Pengantin - Sumpah Orang Suci - Buat Drawing Tisna Sanjaya - Di Bawah Pohon Ingatan - Cara Mengasah Pisau - Buat Drawing Herry Dim - Cerita Selendang Ibu - Marnixstraat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pengantin - Sumpah Orang Suci - Buat Drawing Tisna Sanjaya - Di Bawah Pohon Ingatan - Cara Mengasah Pisau - Buat Drawing Herry Dim - Cerita Selendang Ibu - Marnixstraat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:30 Rating: 4,5

Pengantin - Sumpah Orang Suci - Buat Drawing Tisna Sanjaya - Di Bawah Pohon Ingatan - Cara Mengasah Pisau - Buat Drawing Herry Dim - Cerita Selendang Ibu - Marnixstraat

Pengantin

Orang suci dan bidadari
Kafan putih orang mati

Harum tubuh bidadari
Hangus daging orang mati

2017

Sumpah Orang Suci

Kerumun dalam jubah
Muslihat balik lidah

Kesumat orang suci
Sisik ular bawah kursi

2017


Buat Drawing Tisna Sanjaya

Kata orang suci
Lidah sedingin belati

Jubah orang suci
Putih orang mati

2017



Di Bawah Pohon Ingatan

Daun-daun putih

Tubuhku bau bunga. Di jantung tanah
darahku memancur. Tepercik jubah
orang suci. Dari gurun-gurun gelap
kuda-kuda menyerbu. Para ksatria
dengan tubuh tak berkepala

Daun-daun putih

Di sebatang pohon bernama ingatan
Di bawahnya aku berkubur. Jantungku
sedingin batang pisang. Menjelma mata air
Memancur ke tengah kolam. Tempat orang suci
menyuci jubah dari percik darah

Daun-daun merah

Kuku-kuku kuda memercikkan api
Orang-orang tak berkepala. Menyerbu
ke jantung gelanggang. Menyeru pahala
hukum suci, sungai mengalirkan susu
dan bidadari. Dari bawah meja ular
mendesis dan melata

ke arah kuburku

2017



Cara Mengasah Pisau

– kepada Eep

Bentangan angin: Suara orang
menenun jubah dan mengasah pisau
Selat yang dingin: Suara orang
memilin lidah dan membakar pulau

Setenang air muara, tuan,
kami mendengar kata beringsut
Gelagat kesumat bertukar tempat
dengan muslihat

Berkerumun orang sekaum
Majelis agung yang diberkati
Sekaliannya jadi suci

Juga kebencian itu, tuan…

Bentangan angin: Kain jubah
yang berkibar barisan gagah para lasykar
Selat yang dingin: Kapal seberangkan
gelap ke pusat pulau mengangkut
para pengasah pisau

Setenang air muara, tuan
hujan memandikan jenasah
Di lehernya kami mencium
bau ludahmu, tuan

Berkaum-kaum kami membuat barisan
Kumpulan penuh berkah. Berkuasa
atas sekalian yang menjadi suci

Juga cara mengasah pisau

2017


Buat Drawing Herry Dim

Lidah orang suci
Hitam seperti jeruji

2017



Cerita Selendang Ibu

Selendang peninggalan ibu bertumpuk
di rendaman air cucian. Air yang mengalir
dari lubuk ingatan. Bapak selalu membilas
selendang ibu dengan tangannya yang masih
berdarah. Sehingga selendang ibu berwarna
merah. Warna yang mengundang
para arwah

Serupa zombie mereka. Mengepung rumah ibu
Mencari-cari selendang ibu. Selendang dalam
jantung kesumat dan muslihat. Selendang
yang kata bapak dulu dipakai ibu menari
Tarian darah silsilah merah

Selendang peninggalan ibu bertumpuk
di lubuk ingatan. Lubuk berair gelap
Dari gardu bapak selalu mengawasimu
Juga lasykar dan ksatria
tak berkepala itu

Menderu kuda-kuda perang mereka

Selendang ibu sepanjang jalan
Tak hilang dendam sepanjang badan


2017



Marnixstraat

Jantung dingin berkaki hujan
Langit putih rambut angin
Maut sayang dipeluk ingin
Melambai ibu di kejauhan

Musim gugur pohon basah
Mantel biru tubuh perempuan
Teringat kau di ujung jembatan
Manusia membelah di pucuk lidah

Lembut engkau berkuasa di bayang
Pemangsa berdiam di seberang angin

Di muka gerbang musim dingin

2017

Ahda Imran lahir 10 Agustus di Kanagarian Baruhgunung, Sumatera Barat. Rusa Berbulu Merah (2013) adalah salah satu buku puisinya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahda Imran
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 11 November 2017

0 Response to "Pengantin - Sumpah Orang Suci - Buat Drawing Tisna Sanjaya - Di Bawah Pohon Ingatan - Cara Mengasah Pisau - Buat Drawing Herry Dim - Cerita Selendang Ibu - Marnixstraat"