Lukisan Wulan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lukisan Wulan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:00 Rating: 4,5

Lukisan Wulan

AKU adalah sosok wanita dalam salah satu lukisannya yang belum selesai. Ia memberiku nama Wulan karena mataku berwarna kelabu dan menyala dalam kegelapan seperti layaknya bulan. Entah mengapa dia membuat warna mataku abu-abu. Mungkin saja karena malam menjadi waktu yang dia pilih saat aku pertama kali membuka mata dan ia menyambutku. Ia meniru bulan putih bertubuh tambun yang melayang di atas kepalanya.

“Kau tahu? Kau sangat cantik tapi kenapa tampak begitu menyedihkan?” ucapnya pada kanvas setelah kami bertatap sapa.

Ia menjadikan aku seorang wanita dengan wajah sendu seakan membawa kesedihan sejuta umat di dunia. Mata kelabuku tampak terluka. Di setiap sentuhan kuasnya, dia menitipkan luka. Ia benar-benar tidak adil padaku. Aku baru saja terlahir di dunia. Baru beberapa menit aku menghirup udara malam yang bercampur dengan wangi tanah sehabis hujan—dengan hidung yang dia ciptakan di atas bibirku, tentunya. Namun, ia sudah membuatku tidak sempat lagi menghirup udara karena rasa teriris-iris yang menyayat setiap senti kulit wajahku.

Ia sengaja membuatku menarik untuk dipandang tapi tidak membiarkan orang lain memandang terlalu lama. Kecantikan yang pelan-pelan memberi luka. Aku yakin siapa saja yang melihatku—nanti jika ia sudah selesai melukisku—pasti menitikkan air mata.

Ia tampak ragu melanjutkan gerakan tangannya. Kegamangan itu jelas terlihat di raut wajahnya. Keningnya berkerut, menatapku dalam. Cukup lama kami saling memandang hingga akhirnya ia yang kalah. Ia yang pertama kali melepas pandangan matanya dariku.

Tangannya berhenti melukis. Keduanya kemudian luruh di sisi tubuhnya. Pundaknya naik turun perlahan namun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Aku tahu ia menangis. Padahal ia baru membuat wajahku—tanpa rambut dan tubuh di bawahnya. Hanya wajah saja!

Aku tahu siapa ia. Teramat mengenalnya dari luar hingga dalam. Semua cerita perihal kehidupannya telah tersalur melalui kuas miliknya. Ia tampak begitu tegar dari luar. Bertindak seolah tidak butuh orang lain. Ia wanita paling mandiri yang pernah aku kenal. Namun kenyataannya, dibalik tembok yang dibangun itu, ada sesosok tubuh yang meringkuk kesakitan. Wanita yang tengah menundukkan kepala di depanku ini hanyalah seorang wanita yang kesepian. Di umurnya yang sudah melewati kepala tiga, ia hidup sendiri. Bukan berarti ia tidak laku. Paras ayunya tidak mungkin dilewatkan oleh lelaki-lelaki di luar sana.

Ia sudah pernah menikah saat umurnya masih belia. Dua bulan setelah ia merayakan ulang tahunnya ketujuh belas, ia terpaksa harus menghadap penghulu dengan seorang pria yang tidak ia cintai. Ia harus merubah statusnya menjadi istri seseorang. Pria yang berada di sampingnya itu merupakan teman sekolahnya. Ketika teman-teman sekolahnya sibuk dengan persiapan menghadap ujian nasional, ia dan pria itu malah sibuk dengan sebuah pernikahan yang mendadak.

Ia sudah melakukan kesalahan. Tidak hanya sekali sehingga kesalahan-kesalahan itu akhirnya berbuah, tinggal menunggu matang di dalam rahimnya. Ia dan pria itu harus putus sekolah. Meninggalkan jauh-jauh mimpi, dan cita-cita. Bahkan keduanya dianggap mencoreng muka keluarga masing-masing sehingga setelah menikah mereka harus disingkirkan ke sudut kota. Tidak ada kebahagiaan seperti pernikahan-pernikahan orang lain. Hanya ada tangis, caci maki dan berujung sebuah pengusiran.

Beberapa bulan mereka hidup berdua dengan saling benci satu sama lain. Miris memang, mereka yang mulanya tertawa bersama, melakukan kesalahan dengan senyum sumringah di bibir, berubah jadi tidak pernah saling bertegur sapa. Tidak ada kehangatan. Hubungan mereka dingin. Sangat dingin sampai tulang-tulang mereka sakit. Seolah tidak cukup penderitaan yang menimpa, petaka lain muncul. Kematian ikut campur dalam hidupnya. Nyawa yang dia bawa di dalam perutnya pergi.

“Kenapa aku harus menikahimu jika akhirnya ia mati!”

Pria itu menuding perutnya yang berselimut jarik. Saat itu ia masih tergolek lemas di sebuah kamar rumah sakit. Tidak ada keluarga yang menengok. Hanya mereka berdua. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menangis.

“Padahal aku masih ingin kuliah. Aku mau jadi dokter. Demi kau, aku harus mengorbankan sekolahku tapi apa yang kau perbuat? Kau membunuhnya! Kau benar-benar membawa kematian di sekitarmu!”

Kalau ia punya kekuatan, ingin rasanya ia berteriak bahwa ia pun harus mengorbankan masa mudanya. Ia ingin jadi pelukis tapi semenjak menikah, ia tidak pernah memegang kuas lagi. Ia terlalu sibuk dengan kesedihannya sehingga lupa dengan cita-citanya.

Tak lama setelah hilangnya calon bayi itu, ayah si bayi menyusul. Sebuah bus menghantam tubuhnya saat pria itu dalam perjalanan pulang dari pekerjaannya menjadi kuli panggul di pasar. Jarak yang tidak terlalu jauh dari kematian sebelumnya, membuat orang-orang di sekitarnya berkasak-kusuk mengenai perempuan itu.

Ia benar-benar membawa kematian di sekitarnya.

Berita itu sampai di telinga orang tua si pria. Mertuanya tidak mau lagi menyanggapnya sebagai menantu. Mereka bertingkah layaknya orang yang tidak saling kenal. Sementara orang tuanya sendiri tidak pernah menghubunginya lagi. Mungkin saja berita itu sudah sampai ke telinga mereka juga.

Kabar yang berhembus beberapa waktu setelah itu, membuat ia benar-benar kehilangan dunianya. Ia tidak tahu lagi bagaimana untuk berpijak. Kedua orang tuanya meninggal oleh kawanan perampok yang menyatroni kediaman mereka. Orang tuanya ditemukan tewas di tempat.

Kematian demi kematian datang silih berganti. Seperti angkot yang selalu datang mengangkut para penumpang yang sudah menunggu.

Di sudut kota, ia hidup sendiri. Julukan sebagai perempuan dengan kematian di sekitarnya, membuat ia dikucilkan oleh tetangganya. Bahkan ia terpaksa harus pindah ke tempat yang jauh dari rumah-rumah penduduk karena desakan mereka. Mereka tidak membiarkan anggota keluarga mereka dekat dengan perempuan itu. Rumah dengan kebun yang mengelilinginya, menjadi pilihan untuk melanjutkan sisa hidup yang terasa sia-sia.

Ia hanya sedang menunggu kendaraan yang membawanya menuju kematian. Namun, kematian yang dia tunggu-tunggu masih enggan menghampirinya lagi.

Umurnya belum genap delapan belas tahun, tapi ia sudah menjadi janda, pernah keguguran, dan hidup sebatang kara. Ia telah mengalami segala hal menyakitkan terlahir menjadi seorang wanita. Hanya malam dan bulan yang menjadi temannya. Hanya mereka berdua yang membuatnya tenang.

Ia pun mulai melukis lagi. Tidak ada yang tahu bahwa perempuan yang mereka sebut sebagai pembawa kematian itu adalah seorang pelukis. Ia melukis sembari menunggu.

Ia mengangkat kepalanya ketika mendengar bunyi dari ponsel yang tergeletak di meja. Bola matanya yang berwarna hitam sempat menatapku sedetik lalu mengalihkan pandangan pada ponselnya. Ketika menatap layar ponsel, sebuah senyum tipis muncul di bibirnya.

Sepuluh tahun berlalu dalam penantian, ada yang berubah pada hidupnya. Akhir-akhir ini ia sedang menjalin hubungan dengan kurir pengirim lukisannya. Pria itu mengetuk pintu hatinya yang sudah lama ditutup dan perlahan berhasil membukanya. Pria itu tidak peduli dengan rumor yang berhembus mengenai si pelukis dan kematian di sekitarnya. Mereka dengan santai memadu kasih, menghantarkan kehangatan satu sama lain. Dengan pria itu, pelukis kesepian tidak lagi sendirian. Dengan pria itu, segala yang salah pun berubah menjadi benar. Perlahan ia mulai berharap supaya kematian yang ada di sekitarnya pergi menjauh.

Jangan jemput aku dalam waktu dekat. Begitulah doa yang selalu dia panjatkan setiap malam.

Ia menghapus butir-butir air mata yang membasahi pipinya kemudian membuka pesan yang datang dari pria itu. Sesaat setelah pesan terbuka, senyuman di bibirnya perlahan menghilang. Pesan yang tertulis di layar membuat isi kepalanya tiba-tiba kosong. Ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja lalu menatapku dengan mata berkabut.

Ia meraih kuas lukisnya kembali lalu mulai menggoreskan kuas di atas bidang kanvas, melanjutkan untuk melukisku. Aku penasaran apa yang akan dia lakukan padaku. Aku merasakan tangannya yang memegang kuas bergetar.

“Wulan,” panggilnya. Kini suaranya yang bergetar. “Ia ingin aku menjadi pembunuh,” lanjutnya sambil mengelus perut dengan satu tangannya yang bebas.

“Kenapa aku selalu terhubung dengan kematian?”

Dia bertanya padaku tapi aku tidak sanggup menjawab. Yang bisa kulakukan hanya balas menatap matanya dengan mataku yang berwarna abu-abu.

Dapat kurasakan bahwa suaranya terdengar pilu. Sejenak tangannya yang melukis berhenti kemudian ia bergerak lagi. Aku bisa merasakan kesakitan di setiap goresannya. Selama jari-jari tangannya menari di atas kanvas dengan penuh emosi, saat itulah aku merasakan sakit yang luar biasa.

Dia memilih cat berwarna merah lalu mencoret-coretnya di sekujur tubuhku. Ingin rasanya aku menghentikannya. Aku tidak suka warna merah itu. Merah itu seperti bercak darah. Kini tubuhku penuh warna merah. Tidak puas dengan tubuhku, dia mewarnai lantai dengan warna merah. Aku merasa sakit tapi aku tidak akan mati karena aku memang benda mati.

Setelah puas dengan lukisan yang dia hasilkan, ia terkekeh pelan lalu terbahak-bahak sendiri. Ia menunjuk-nunjuk aku seperti mengejek. Ia pasti sudah gila! Perlahan aku melihat tubuhnya luruh di lantai. Ah, aku lupa memberi tahu namanya. Namanya Wulan, sama seperti nama yang dia berikan untukku. Lalu ia juga berakhir dengan kondisi yang sama sepertiku. *** 

Surakarta, 27 Februari 2017

Niken Hergaristi, lahir di Surakarta, 29 September 1992. Cerpennya pernah dimuat di Solopos, Padang Ekspres, dan Gogirl! Magz.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Niken Hergaristi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 12 November 2017 

0 Response to "Lukisan Wulan"