Lelaki Aneh Figueres | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lelaki Aneh Figueres Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Lelaki Aneh Figueres

LELAKI itu meletakkan kepalanya di depan bangunan bercat merah. Bangunan dengan tembok-tembok menyerupai Alkazar itu berdiri megah di Kota Figueres. Sebelum beranjak dari sana, lelaki itu menghadap kepalanya sejenak. Mungkin merasa ada yang belum sempurna, ia mengambil kepalanya kembali, kemudian memelintir kumis yang bertengger di atas bibir. Kumis yang menyerupai kumis ikan lele. Setelah merasa puas, kepala dengan mata melotot itu ia letakkan lagi di depan bagian bangunan yang seyogianya menjadi menara itu. Yang berbeda, atapnya tidak berbentuk segitiga ataupun kubah, mungkin seseorang sudah menggantinya dengan telur-telur raksasa berwarna putih. 

Setelah semua dianggap selesai, ia berbalik meninggalkan tempat itu. Lelaki itu mulai berjalan di jalanan Kota Figueres dalam keadaan tanpa kepala. Tidak jelas ia sadar atau tidak, jika berpasang-pasang mata menatap heran ke arahnya.

Gala mempercepat langkah, Beltran kecil seperti memanggil-manggil dirinya untuk segera datang. Mungkin sebuah kenaifan mengunci anak berumur dua tahun di dalam sebuah flat. Tapi ia tidak punya pilihan lain, Paul sudah dua bulan tidak mengirimi tunjangan untuk anak mereka. Gala harus keluar agar mereka tidak mati kelaparan. Mempercayai hidup pada seorang penyair adalah kesalahan yang disesali seumur hidup.

Selain pintar merajut kata, Paul pintar merajut asmara dengan beberapa perempuan. Berulang kali maaf sudah diberikan, tetapi lelaki itu tak kunjung berubah jua. Di ujung kesabaran yang bisa diberikan oleh seorang perempuan, Gala menggugat cerai sang suami. Paul segera pulang ke Paris bersama istri barunya, sementara Gala yang berdarah Rusia itu lebih memilih menetap di kota kecil atau mungkin lebih cocok disebut Desa Figueres itu. Masa depan memang tak pernah bisa ditebak, saat ini Gala hampir kehabisan uang di jalanan kota.

Gala meletakkan sebagian pikirannya di flat bersama Beltran, bagian yang lain ikut bersama mantan suaminya ke Paris. Yang menyebabkan ia sangat kesakitan karena hal itu, bagian yang lain lagi ia letakkan di restoran ujung jalan, tadi ia mencoba melamar kerja untuk menjadi pramusaji di sana. Bagian pikiran yang terletak di bagian otak belakang berada di sebuah turnamen banteng, dengan seorang matador berbadan kekar siap berlaga di bawah sana, Alehandro nama sang matador, kerap ia temui belakangan ini. Alehandro yang menari bersama banteng sambil mengayunkan jubah merah.

Sementara sebagian kecil saja dari pikirannya yang ia bawa bersama dirinya saat ini. Karena hal itu pula, ia tidak memedulikan kehebohan yang sedang terjadi di jalanan kota kecil itu. Ia tidak sempat melihat orang-orang yang termangu pada sesosok tubuh tanpa kepala.

Gala berhenti di depan sebuah swalayan dan melangkah masuk, mereka hampir kehabisan roti dan susu. Kehadiran Alehandro tidak bisa banyak membantu. Ada berjibun matador yang bersaing untuk tampil. Lelaki itu harus menyewa motel untuk dirinya sendiri, juga harus makan di sebuah restoran yang menjadi markas para matador. Tanpa bergaul, ia tidak akan memiliki pekerjaan. Tangan Gala meraih sebotol susu yang tersusun di rak. Beltran kecil masih butuh makanan bergizi. Kemarahan Gala pada Paul tidak mengurangi cinta seorang ibu pada putranya.

Mengingat nama Paul, sebuah lubang kembali terbuka di dada Gala. Paul yang selalu menghadiahinya dengan untaian kata-kata manis ternyata tak lebih dari seorang lelaki pengejar birahi semata. Perempuan yang menjadi istrinya sekarang bukanlah perempuan satu-satunya yang pernah ditiduri Paul. Bertahun lalu, Paul mengemukakan alasan karena Gala tidak kunjung hamil, tapi setelah kehadiran Beltran pun, Paul tetap seperti itu, lelaki yang tidak cukup dengan satu cinta.

Yang lebih menyakitkan adalah perselingkuhan Paul yang terakhir kali. Betapa tidak, perempuan yang kini menjadi istri mantan suaminya itu merupakan sahabat karib Gala di klub perempuan kota kecil Figueres. Mereka pernah berbelanja bersama dan menghabiskan waktu di perkemahan musim panas. Tapi, yang terakhir ia lihat, perempuan itu telanjang bersama sang suami.

Setelah memutuskan pisah rumah selama enam puluh hari, Gala melayangkan gugatan cerai. Itulah akhir kisahnya bersama sang penyair terkenal. Setelah kejadian itu, Figueres menjadi terlalu kecil untuk mereka bertiga. Paul dan istri barunya memilih pulang ke Paris. Sementara Gala tetap bertahan. Selain ia sudah tidak punya keluarga di Rusia, perempuan itu telanjur menyukai orang-orang Latin yang berada di sana. Para lelaki yang kerap berjalan sambil menenteng gitar, atau lelaki lain yang mengadu keberuntungan di arena banteng.

Setelah membayar di kasir dengan lembaran euro terakhir yang dimilikinya, Gala berjalan keluar. Di depan pintu swalayan, ia mematung melihat sesosok tubuh tanpa kepala lewat begitu saja di depannya. Tubuh itu berjalan ke arah flat Gala. Spontan bagian pikiran yang bersamanya mencemaskan Beltran.

“Hai, tuan tanpa kepala! Apa yang kau cari di kota kecil ini?” Di hadapan ketidakpercayaan orang-orang yang menatap tubuh lelaki berjas tanpa kepala itu, Gala mencoba menyejajari langkah lelaki itu.

Tubuh itu terus berjalan tanpa memedulikan Gala yang mencoba mengimbangi langkahnya. “Hai Tuan! Apa kota ini membuatmu tuli?”

Lelaki itu memperlambat langkah dan memiringkan tubuh ke arah Gala. Tapi tetap tidak ada jawaban. Gala tidak tahu, lelaki itu sudah memberikan mulutnya untuk siapa.

Seorang lelaki tua memandang sinis, “Oh, perempuan Rusia, aku tak tahu kesialan apa yang menimpamu. Untuk apa kau berbicara pada tubuh tanpa mulut?”

Gala memandang lelaki tua itu sejenak, kemudian berlari kecil kembali mengejar tubuh tanpa kepala itu. “Bisakah aku membantu menemukan kepalamu?” tanyanya tak ingin menyerah.

Tubuh lelaki berjas itu menghentikan langkahnya dan menghadap pada Gala. Tidak bisa dipastikan ia bisa mengerti keterkejutan yang tersirat dari wajah perempuan beranak satu itu. Lelaki itu mengambil sesuatu di balik jasnya. Gala mundur beberapa langkah, ia sedikit mengkhawatirkan gerakan tangan lelaki itu, bisa saja itu sebilah pisau atau sebuah pistol. Mungkin saja kehadiran Gala sudah sangat mengganggu.

Sebuah benda terbuat dari kulit berwarna cokelat kini berada di tangan lelaki paling tidak masuk akal di Figueres itu. Kelegaan terpampang jelas di roman Gala. Lelaki itu mengeluarkan kartu kredit dan selembar kertas. Kemudian mengangsur benda tersebut ke tangan Gala. Lalu lelaki itu meninggalkan Gala yang masih terpaku melihat angka kosong satu sembilan belas delapan sembilan pada kertas yang kini sudah berada di genggamannya. Ia ingin mengejar lelaki itu untuk menanyakan beberapa hal, tapi pikirannya yang bersama Beltran datang memberitakan kalau anaknya sedang menangis ketakutan di dalam flat kecil mereka.

Gala memasukkan kartu kredit dan kertas itu ke dalam tas tangannya, kemudian ia melangkah cepat ke arah flat yang berada di sebelah kiri jalan. Tangga-tangga itu terasa sangat panjang untuk dinaiki. Satu-satunya lift yang dimiliki bangunan itu sudah tidak berfungsi lagi.

Sesampainya di lantai tiga, ia langsung membuka pintu bernomor tiga ratus tiga. Sungguh aneh nomor tersebut, semua orang juga tahu, bangunan itu tidak memiliki ratusan kamar. Mungkin itu tipuan lain yang direncanakan oleh pemiliknya untuk menjebak calon penyewa.

Tangisan Beltran langsung menyambut Gala, ia berjalan cepat menyongsong sang putra. Beltran terduduk dengan mainan yang berantakan di dekat sofa satu-satunya yang dimiliki ruang itu. Ia letakkan belanjaan dan tas tangan begitu saja di samping anaknya yang menangis. Lalu digendongnya anak kecil itu sambil menyanyikan lagu Oiy moroz, moroz, tentang permintaan tulus seorang suami yang ingin pulang pada istrinya. Gala mengutuk pikiran yang berada bersama mantan suaminya yang memilihkan lagu itu untuk meninabobokan Beltran.

Seperti tersihir, Beltran kecil langsung terdiam, lalu mulai terkekeh-kekeh menyimak syair lagu. Dan anak itu mulai menepuk-nepuk pipi Gala. Belum habis syair dilantunkan…

“Katakan padaku, apa yang telah kau lakukan bersama laki-laki itu?” suara Alehandro terdengar dari arah belakang Gala. Ia memang telah memberikan duplikat kunci flat pada lelaki matador itu. Seperti angin yang berembus, gosip pun menyebar cepat di sudut-sudut Figueres. Gala berbalik memandang lelaki yang terlihat emosi di ujung ruangan.

“Kau gagal lagi membunuh banteng-banteng itu?”

“Jawab dulu pertanyaanku, Perempuan lacur!”

Bentakan Alehandro membuat Gala mempererat pelukan pada Beltran,
“Lelaki mana yang kau maksud?”

“Lelaki tanpa kepala yang berjalan-jalan di kota.”

Mata Gala tak sengaja melirik tas tangan yang masih tergeletak di lantai flat. Hatinya menjadi sedikit kecut. Lelaki di depannya mampu membunuh seekor banteng. Seperti mampu menangkap isyarat mata Gala, Alehandro bergerak menuju tas tangan yang tergeletak di lantai. Ia mengeluarkan isinya dengan sembarangan dan melempar sembarangan. Sebuah kartu kredit menarik perhatiannya. Setelah dilihat sejenak kartu berwarna keemasan itu, wajah Alehandro memerah, tatapannya ingin menelan Gala bulat-bulat.

Alehandro mengambil Beltran dengan paksa, kemudian meletakkannya di atas lantai. Anak kecil itu mulai menangis lagi. Dengan kasar, lelaki matador itu menyeret Gala ke tempat tidur. Saat itu jam dinding menunjuk angka satu namun berbunyi dua belas kali. Lelaki itu melempar Gala ke atas tempat tidur, sementara Beltran menangis semakin kencang.

Jarum jam dinding tiba-tiba berputar kencang seperti ingin membunuh angka-angka yang berada di sana. Dari pusaran itu keluarlah sepasang tangan, kemudian sepasang kaki bergerak-gerak ingin membebaskan diri. Tak lama, sebuah badan keluar dari pusaran jam dinding itu. Ternyata itu badan tanpa kepala yang tadi memberikan kartu kredit pada Gala. Ia meletakkan angka tiga yang sempat terjatuh pada tempatnya semula.

Lelaki itu mengambil sebuah guci yang berada di dekat sofa dan memukul kepala Alehandro yang masih terfokus pada Gala. Tak siap mendapat serangan, sang matador jatuh menghantam lantai. Gala ketakutan menjauh dari tubuh kekasihnya.

Tak puas sampai di situ, lelaki tanpa kepala mengambil sebilah pisau dan mulai mengerat lengan Alehandro dan ditempelkan ke dinding. Gala berlari mengambil Beltran yang masih menangis dan memeluk anaknya itu.

Alehandro terbangun dan meminta tangannya dikembalikan. Tidak peduli pada protes Alehandro, lelaki tanpa kepala malah mengerat mulut orang itu dan meletakkan di dinding, tepat di atas tapak tangan yang telah dilekatkan terlebih dahulu. Mulut itu terus protes mesti sudah melekat pada dinding.

Bosan pada Alehandro, lelaki itu menuju Gala yang menangis sambil memeluk Beltran. “Jangan menangis, Sayang. Yuk, temanin aku mengambil kepalaku kembali. Setelah itu kita ke Paris,” ujar sebuah suara yang datang dari dalam tubuh lelaki itu, seraya mengulurkan tangan pada Gala.

Bagian dari pikiran Gala yang ikut bersama Paul ke Paris mencegahnya untuk menerima ajakan tubuh tanpa kepala.

“Oh, aku akan mengajakmu ke Amerika saja.”

Seketika dinding dan perabotan flat kecil itu berubah merah jambu. Mereka pergi, diiringi mulut Alehandro yang terus memohon untuk dilepaskan dari dinding.


Ida Fitri, lahir di Bireuen, 25 Agustus. Sekarang bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur. Kumpulan cerpennya berjudul Air Mata Shakespeare. Menjadi salah satu kontributor buku antologi puisi Kopi 1.550 mdpl.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ida Fitri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 18 - 19 November 2017

0 Response to "Lelaki Aneh Figueres"