Orang-orang Bukit Tui - Alor dan Gadis-gadis Takpala - Anak-anak Pukat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Orang-orang Bukit Tui - Alor dan Gadis-gadis Takpala - Anak-anak Pukat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Orang-orang Bukit Tui - Alor dan Gadis-gadis Takpala - Anak-anak Pukat

Orang-orang Bukit Tui

dalam lingkup kabut. ia bukan orang selatan
yang memecah dan membakar batu kapur
antara rao-rao hingga tanahhitam. udara bercampur sengat asap
“inikah bukit tui?”
ia lihat wanita-wanita perkasa menantang peluh
barisan laki-laki penambang tak akan pulang sebelum petang
berjuang di antara lapar dan sesak napas
lembab gerimis tak reda-reda

ketika hujan tumpah ruah. ia tak sedang di telaga
tapi tahun 1987. bulan ramadhan yang menggamit lebaran
tanah bergulingan dari puncak bukit
pohon-pohon menghalau rumah-rumah dan sawah
lalu orang-orang bercerita di lepau-lepau
di lapangan bahkan surau
tentang seorang kakek tua yang berkunjung sebelum senja
tentang para pejudi yang tiada peduli tinggi hari
tapi ia hanya melihat bayangan cukong-cukong kayu yang bergegas
juga para penebang yang tertawa

ia bukan pencari pakis dan rotan
tapi ia melihat di utara tambang tak lagi ada
orang-orang bukit tui meninggalkan kampung entah ke mana
meninggalkan bukit cinta

Payakumbuh, 2017

Alor dan Gadis-gadis Takpala

matahari bersengat gagah. kemarau memang selalu panjang
sungai-sungai kering dan sempit. melagukan musim berbeda rupa
seolah kisah dua raja yang tercebur ke dalam perang magi
di mana angin topan bergulung-gulung dari pedalaman pegunungan alor
lebah berdengung-dengung dari ujung timur pulau pantar
mengitari sudut-sudut abui dan munaseli. hingga ada pedang yang tercampak
“selalu ada yang kalah! selalu ada yang disimbah darah!”
orang-orang bersorak meratapi kehilangan
orang-orang menekuri kemalangan

tapi di takpala. gadis-gadis terus menari
sebelum masuk ke hutan-hutan
menyerahkan hidup pada pencarian
lihat. rentak kaki dan riuh tetabuhan menyambut kedatangan
moko bertingkahan mengiring kaki-kaki mungil berlingkaran
“ayo menari. marilah menari
lego-lego kita mainkan sebelum hari dijemput malam!”
sejenak mereka lupa cerita-cerita hasil hutan
mereka lupakan pula jalan-jalan tanah serta pendakian

lalu segala susut. waktu setia beringsut
alor pun berjalan menuju masa depan

2017

Anak-anak Pukat

apa daya si tukang pukat
biduk tersorong air laut kering

lagu orang pantai. gemanya pecah di bibir buih
sepanjang pesisir
anak-anak berkulit kelat melawan matahari. anak-anak pukat
yang tak letih menjala-jala hari
sekian depa jaring terkembang. sebegitu pula kadang nasib terjerat
tebuslah peluh demi pembayar utang
lepau nasi. juga teh kopi barang segelas
tapi rantau pariaman adalah cinta pada laut
seasin-asin garam. sekuat terjang pasang
orang-orang tak mengaku kalah pada ombak ataupun gelombang

anak-anak yang bermimpi jadi nakhoda
turun ke bandar-bandar
air bangis, sibolga, bahkan ke ujung singkil
perahu dan pincalang penuh barang
menyinggahi pekan dan harapan
sementara di pantai panas sengat tak redup-redup
entah bila rasian itu akan tiba

anak-anak yang besar dari kaba
dari teluk singalai tabang papan
bidurai putih menghela empat putri
jelita yang lahir dari kebun dan tambang
tapi laut segera beriak. “nan tongga, nan tongga...!”
suara angin berkeriuhan. semisal riuh tabut diarak-arak
“mana kapalmu? usirlah panglima yang datang!”

pantai sepi. pantai tak mati
anak-anak pukat
tak pernah takut pada siang terpanggang
bahu yang melepuh
juga pada topan malam datang

2017

Iyut Fitria lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat. Lelaki dan Tangkai Sapu (2017) adalah buku puisi mutakhirnya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmad Iyut Fitra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 25 November 2017

0 Response to "Orang-orang Bukit Tui - Alor dan Gadis-gadis Takpala - Anak-anak Pukat"