Mbah Dlimo | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mbah Dlimo Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Mbah Dlimo

BILA kau ingin bertemu Kiai Amuni, datanglah ke Warung Kopi Kotok di sore hari, sekitar jam empat sampai jam lima sore. Di sana, akan kau dapati lelaki tua, dengan jenggot yang sederhana, memakai sarung palekat, baju batik dan songkok kuno, duduk di pojok warung dengan wajah sumringah. Betul, dialah Kiai Amuni. Orang sini biasa memanggilnya Mbah Dlimo, lantaran ia pemilik pohon delima yang ajaib dan terkenal di kampung kami.

TENTU semua orang sini mengenal Mbah Dlimo. Ia adalah lelaki tertua di kampung kami. Umurnya sudah seratus tahun lebih. Bila kau tanya kepastian tanggal dan tahun kelahirannya, maka orang sekampung kami akan menggeleng. Atau paling-paling menunjuk Damar Kurung yang dipajang di pinggir jalan sepanjang kampung kami. Banyak orang percaya, Mbah Dlimo sepantaran dengan almarhumah Sriwati Masmundari, pelukis asli Gresik pencipta Damar Kurung, yang oleh Tuhan Pengasih juga dianugerahi umur seratus tahun lebih. 

Kini Mbah Dlimo masih tetap hidup dan sehat. Masih menjadi imam salat, muruk ngaji di langgar, bahkan tiap sore selalu cangkruk di Warung Kopi Kotok ini, dengan rokok klobot-nya yang berbau khas. Bagi kami, Mbah Dlimo adalah berkah dan kegembiraan yang melimpah ke warung ini. Kehadirannya selalu dinanti. Setiap masuk warung, perihal yang tidak pernah ia lupa adalah memberi salam lalu berucap: ”Malaikat memohon ampun untuk para peminum kopi.” Aku tak tahu, itu sabda Nabi atau hanya karang-karangan Mbah Dlimo sendiri. Tapi, jika sudah begini, kami biasanya akan senang sekali, menemani Mbah Dlimo yang duduk di pojok warung. 

Mbah Dlimo biasanya akan menceritai kami macam-macam. Dari cangkruk dengan Mbah Dlimo inilah kami tahu kisah para sesepuh yang mbabat alas Gresik, kisah wali-wali ”penjaga” pulau Jawa beserta tempat munajatnya yang rahasia, atau kisah seorang Kompeni semprul yang suka mengobral zakarnya pada perawan desa yang sedang mandi. Dari Mbah Dlimo pula kami mengenal asal-usul nama kampung sekitar sini, nama jalan, nama jajanan, nama dolanan, sampai nama-nama jin yang menurut Mbah Dlimo mbaurekso kampung kami. 

Terus terang, kami sering dibuat heran oleh Mbah Dlimo. Kendati usianya sudah sangat tua, ia memiliki ingatan cukup kuat dan akurat. Ia bahkan masih menyimak kisruh politik hari ini. Ia tahu cekcok ketua partai A dan partai B. Ia tahu kiai dan dukun yang malu-malu mendukung partai C. Ia tahu pelawak yang nantinya bakal dicapreskan partai D. Ia juga tahu rencana-rencana edan partai E, kongkalikong partai F dan partai G dan seterusnya. Selain itu, Mbah Dlimo adalah penikmat kopi yang jeli. Ia bisa menjabarkan secara rinci beda rasa kopi toraja, kopi aceh, kopi bali sampai kopi arab. Kendati demikian, ia mengatakan kopi kotok di warung ini tak kalah baiknya. Selain rasanya yang khas, penyajiannya juga unik, tumbukan biji kopinya dibiarkan kasar, dengan saringan mini untuk menyaring dedak kopi sebelum diminum. 

Kadang kami tak percaya, Mbah Dlimo, orang yang kami temui hampir tiap sore ini umurnya sudah seratus tahun lebih. Banyak orang percaya, rahasia umur panjang dan kesehatan Mbah Dlimo adalah delima di depan rumahnya. Pohon delima yang umurnya mungkin setua pemiliknya itu tergolong pohon yang langka. Ia berbuah tiada henti. Bahkan, di bulan Ramadhan, jika kau datang ke kampung kami, kau akan mendapati pohon delima itu dipenuhi buah hingga ranting dan cabangnya seolah tak kuat menyangga berkah buahnya. Kendati semua orang percaya hubungan gaib antara umur Mbah Dlimo dan pohon delima itu, setiap kali kami tanyakan perihal ini, Mbah Dlimo tak lupa menunjuk ke atas seraya menambahkan bahwa umurnya memang anugerah Tuhan lewat buah delima yang ia makan setiap pagi dan sore hari. 

Ah, betulkah buah delima yang membuat Mbah Dlimo awet dan sehat seperti ini? Sebagai buah, delima memang punya daya magis tersendiri. Buah yang konon aslinya berasal dari Persia ini juga dipercaya bisa mengobati banyak penyakit, mulai gangguan perut, gangguan jantung, kanker, rematik, kurang darah sampai diabetes. Bahkan, bangsa Moor memberi nama salah satu kota kuno di Spanyol, yaitu Granada, berdasarkan nama buah ini. Kendati begitu, kami tetap ragu dengan pengakuan Mbah Dlimo. Apalagi pohon delima itu jelas bukan jenis pohon delima sembarangan. Ia terus berbuah. Tak mengenal musim. Buahnya besar-besar. Rasa sangat manis, seperti dicampur gula saja. Penduduk kampung ini pasti pernah mencicipi buah delima Mbah Dlimo. Buah itu biasa dibagi-bagi kepada orang kampung sini. Dan waktu masih bocah, kami juga sering mencurinya, saat melewati rumah Mbah Dlimo sepulang ngaji. 

Kendati orang kampung kami percaya buah delima itulah rahasia umur panjang Mbah Dlimo, tapi aku curiga sebaliknya: jangan-jangan Mbah Dlimolah yang sakti, bisa nyuwuk pohon delima di depan rumahnya menjadi pohon ajaib. Apalagi, setelah mendengar cerita getok-tular sekitar pohon delima itu yang aneh-aneh. Alkisah, ketika terjadi pelebaran jalan kampung, pohon delima itu akan ditebang. Namun, tak ada satu pun alat tebang yang mampu menumbangkan pohon itu. Parang, perkul, bendho dan gergaji sudah dicoba, tapi pohon delima itu seperti menjelma besi. Mungkin ini yang menyebabkan cerita-cerita perihal pohon delima Mbah Dlimo jadi macam-macam. 

Menurut sebagian sesepuh kampung kami, di tempat tumbuhnya pohon delima itu dahulunya adalah makam seorang syekh. Ketika pada suatu malam makam itu digali oleh gerombolan maling yang hendak mencuri rambut sang syekh untuk jimat, ternyata tak ada rambut, bekas jasad atau tulang belulang sang syekh tersebut. Setelah lebih dalam digali, di lubang itu justru ditemukan biji-biji delima. Gerombolan perampok yang tak menemukan rambut sang syekh itu pun pergi, meninggalkan makam yang masih menganga dengan butiran biji delima yang kini tumbuh menjadi pohon legendaris di depan rumah Mbah Dlimo.  

Banyak yang percaya, pohon delima itu tak lain adalah reinkarnasi sang syekh, yang sepanjang hidupnya juga seperti pohon delima itu, memberi manfaat tak henti-henti bagi masyarakat sini. Tentu cerita begini ini sukar dipercaya. Apalagi jika kita melihat fakta bahwa tak ada warga di kampung kami yang lebih tua dari Mbah Dlimo. Dengan demikian, tak ada saksi sahih yang bisa menjelaskan asal-usul pohon delima itu. Namun ketika perkara ini kutanyakan kepada Mbah Dlimo, dengan enteng ia berkata: ”Biasa juga begitu, Mas Takin. Jangan dikira, syekh atau wali-wali yang sepanjang hidupnya ngabekti itu mati. Tidak. Ia hidup dan Tuhan memberinya rizki.” 

Penjelasan Mbah Dlimo ini tentu tidak sepenuhnya kami mengerti. Ketika aku dan teman-teman yang duduk semeja dengan Mbah Delimo kembali minta penjelasan tambahan tentang ini, Mbah Dlimo langsung menunjuk Damar Kurung di seberang warung ini. Mbah Dlimo kemudian menjelaskan kenapa Masmundari diberi umur panjang. ”Selain tentu karena rahmat Tuhan,” kata Mbah Dlimo, ”itu lantaran ia tak beda dengan Damar Kurung ciptaannya, memberi terang dan keindahan ke jalan yang kita lewati. Masmundari itu ibarat jalan berhiaskan Damar Kurung. Dan seperti sebuah jalan yang panjang, umurnya juga panjang, bukan?” 

”Lalu, bagaimana dengan umur Sampean Mbah?” tanyaku, mengejar penjelasan Mbah Dlimo yang kian tak kupahami itu. 

Tak terasa, warung telah sepi, tinggal kami yang duduk mengapit Mbah Dlimo, seperti para murid Yesus, dalam lukisan Leonardo da Vinci, ”Perjamuan Terakhir”. 

Sayangnya, sebelum Mbah Dlimo memberi jawaban yang memuaskan perihal ini, terdengar azan maghrib dari langgar. Mbah Dlimo tersenyum, lalu membayar kopi dan buru-buru meninggalkan warung, sebab ia harus menjadi imam salat dan muruk ngaji seperti biasanya. 

Setelah Mbah Dlimo pergi, kami pun membayar kopi. Teman-temanku yang tadi datang ke warung memakai sarung, langsung menyusul Mbah Dlimo ke langgar. Sementara aku yang memakai celana-cekak, menghabiskan rokokku sembari pelan-pelan berjalan pulang melewati rumah Mbah Dlimo. Dalam naungan temaram sore hari, aku melihat sepuluh, seratus, atau mungkin seribu kunang-kunang, mengitari buah-buah delima Mbah Dlimo. Dalam kitaran kunang-kunang, buah-buah delima itu sungguh mirip Damar Kurung ciptaan Masmundari. 

Sejenak aku berhenti. 

Kupandang buah-buah delima yang bergelantungan dikepung kunang-kunang itu. Kupandang buah itu satu-satu. Kuhadapkan wajahku ke buah yang lebih tinggi, dan aku tersentak, melihat Mbah Dlimo tengah salat di atas helai daun-daun delima itu. 

A Muttaqin lahir di Gresik dan tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Ia mengarang puisi dan cerita pendek. Buku puisinya yang telah terbit, antara lain, Pembuangan Phoenix (2010), Tetralogi Kerucut (2014), dan Dari Tukang Kayu sampai Tarekat Lembu (2015). Cerpennya terkumpul dalam Klub Solidaritas Suami Hilang, cerpen Kompas pilihan 2014.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 5 November 2017

0 Response to "Mbah Dlimo"