas dan pena. Sebelum kembali ke Pulau Rote, Pastor Kornel menyambangi warnet milik Yanto. 

Saat saling melepas kepergian, Yanto menyodorkan setumpuk kertas berukuran A6. Di halaman paling depan tertulis sebuah kalimat dengan tinta tebal. “Bacalah, wahai Saudaraku, sesampainya di Pulau tujuanmu.” Pastor Kornel dan Yanto saling memeluk erat. Pastor Kornel memberi kabar kepada Yanto bahwa masa tugasnya di Pulau Rote dinaikkan menjadi 10 tahun. Pastor Kornel berkali-kali minta maaf bila dalam waktu yang sangat lama tidak akan bisa mengunjungi Yanto. 

*** 
DI atas Kapal Laut menuju Pulau Rote, Pastor Kornel tak tahan hendak membaca tumpukan kertas yang diberikan oleh Yanto. Perjalanan kapal laut yang dapat memakan waktu berhari-hari sebelum sampai tempat tujuan, membuat Pastor Kornel mengingkari janji. Tumpukan kertas dibaca satu per satu. Isinya sungguh di luar nalar kemanusiaan. 

*** 
“SAYA sedang dalam perjalanan pulang dari rumah kawan setelah berunding akan menjadi nelayan. Di persimpangan jalan, Saya melihat mbah Reka bersama komplotannya sedang memperkosa gadis perempuan yang masih menggunakan seragam SMP. 

“Saya berteriak, dengan harapan komplotan itu akan menjauhi gadis yang sudah tidak berdaya tersebut. Dari Belakang, saya rasa hantaman kayu balok mendarat ke tengkuk. Tidak lama setelah saya jatuh, komplotan itu memukuli saya tanpa jeda. Mbah Reka datang menghampiri, tangan kanannya sudah berada di leher saya. Cekikannya luar biasa kuat. Saya rasakan tenggorokan ini remuk. Menelan tulang jakun sendiri sungguh tidak menyenangkan. Setelah itu saya diseret ke kebun jagung, tidak jauh dari situ”. 

“Saya masih sadar, saya pula mendengar rencana mereka selanjutnya; Membunuh gadis malang tadi dan membuang jasadnya ke laut. Rencana kedua mereka adalah membunuh Mbah Toyo, pesaing Mbah Reka dalam ilmu penyembuhan di kampung. Mbah Toyo juga merupakan kerabat terakhir yang dimiliki gadis malang tersebut. Mungkin sekira satu jam saya ditinggal di kebun Jagung itu. Komplotan itu kembali lagi, mereka langsung mengelilingi saya. Yang saya ingat, saya dihantam lagi dengan kayu balok”. 

“Saat terbangun, saya berada di dalam sebuah kandang. Saya kira ini adalah kandang kambing. Dan itu betul kiranya. Saya tidak bisa bergerak bebas. Tangan dan kedua kaki saya terpasung kayu balok. Pemilik kandang ini rupanya masih memiliki rasa iba. Setiap pagi, dia memberikan saya setumpuk daun basah untuk dimakan.” 

“Tanpa alas atau bantal satu barang pun. Saya mesti tidur di atas genangan air kencing dan kotoran saya sendiri. Rasa-rasanya nyaris seperti seekor Kambing. Tapi, seekor kambing masih punya sedikit rasa bebas, setidaknya untuk merasakan hangatnya sinar matahari.” 

“Sesekali ada yang berkunjung. Mereka memanggil saya dengan sebutan Kambing hitam. Mereka tidak sepenuhnya salah, warna kulitku memang berubah menjadi gelap selama terkurung di sini. Lagi pula saya juga sudah tak bisa menjawab ledekan mereka. Suara yang keluar dari mulut ini terdengar seperti orang yang sedang tersedak batu sebesar genggaman tangan dewasa.” 

“Hari demi hari, saya hanya berbaring dan duduk bila terpaksa memakan dedaunan. Akal sehat saya juga mulai pudar. Saya sempat terpikir untuk menerima fakta dari orang-orang sekitar bahwa saya merupakan seekor Kambing. Seekor kambing yang dikutuk menjadi objek humor mereka.” 

“Wahai Saudaraku. Tanpa kedatanganmu, saya ini hanya akan terus hidup setingkat hewan ternak. Kata-kata terimakasih saya kira tidak akan cukup. Saya hanya bisa berharap pada Tuhan, wahai Saudaraku, diberkahilah umur panjang agar bisa membantu orang-orang bernasib serupa saya”. 

*** 
SETELAH membaca setumpuk kertas tersebut, sekonyong-konyong Pastor Kornel menangis. Pastor Kornel menyesal tidak bisa hadir lebih cepat. Tumpukan kertas itu kini telah menjadi bagian dari lautan. Setumpuk kertas, berkisah tentang manusia yang disejajarkan dengan hewan ternak. 

Indra Kurniawan. Lahir di Sorong, Papua Barat. Mahasiswa Program Studi Komunikasi di Kota Bandung. Novel perdananya segera terbit dengan tajuk Keturunan Terlarang

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Indra Kurniawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 5 November 2017 

0 Response to "Kambing Hitam"