Padang Beton | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Padang Beton Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Padang Beton

DARI tempatnya duduk, mata Ratman memandang ke bawah. Jauh dari pinggiran jalan besar di lereng bukit ini, dusun tempatnya tinggal tampak kecil. "Dusun ini sudah berubah," gumam Ratman dengan tatapan mata yang nanar. 

Zaman telah menggerus dusun yang udik itu menjadi hamparan surga bagi pelakon ekonomi. Hamparan sawah dan perkebunan palawija, telah bersalin rupa menjadi pabrik-pabrik. 

Tanah yang dulu subur saat mangsa rendeng, dan kerap tandus saat mangsa ketiga itu kini telah digantikan beton-beton yang mengukuhkan bangunan pabrik. Hamparan hijau persawahan dan ladang telah berganti menjadi ladang beton yang terhampar luas. Beton yang kelabu. Ditambah cerobong asap yang menjulang memuntahkan asap pembakaran setiap hari. 

Awalnya Ratman tak pernah menduga, dusun tempatnya dilahirkan akan berubah sedemikian cepatnya. Dusun yang dahulu seolah terisolasi dari hiruk-pikuknya kota. Tanah air kecil bagi Ratman dan warga dusun lainnya. Sampai suatu hari, seorang pengembang berusaha membebaskan lahan warga. Sebuah pabrik sepatu dan sandal akan didirikan di sana. Warga yang menjual lahannya, bisa bekerja menjadi buruh tetap di pabrik baru nanti. Serangkaian jaminan hidup dan tunjangan-tunjangan menggiurkan dijanjikan kepada warga. Sedikit demi sedikit lahan warga dibeli. Satu pabrik didirikan, selanjutnya pabrik lain menyusul berdiri. 

Ratman bukannya tak mau bekerja di pabrik. Beberapa waktu lalu, ketika ladang tempatnya memburuh milik Wak Haji dibeli pengembang, sesegera mungkin Ratman mendaftar ke salah satu pabrik yang sudah beroperasi. Namun lamarannya mendapat penolakan. Ijazah SD miliknya tak memenuhi syarat untuk menjadi buruh pabrik. 

Ratman pulang ke rumah dengan perasaan hampa. Janji-janji manis pemilik pabrik dulu ternyata hanya pepesan kosong belaka. Buktinya Ratman ditolak bahkan sebelum masuk ke dalam pabrik. Nyatanya Ratman tak sendiri. Banyak warga dusun dengan lulusan pendidikan rendah yang ditolak pabrik. Kebanyakan pekerja pabrik-pabrik yang berdiri di dusun itu malahan orang-orang dari luar dusun. Petak-petak kamar mes dibangun di seputaran pabrik untuk tempat tinggal pekerja dari luar dusun itu. 

Dari tempatnya duduk di pinggiran jalan besar menuju kota, Ratman memandang dusunnya yang kecil dengan perasaan sedih yang mendera. Di rumahnya yang menyempil di antara rumah warga dusun lainnya, dia membayangkan apa yang dilakukan Suciati. Mungkin sekarang istrinya sedang menidurkan Nurmala, anak pertama buah perkawinan mereka berdua. Atau mungkin Suciati sedang menangis di dapur seperti sebelum-sebelumnya ketika dia gelisah sembari mengelus-elus perutnya yang semakin membuncit. Suciati sedang hamil anak kedua. 

Lamunan Ratman buyar, tatkala angkutan desa berhenti di dekatnya. Dengan angkutan itu Ratman akan pergi ke kota. Mencari peruntungan lain, desanya yang kini menjadi padang beton itu tak ramah lagi kepadanya. Ratman bertarung nasib di kota, menapaki jalan-jalan sunyi peradaban. ❑ - g 

Salatiga, November 2017. 

*) Artie Ahmad, lahir dan besar di Salatiga, 21 November 1994. Menulis cerita pendek dan novel.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Artie Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 19 November 2017 

0 Response to "Padang Beton"