lapislazuli bengali - baju lebaran - non-megaphone - wirid duri - teluk belanga inderasakti - kepada batik, sajak berbisik - sekanak-senandika - selimut dari natuna | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
lapislazuli bengali - baju lebaran - non-megaphone - wirid duri - teluk belanga inderasakti - kepada batik, sajak berbisik - sekanak-senandika - selimut dari natuna Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

lapislazuli bengali - baju lebaran - non-megaphone - wirid duri - teluk belanga inderasakti - kepada batik, sajak berbisik - sekanak-senandika - selimut dari natuna

lapislazuli bengali

biru sehelai ibunya
mengapung di buthidaung
sirah merona selembar adik
bayi teramat cantik
terkulai ngambang
sepanjang benang darah
ditenun kembali sungai naf
dan rahang-rahang rakit pun
menjahit gelora rakhine utara
namun satu per satu pengungsi
aus, putus, seperti butir-butir
kancing jatuh dari seragam
serdadu gergasi di barak tangsi
semua muara mengulur seutas
demi seutas bangkai gugur
di pepohon lagoon, membuah
buih yang putih, memberi arti
pada setangkai mati
maut menyumbang sedu sedan
dengan menimbun kematian
di ranjang pelaminan sungai
yang senantiasa lengang landai
sisa-sisa perahu pelarian
kadang jadi betapa ringan
terbang serendah bayang
bayang, seindah layang
layang, menggores batas
batas langit bangladesh
di lazuardi sebongkah tubuh
bocahnya tergantung anggun
berayun-ayun gerun bagai
seuntai kecubung kelabu
lapislazuli bengali telanjang,
yang tembuspandang: dia tak
hendak turun, belum mau turun
tetapi sang kanak tahu perahu
perahu akan segera bersandar
menggulung benang bekas
sungai sehelai ibu, selembar
adik, seonggok kehilangan
yang mesti dipakai demi
hari depan jatidiri yang tercela
tuhan oh tuhan, bisik nak
bujang ke awang-awang,
bila giliran-Ku merajalela
entah di kemah-kemah bangla
atau remah-remah bianglala

2017


baju lebaran

tuhan beri baju lebaran
lebar selebar-lebarnya
kain luas bersih welas asih
warna nirwana maha putih

tuhan kasih satu syawal
dengan satu-satunya tanda
pengenal: kau sang mula
awalilah semua muasal

tandus sawah ladangmu
sekudus mendiang ibu
barah di balik empedu adalah
syahdu zarah mudik ke darah

ruang tiada terpindai
rindu tak lagi mengurai
purna karena fitrah
luruh seluruh luruh

tuhan beri baju lebaran
lebar selebar-lebarnya
di sana sembunyi sedu sedan
milik tubuh kecut penuh luka


merangkak dengan sajadah
dari kedai ke kedai
oh setahun sekali
hanya setahun sekali

tuhan alangkah mewah
anak takbir bersama kiyai
istri lahir sebagai bayi
suami luhur seperti priyai

pun tangan yang selalu zalim
memeras airmata orang lain
tiba-tiba rajin dan takzim
memohon maaf lahir batin

amin

2017

non-megaphone

apa yang mau
kau dengar
perihal myanmar

nama tuhan yang
tak sempat keluar
dari leher-leher
dipenggal

dengih tasbih wirathu
di antara serpih
serpih empedu
yang telah hijau
oleh langau

rengek bayi
dibungkam
darah hitam
tetek suu kyi

wirid api menyamak
kulit tulang-belulang
sehangus langit
langit madrasah

atau parau serak
jerit allah allah
lengang kabus
dendam atta ullah

puisi non-sense
di rakhine
diplomasi non-megaphone
setelah yangoon

apa yang mau
kau percaya
tentang rohingya

cahaya?

maka diamlah
berhenti menebar tulah
makin tumpah setakat
kata, kata, kata
kau hanya jadi

junta

2017

wirid duri

anak aku tahu diri
ayah ia hanya duri

tiap ia jumpai aku
genap aku lukai ia

pada sembilu aku
rindu selalu kata ia

dari mata pisau aku
doa mengasah ia

bila aku terlalu tajam
jangat ia menganga

sakit ia menujum pejam
jerit aku seharum bunga

raunglah tebing tinggi
erang aku geming seligi

kelak kau mudah sembuh
dari onak yang tersentuh

anak aku mengerti
apa makna sajak ini

sekuntum mawas diri
bukan mawar gerigi

2017


teluk belanga inderasakti

: ardadan

dari dermaga, pompong rimbun mengurai jelaga laut
peluh terakhir huyung dalam pantun sampiran kabut
rembulan jembia nyisip di pinggang menara masjid
azan menggenggam luka penyengat tiada terjahit
segala diam diam-diam; makam, gurindam, malam
dahan nam-nam menyimpan gagak bertanjak hitam
tinggal hasrat angin utara menabuh leher nelayan
setipis kulit kompang terkikis batuk bedengkang
menuju pelantar adakah sepi sungguh-sungguh sepi
dahak maut kerak lumut takkan setebal ampas kopi
masih sedap bual melelang naskah-naskah lama
mencabar nafkah hari esok yang tak lagi sama
walau azan menetes dari tiap ceruk luka menganga
kau lanun atau laksmana: sama dalam teluk belanga

2017


kepada batik, sajak berbisik

semua yang kusangka epik
padamu rupanya semata titik

tak bunyi baris hiperbolaku
digores sunyi garis polamu

kelam kalam leleh sempurna
dalam malam lilin sederhana

alinea lupa mengurai hening
o betapa lena dibelai canting

kian kau umbar cahaya benang
semakin terbakar daya bayang

kata-kata durhakai janji
tiba-tiba mendustai imaji

masihkah pantas aku berkain
dengan majas dan lain-lain

baru kuikat sebait dua diksi
kau sudah kuliti serat berisi

permisi, permisi
apakah kau puisi

2017


sekanak-senandika

: rida k liamsi

akan tetapi, datuk
tikam cintamu belaka
yang masih sudi
menyeka retak ceguk
mangkuk waktu kami
kita redakan sebentar
asma semua magma
tenung gunung-gunung
sihir paling ros, mimesis kabut
mahmud dalam mahmud

larut sesaat dalam nikmat
gelas demi gelas mintakat
membilas pahit langit-langit
agar surup terhirup sakit
supaya sedap sesapan dekap
menyuling nasib yang gelap

bila lebih dahulu
kau bersurai menyangrai
biji-biji janji di lain kaji
kau tahu kami
selalu di sini
menjaga bunyi
seandai canai
perenggan cawan setangkai
tiada lengking
semata denting
sendok menggasing
sendu masing-masing
hingga senja
menyangga meja
kekasih membara
dirayu-goda teja

sayap kelekatumu
jatuh satu-satu
ke pangkuan tungku tungkaiku
“lampu bukan lagi tumpu,
bila tapak tak terlacak…”

digerus budi bahasa
sehalus robusta dan arabika
kata-kata tetap tak berganjak
dalam kehendak kopi sekanak
secangkir renyai cuma
mengusir jejak yang lenyai
ke dasar-maha-dasar puisi
adapun bubuk-bubuk sepi
diaduk diseduh mimpi
akan tetapi…

2017


selimut dari natuna

semalam selimut anaknya
membelai-belai pulau ranai
asyik masyuk berderai

semalam selimut anaknya
selembut ruh perahu
melayani bayang nelayan

semalam doa lelah
berbantah-bantah semesta
saling cintakan entah

semalam sepasang puting
dada jembatan pering
hanya susui laut kering

ikan-ikan duduk bersila
di kemah selimut anaknya
berebut mengenalkan nama

presiden telah tiba
kata tongkol dan todak
ia datang dari kabut

membawa tanda mata
untuk kanak-kanak
yang hafal biota laut

dalam senyum mutumanikam
anaknya kayuh sepeda gunung
membonceng tuhan maha diam

semalam selimut anaknya
melipat jasad ditenung
wabah chikungunya

2017

Ramon Damora lahir di Muara Mahat, Kampar, Riau, 2 April 1978. Benang Bekas Sungai (2017) adalah buku puisi terbarunya. Bermastautin di Batam dan Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ramon Damora
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 4 November 2017

0 Response to "lapislazuli bengali - baju lebaran - non-megaphone - wirid duri - teluk belanga inderasakti - kepada batik, sajak berbisik - sekanak-senandika - selimut dari natuna"