Pada Suatu Hari Minggu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pada Suatu Hari Minggu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:00 Rating: 4,5

Pada Suatu Hari Minggu

AKU ingin bercerita padamu tentang kisah pada hari Minggu di kota kami yang cantik. Kota kami yang di setiap sudutnya diperindah dengan patung-patung yang artistik berkat bupati kami yang nyentrik dan berjiwa seni. Setiap Minggu pula di alun-alun, ramai orang berdatangan untuk memainkan beragam permainan tradisional. Berkat arahan bapak bupati pulalah jenis-jenis permainan semacam godak sodor, engrang, dan sebagainya masih bisa kaulihat sampai dengan saat ini.

NAMUN, tokoh utama kita bukanlah sang bupati, melainkan seorang perempuan bersuami yang telah yatim dan suaminya. Si istri, Sri, tinggal bersama suaminya dan ibunya di belakang gedung mewah kantor partai yang menjadi penyokong utama sang bupati. Mereka terpaksa pindah ke gubuk reyot itu karena suatu sebab menyedihkan yang akan kuceritakan kemudian.

Awal mula ceritanya sendiri sudah lewat beberapa tahun yang lalu ketika di kota kami belum banyak berdiri patung-patung dan sang bupati belum gemar melantik kepala desa malam-malam di tengah sungai. Keluarga itu tinggal di sebuah desa yang dipenuhi kebun karet dan jagung. Sebagian besar penduduknya mencari nafkah sebagai penyadap nira, sebagian lagi berkebun jagung dan ketela, sementara sisanya menjadi buruh pabrik dan sopir angkot.

Meskipun rumah tinggal mereka sangat jauh darí kota, jangan kau bayangkan mereka adalah orang-orang yang selalu ramah dan tulus membantu seperti cerita lama di buku-buku dongeng. Aku mendengar kisah ini dari ibuku yang berkunjung ke sana, yang merasa begitu heran dengan sifat manusia pada masa sekarang. Tulislah, begitu ibuku berpesan kepadaku setelah aku mendapatkan ceritanya.

Beginilah kisahnya. Si istri baru saja berumur 19 tahun ketika ia bertemu laki- laki pujaannya. Si laki-laki berasal dari desa seberang. Mereka berdua saling mencintai. Jika malam Minggu tiba, si laki-laki akan menjemput kekasihnya, lalu mereka akan berboncengan naik motor menuju pusat kota. Gedung bioskop dengan dua layar kecil menjadi tujuan mereka.

Sampai akhirnya bapak si gadis itu meminta sang laki-laki melamar putrinya. “Aku malu, tetangga membicarakan anak gadis Bapak yang dibawa ke mana-mana oleh laki-laki. Menikah sajalah kalian,” begitu pinta orangtua itu.

Si laki-laki itu menyetujui. Meski permintaan si Bapak terlalu cepat ia sudah punya uang 10 juta rupiah, ia kira uang itu cukup sebagai mahar. Ia tak pernah menyangka si bapak menyewa tenda yang besar dan menjamu makan daging saat lamaran. Keluarga si laki-laki yang hanya berdelapan orang kaget tatkala lebih dari dua puluh orang menerima mereka.

Namun, Sri begitu cantik. Maka ia hanya mengangguk ketika si Bapak menyebutkan ia masih berutang 2 juta rupiah untuk tenda dan membeli daging. “Akan kucarikan uangnya, Bapak tenang sajalah,” kata laki-laki ini gagah. Padahal, uang 10 juta miliknya sudah habis ia serahkan.

Laki-laki itu baru berumur 22 tahun. Tetapi ia sedang sangat berbahagia dan karena Sri sudah dilamarnya, maka ia berhak berbuat sesukanya kepada gadis itu. Di tengah hutan karet ia mencium gadis itu. Ia membelikan Sri pakaian yang bagus-bagus dan membawakan orangtuanya makanan yang enak-enak, sehingga mereka tak perlu lagi memasak.

Saat dirinya dan Sri berdiri di pelaminan, keduanya laksana dua orang yang paling berbahagia di dunia. Pesta semalaman suntuk dengan lakon wayang kulit dari dalang terkenal memeriahkan pesat itu. Ia bersyukur dengan banyaknya tamu yang datang dan malam harinya menyetubuhi istrinya dengan bersemangat.

Malangnya kebahagiaan pasangan itu tak berumur lama. Suatu hari di sore yang panas, tatkala si laki-laki baru saja kembali seusai bekerja di pabrik dan hendak menikmati singkong goreng buatan istrinya, bapak mertuanya memberikan kabar yang langsung membuat tidurnya tak nyenyak.

“Nak, ketika pestamu dulu dilangsungkan, aku berutang. Bukannya aku sengaja berutang, tapi kau harus tahu kebiasaan orang-orang di sini. Mereka saling membantu ketika ada yang hendak menggelar pesta. Pak haji di sana, kau tahu, kemarin membawakan aku beras sekuintal. Ibu yang di sana, kau tahu, membawakan aku telur dua peti. Sementara pada si mandor aku berutang 20 kilogram daging kerbau. Catatannya ada di sini dan semuanya harus dikembalikan begitu mereka ada perlu, entah untuk menyu nat atau menikahkan anaknya. Itu sistem gotong-royong yang berlaku di sini, Nak.”

Ila hanya memandang buku tulis berisi catatan bantuan dan pemberian hadiah saat pesta pernikahan yang diberikan mertuanya. Kepala mendadak terasa berat karena utangnya yang dua juta di kantor, yang diajukannya untuk membantu biaya jamuan lamaran, belum juga lunas dibayarkannya. Namun, berlawananan dengan kata hatinya, dengan tenang ia berkata, “Tidak apa-apa, Bapak, serahkan padaku.”

Dan benarlah beban itu kemudian jatuh seluruhnya ke pundaknya. Dua bulan kemudian sang Bapak wafat meninggalkan utang-utangnya. Semuanya masih mampu ia bayarkan, hingga saatnya Sri melahirkan seorang anak perempuan. Tetangga- tetangganya kembali datang membawakan berbagai macam hadiah. Karena ia beroleh seorang putri, maka tak terhitung banyaknya cincin, gelang, dan kalung yang diterimanya sebagai utangan.

“Kenapa tak kau tolak saja, Sri, kalau memang mereka tak ikhlas memberi. Kalau itu pemberian, kenapa pula kita harus mengembalikannya,” ujarnya tak terima.

“Ah, kau ini, Mas. Memang seperti ini kebiasaan yang berlaku di sini. Tidakkah kau lihat putri kita cantik sekali memakai perhiasan seperti ini. Anak perempuan memang seharusnya dihadiahi emas,” kata Sri.

Begitulah. Betapa tradisi desa yang katanya untuk membantu sesama telah mencekik lehernya sedemikian rupa. Ia terimpit dari segala sisi untuk membayar utang-utangnya karena hampir setiap minggu berdatangan orang-orang yang meminta bantuan mereka dikembalikan.

Dan kini anaknya meminta susu! Entah karena apa sebulan setelah melahirkan tetek Sri tak lagi mengeluarkan air. Iba melihat cucunya terus-menerus menangis lantaran tak kenyang, ibu mertuanya meminta anaknya dibelikan susu sapi kalengan. “Harus merek ini supaya nanti ia jadi pandai,” begitu pesannya sebelum ia pergi ke kantor pagi itu.

Ketika ia mencoba berkeluh kesah pada teman-temannya sesama lelaki di pabrik, semua menertawakannya. “Seperti orang kaya saja kau memberi anakmu susu kalengan. Sudah, beri saja ia air tajin dan pisang supaya kenyang dan tak menangis lagi,” ujar seorang kawannya.

Yang lebih penting lagi tentulah rencana aksi. Pemilik pabrik telah lama mengotori desa. Sekian lama mereka bisa membohongi penduduk dengan menyumpal kepala desa yang mata duitan itu. Tetapi sudah ratusan warga tumbang dan berobat ke rumah sakit.

Bayangkan, sebuah aksi, betapa gagahnya. Mereka baru saja membentuk serikat pekerja dan akan menuntut pemilik pabrik meningkatkan gaji dan memberikan jaminan kesehatan bagi keluarga buruh. Ia tersenyum membayangkan bisa melunasi utang-utang persalinan dan hadiah bayinya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitulah kira-kira peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kemalangan keluarga itu. Utang tak terlunasi, ia pun dipecat dari pekerjaan lantaran dianggap membangkang setelah menggelar demonstrasi.

Maka, apa yang dapat diperbuat keluarga kecil malang itu ketika sekelompok orang menyita rumah mereka lantaran tak mampu melunasi utang?

Mereka pun pindah ke kontrakan kecil di belakang kantor pusat partai penyokong sang bupati. Sri minta izin bekerja untuk membantu suaminya yang menganggur. Tak ada jalan lain sebab emas hadiah putri mereka sudah lama dijual. Ia berhenti tiga bulan kemudian tatkala sang suami yang cemburu mendatanginya ke pabrik dan melabrak laki-laki yang membonceng istrinya pulang dengan sepeda motor.

“Keterlaluan kau itu, Sri. Kuberi izin bekerja malah melacur!”

Pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi sampai akhirnya sang suami ke luar dari rumah. Tak ada yang tahu ke mana ia pergi karena ia tak memegang telepon seluler sebagai alat komunikasi. Sri dan ibunya memburuh jadi penjahit bulu mata palsu. Setiap selesai menjahit satu pasang, mereka mendapatkan upah Rp 750. Dengan upah sekecil itu, anaknya berhenti minum susu apa pun.

Semuanya membicarakan Sri setelah suaminya pergi, kata ibuku.

Apa katanya, tanyaku.

Kasihan, Sri. Badannya sampai jadi kurus dan mukanya kuyu. Padahal dulu ia cantik sekali.

Lalu hari Minggu itu, Sri ditemukan mati di kamarnya. Bersama anaknya. Bersama ibunya. Tepat saat Bupati hendak merayakan hari ulang tahun partai yang kedua puluh. Mereka yang mencium bau tak sedap menyelidik ke rumah reyot di belakang gedung mentereng itu. Sri, ibunya, dan anaknya tidur berjejer di atas kasur. Dan ada surat yang menjelaskan semuanya. Mereka bunuh diri minum racun, kata ibuku.

Ya, Tuhan. Dan suaminya?

Suaminya pulang dua hari kemudian.

Sri, ibunya, dan anaknya sudah dimakamkan.

Ke mana dia?

Jadi sopir di Lampung. Kasihan, padahal dia pulang untuk mengajak istrinya pindah karena sudah dapat pekerjaan.

Otakku limbung mendengar cerita ibuku. Seperti kau pikirkan, aku tahu kisah ini sepertinya tidak nyata. Tak mungkin ada yang bernasib seburuk ini. Tetapi apa boleh buat, seperti diceritakan ibuku, ini nyata senyata-nyatanya. Ibu bilang suaminya sekarang jadi gila. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fadjriah Nurdiarsih
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 19 November 2017

0 Response to "Pada Suatu Hari Minggu"