Memoar Kecil - Katalog Masa Kecil - Secarik Berkas Lama | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Memoar Kecil - Katalog Masa Kecil - Secarik Berkas Lama Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Memoar Kecil - Katalog Masa Kecil - Secarik Berkas Lama

Memoar Kecil

Lepas dari rajaman peluru
bapakmu tinggal dan mendekam
bagai siput dalam cangkang,
masih terlintas di hatimu menoleh
dari bahu para pengungsi,
Ailora tersisa kekalutan.

Jauh ke pedalaman hutan
mencari onggokan batu persembunyian
atau pohon-pohon tua pelindung,
letih ambil kendali tubuhmu,
pejam sebentar,
masuk ke mimpi,
masih di bayang-bayang
salak-meriam, instruksi pendek radio
lekas mengudara, dibalas siul bom
dari langit, menyentak jantungmu—
ladang, ternak, serta rumahmu
berguncang seakan serpihan
di atas dentuman gendang.

Hanya logat ibumu
halus menyapu ulu hati
yang bergumpal debu duka,
namun tak jua cukup waktu
bersamamu, maut memutus
rute hayat ibumu, kau terpencil
seorang diri menempuh tiada arah
tiada lebih cuma anggukan dagu
saat seorang infanteri menodongmu
dengan mata lebarnya dan kau
seolah seekor kerbau
dipasangi kayu lengkung.

Tahun ganti tahun,
usia cuma seputar angin
di kemah-kemah rumput
atau pakaian lusuhmu
menanggung peluh kuli derita
yang semau tangan mereka
mencela, semau alunan mereka
tertawa sebab sentakan keras otot
menekan tulang rusuk dan pipimu
hingga meletup erangan pendek.

Bulan berkali muncul-lesap,
tiba siang di Pahineang,
seka keringat sebentar
silau sekedip matamu
pas matahari kelupas awan,
jerih suara masih terasa
lembap di pundakmu
dicengkam ransel-buncit
penuh peluru dan ransum,
bila saja muncul lirik sekilas
dari balik punggung Tuan,
kau pasang raut jinak anak anjing.

Kembali kau sebatang diri,
setelah milisi Timor
menanggalkan bebanmu;
buka hari tutup hari,
kau cuma bergeming
bagai siluet benda
disorot mata nyalangnya.

Singgah pelayaran di Kendari,
dari Kolaka hingga Enrekang
berkilo-kilo meter daratan
di telapak kakimu yang lebam,
di Polmas kau hanya dirias nasib
jadi burung peniru
atau untuk sehelai kain penyeka.

2017

Katalog Masa Kecil

Hutan tak menaungi
pelarianmu dari petaka,
selain akar-akar tua
juga batu-batu purba
yang kaku dan bisu,
namun api dari nafsu para tentara
yang bengis itu mengobarkan
rumah-rumah di tanah sukumu
dengan dicerca meriam dan
senapan yang naik pitam
dan saraf ambisi mereka
mendesakmu masuk ke rimba itu.

Tak ada mukjizat di dalam hutan
hanya taring-udara-dingin
dalam butanya malam
dalam hati yang rawan
ribuan pengungsi meringkuk
di antara pohonan,
pondok kecil dibangun
dengan sisa jerih
demi fantasi liburan
di mata anak-anak
dalam pelukan ibunya
yang merana.

Hutan tiada lain pengasingan
bahkan serupa sel bagimu
sebab setiap jalan keluar
telah dikepung pos-pos tentara
kendati langkah tikus sekalipun
tak membuat doa-doamu
mampu lolos,
kecuali gendang telingamu
memekak dikejutkan dentam
meriam dan seonggok bom
dijatuhkan—itulah karunia
dari langit untuk sebuah sketsa
dari bangkai pengungsi yang
dibingkai pohonan rubuh.
?
Maka saban hari hanya
lembar-lembar kulit pohon
untuk jasad di kubur dangkal itu
dan seekor anjing mendengus-dengus,
menggali letak mata air dukamu.

2017

Secarik Berkas Lama

Laut hanya sedu-sedan ombak
saat rantai jangkar dikerek naik,
rengekanmu bagai barang jarahan
direnggut dari tangan bapakmu
di dermaga itu.

Kautatap Dili—mereka
seakan kayu terpancang,
tinggallah rok masa kecilmu
terlipat di lemari-usia ibumu.

Hatimu
bagai hutan terpencil
dalam mata mungil seekor kenari
—kau menatap pulang
jauh ke langit, khayalan rumah
dari rasi bintang; sebidang ladang
jagung dan kopi, dan awan
persis bulu kambing
sekilas terkatup kelopak kantukmu.

Pagi serupa pagi berikutnya,
jam belajar telah dicampak keluar;
jalan Kendari ke Kolaka
dicatat telapak kakimu,
Bone dan Enrekang sodorkan kursi,
mengajarmu bagai monyet yang mesti
patuh pada erangan malas majikan.

Di Polsam adalah kandang
untukmu dan Maukunda
—saudara angkat
yang separuh hari belajar
menjadi beo di sekolah,
dan kerbau bagai di siang hari.

Tiga tahun, tubuhmu
jadi pelampiasan otot
sehari-hari macam tinta stempel
pada surat kontrak ilegal,
sampai seorang sejawat Tuanmu
tukar tebusan iba bagimu ke Takalar.

Satu engahan kembali
membuka jam belajar,
kau duduk mencatat,
menekuri abjad
demi menjawab muasalmu
yang samar; desa Susekar
atau Malmera atau Remeksio,
air matamu berlinang bagai lensa minus
saat Miggel meluapkan kenanganmu,
lantas di hatimu tumbuh lagi
rindu itu, seperti bibit-bibit jamur
bertahun kau rawat di Malino.

39 tahun tumpukan berkas
masa silam dipenuhi stempel
cap Seroja, pelan kau perinci
hingga kau meringkuk di sudut sofa
seperti Kauka—nama kecilmu
yang menyusut di satu sel otak
di sela hari-harimu sebagai istri.

2017

Yona Primadesi, lahir di Padang, Sumatera Barat. Saat ini bergiat dalam kegiatan literasi untuk anak. Buku puisi pertamanya, Percakapan di Beranda akan segera terbit.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yona Primadesi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 5 November 2017

0 Response to "Memoar Kecil - Katalog Masa Kecil - Secarik Berkas Lama "