Meme | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Meme Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:28 Rating: 4,5

Meme

DIA aku ciptakan bertepatan dengan sakitnya Sudarótokoh politik terkenal di kotaku, ingat, di kotaku beberapa bulan yang lalu, dan aku beri nama dia: Meme. 

Tentu saja aku bahagia atas ciptaanku itu, dan aku tidak ingin merasa bahagia sendirian. Maka, agar semua merasa ikut bahagia atas ciptaanku itu, aku sebar dia ke media sosial agar dikenal siapa saja dan orang-orang bisa memberi komentar atas kelahirannya. Benar, orang-orang memiliki antusias untuk memberikan ucapan selamat dengan tanda jempol, tanda hati dengan warna merah menyala, dan, mungkin, karena kelucuan bentuknya, ada sebagian orang memberi komentar lucu. 

“Wow, mirip musuh Batman dalam film The Dark Knight Rises.” 

“Hahahaha, mirip pilot pesawat tempur.” 

Itu dua komentar dari sekian banyak komentar yang bisa aku suguhkan kepada kalian. Tapi, ingat, semua komentar itu bukan berniat mengejek atau menertawakan. Tapi komentar-komentar itu aku yakini sebagai bentuk apresiasi mereka kepada dia yang telah aku ciptakan. Sebenarnya, tak semua orang suka dengan ciptaanku itu. Ada beberapa yang menuliskan komentar dengan nada mengingatkan di akun FB-ku. Salah satunya berkomentar panjang seperti ini: 

“Siapa menanam angin, maka akan menuai badai. Siapa berani berbuat, maka harus siap menanggung risikonya. Nah, begitu juga dengan kau. Kau harus siap menerima segala akibat dari apa yang telah kau ciptakan. Jika kau telah berani menciptakan Meme, maka kau harus siap berhadap-hadapan dengan hukum karena Meme itu. Ingat, ini negara hukum.” 

Komentar itu tidak salah. Bahkan sepenuhnya benar. Tapi, aku hanya tidak suka kalimat di akhir komentar itu. Maka aku balas dengan komentar begini: 

“Hukum harus tegak digarisnya. Harus digunakan sebaik-baiknya. Kalau kebebasan berpendapat yang dilindungi undang-undang pada akhirnya juga harus disalahkan, maka merosotlah demokrasi di negara yang aku kenal sangat menjunjung tinggi kebebasan berpendapat ini. Kalau hukum disalahgunakan hanya untuk membela orang-orang salah dan untuk menakut-nakuti orang lemah, maka hukum tak lebih dari sekadar belati yang dipegang preman-preman berotak udang. Aku hargai pendapatmu dan terima kasih.” 

Dan benar, aku sekarang diburu. Setelah Sudar sembuh, dia tidak terima karena Meme itu dianggap telah mencemarkan nama baiknya. Dia gunakan tangan hukum untuk memburu aku yang telah menciptakan Meme. 

Sebenarnya, Sudar, sebagai orang yang aku kenal sebagai orang berpendidikan tinggi bahkan dia sudah mendapatkan gelar S-3 baru-baru iniódan memiliki kharisma, tak usah bersikap seperti orang tolol, atau berlagak seperi cacing kepanasan, atau bersikap seperti orang kebakaran jenggot dengan kehadiran Meme itu. Toh Meme itu tidak akan sampai membuat nyawanya melayang, atau kulitnya terluka, atau hartanya terkuras, atau keluarganya terbunuh, atau membuat dirinya dipenjara. Meme yang kuciptakan dan kusebar di media sosial itu cuma gambar. Sumpah, tidak akan menyakiti siapa pun! 

Aku sadar, memang Meme yang aku ciptakan itu terkesan tidak beretika. Tapi, itulah bentuk kreatifitas yang lahir dari nuraniku. Perlu diingat, aku menciptakan Meme itu tidak berdasarkan kebencian, melainkan karena aku prihatin dengan kondisi hukum yang sedang berlaku di kotaku. Ingat, catat, hanya berlaku di kotaku. Jika, peristiwa yang aku ceritakan ini ada kesamaan dengan peristiwa yang sedang terjadi di kotamu, maka ini hanya kebetulan belaka. 

Akhirnya, atas nama Meme, sebelum menyudahi cerita ini, aku ucapkan permohonan maaf kepada siapa saja, khususnya kepada Sudar yang merasa tengganggu dengan Meme itu. 

Kemudian, jika pihak penegak hukum masih kebingungan mencari pencipta Meme itu, maka aku perkenalkan siapa pencipta Meme itu. Namaku Satir, tinggal di Desa Makmur Kecamatan Sunyi, Kota Halimunan. ❑-e 

*) Agus Salim, Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di Jalan Asoka Nomor 163 Pajagalan Sumenep 69416 Madura-Jawa Timur. Cerpen terangkum dalam buku antologi bersama: Sang Pelukis Kupu-Kupu (2013), Dosa Membunuh dan Membunuh Dosa, (2017), Sebuah Kisah Melupakan Mantan (2017), Bukan Perempuan (2017). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Agus Salim
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 12 November 2017 

0 Response to "Meme"