Karna Maut, Manusia Ingat Diri-Nya - Aku, Kau, dan Bayang-bayang Revolusi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Karna Maut, Manusia Ingat Diri-Nya - Aku, Kau, dan Bayang-bayang Revolusi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Karna Maut, Manusia Ingat Diri-Nya - Aku, Kau, dan Bayang-bayang Revolusi

Karna Maut, Manusia Ingat Diri-Nya

Karna maut, manusia ingat diri-Nya
Di selokan-selokan gelap penuh bau busuk kotoran
kepongahan merayap ke ubun-ubun manusia
merusak akal sehat dan merobek pintu kalbu.
Di lorong-lorong remang bau alkohol naik ke udara
melebur dalam deru napas berbau
dan ajal setia menunggu.
Karna maut, manusia Ingat Diri-Nya
Pada akhirnya semua akan pergi jauh
bahkan lebih jauh dari Yogya-Jakarta
dengan duka di dalamnya.
Di atas kuburan aku melihatmu tafakur
sembari kausebut diri-Nya
berkali-kali hingga mulutmu berbusa.
Tapi maut tak bisa ditolak tibanya
ia datang kepada siapa suka
dan kita manusia cuma makhluk lemah tanpa daya.
Karna maut, manusia ingat diri-Nya!

Yogyakarta, Oktober 2017

Aku, Kau, dan Bayang-bayang Revolusi

Kita selalu, dan selalu
melihat dan mencatat
setiap orang yang dimatikan
baik oleh kelaparan maupun penindasan
di jalan raya dan kolong-kolong jembatan
atau di pedalaman dan pesisir.
Kita selalu, dan lagi selalu
menjadikan apa yang kita lihat
sebagai objek kala berdoa kepada Tuhan
atau menjadikan apa yang kita catat
jadi puisi basi yang sarat estetik-liris
atau menjadikan keduanya
sebagai bahan perdebatan-perdebatan kolot
di indekos, kedai kopi, atau Facebook
tanpa ada penyelesaian!
Dan jika sudah tiba saatnya
tibalah para turis indonesianis
menulis sejarah, karakter, dan seluk-beluk kebobrokan
orang-orang orient di negara dunia ketiga
dan kita, akan selalu begitu
memuja mereka melebihi seorang nabi!
tanpa kita mengerti kepentingan mereka
tanpa kita tahu siapa di belakang mereka.
Hidup kita digandrungi kepongahan
dan pendakuan bahwa kita adalah intelektual
bahwa kita adalah seniman
bahwa kita adalah aktivis
bahwa kita adalah ulamabahwa kita adalah guru
bahwa kita adalah orang paling beradab
tapi mengapa kita takut, dan selalu takut
pegang senjata dan membedil kepala tentara atau penguasa atau pemerintah
atau saudara sendiri yang berkhianat
yang melahirkan kelaparan dan penindasan?
Bukankah kita dilahirkan untuk orang lain?
Bukankah kita tumbuh dan berkembang bersama oranglain?
Bukankah kita mati pun akan membutuhkan orang lain?
Mengapa orang lain, yang sepanjang hidupnya dihadap-
kan dengan kemiskinan, penindasan, pembantaian,
pemerkosaan, kita lupakan?
Apakah mereka membuat kita takut?
Apakah kesakitan mereka akan melunturkan pendakuan
diri kita?
Apakah hidup mereka sama sekali dalam peradaban
yang kacau kini?
Kita memang, dan begitulah
hidup dalam bayang-bayang ketidakadilan
dan bayang-bayang revolusi!

Yogyakarta, Oktober 2017

- Yasir Dayak, kelahiran Danau Sembuluh,Kalimantan Tengah, ini mahasiswa SastraIndonesia Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.(44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yasir Dayak
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 5 November 2017

0 Response to "Karna Maut, Manusia Ingat Diri-Nya - Aku, Kau, dan Bayang-bayang Revolusi "