Pareidolia Hujan - Kereta Akhir September Basah - Dieng | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pareidolia Hujan - Kereta Akhir September Basah - Dieng Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Pareidolia Hujan - Kereta Akhir September Basah - Dieng

Pareidolia Hujan 

Aku tidak percaya
jika hujan lekat dengan kenangan
dan ingatan-ingatan tentang masa lalu.

Bagiku, hujan adalah wujud lain dirimu.
Yang pada setiap rinai dan kecipaknya
dapat menerjemahkan wajah tirusmu.

Jejak Imaji, 2 November 2017

Kereta Akhir September Basah

Sekitar Lempuyangan, deret kaki lima begitu ramai
orang lalu lalang datang kemudian pergi,
musik dangdut, koplo, campursari tidak mati-mati.

Ini sekian kali kulewati jalan yang terburu-buru,
sesak gelisah, dan sedikit senyum pura-pura.

Pada akhir September basah yang sesekali memerah
sebelum kereta melintas di tepi jalan yang resah,
waktu tetap menggulir sebagaimana degup dada berdesir.

Di salah satu sudut simpang palang pintu kereta
anak-anak putus sekolah berlarian,
menghitung gerbong yang berlepasan.

Mereka tertawa, menyelipkan impian
ke dalam saku celana yang berlobang,
ke dalam kecemasan yang melaju
secepat lintas kereta menuju stasiun selanjutnya.

Jejak Imaji, September 2017

Dieng

Sebentang jalan memanjang.

Aroma pupuk kandang dan belerang
seperti kasihku padamu, kangenku.
Tak akan hilang meski embus angin
secepat detik waktu yang terburu.

Kesiur pohon dan sayur mayur
tak akan sunyi, meski musim banal
bikin panen gagal dan petani sebal.

Kangenku padamu, kasihku
merawat segala yang hangat,
sedang dingin, adalah ihwal
yang membikin kita tetap terjaga.
Jejak Imaji, Oktober 2017

*) Ardy Priyantoko, lahir di Wonosobo 19 Desember 1992. Bergiat di Jejak Imaji dan Komunitas Sastra Bimalukar. Mengabdi di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ardy Priyantoko
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 26 November 2017

0 Response to "Pareidolia Hujan - Kereta Akhir September Basah - Dieng"