Percakapan dengan Saika-san | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Percakapan dengan Saika-san Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:00 Rating: 4,5

Percakapan dengan Saika-san

KETIKA aku berjalan di sepanjang lorong menuju lobi, aku masih berusaha membayangkan sesosok perempuan Jepang yang katanya tengah menungguku itu. Pertengahan tiga puluhan. Mata sipit. Kulit putih yang terkesan tipis. Terakhir kali aku bertemu dan berinteraksi lewat tatap muka dengan seorang perempuan Jepang adalah enam tahun sebelumnya, dan jujur saja malam itu aku sedikit gugup. Mungkin ia kawaii 1, pikirku, menghibur diri, dan setelahnya merasa konyol. Ketika aku tiba di lobi dan menoleh ke sebuah meja-bundar paling dekat di sebelah kiri aku melihatnya, menemukan sosoknya; ia sedang mengamati sesuatu di ponselnya dan air mukanya entah kenapa terlihat begitu bersih dan begitu jernih—semacam air muka yang mampu membuatmu kehilangan rasa lelah untuk beberapa saat. Aku menyapanya, dan ia menatapku. Iris matanya hitam. Hidung dan bibirnya kecil dan ketika ia tersenyum sebagian gusinya yang tampak segar terlihat. Ia sedikit lebih menarik daripada gambaran tentangnya yang coba kuciptakan tadi.

Ia memperkenalkan dirinya sebagai Saika. Nama yang jarang kudengar, jujur saja, dan aku langsung teringat pada Sonohara Anri dalam Durarara!!, serial anime yang diadaptasi dari light novel karangan Ryohgo Narita dan Suzuhito Yasuda. Awalnya kami mengobrol dalam bahasa Jepang sebab aku yang memulai. Tiba-tiba, ia meresponsku dengan bahasa Indonesia, dan untuk seorang non-Indonesia bahasa Indonesianya itu sangatlah kaya. Ia kemudian mengatakan bahwa sudah hampir tujuh tahun ia tinggal di negeri ini dan mantan suaminya adalah seorang dosen Sastra Indonesia di sebuah universitas. “Berkat kesabaran mantan suamikulah aku bisa selancar ini,” ujarnya, lalu tersenyum seperti tadi.

Obrolan kami lekas menjadi tidak biasa sebab, tanpa pernah aku menduganya, ia berkata bahwa ia membaca cerita pendekku yang tayang di sebuah koran dua minggu sebelumnya. “Itu cerita yang asyik. Membacanya memberiku kesenangan,” katanya. Ia mengaku sampai sebelum kami bertemu itu ia telah membaca lagi cerita pendekku tadi paling tidak sebelas kali, dan ia juga telah coba-coba mengulasnya, meski ia tidak—atau belum—memperlihatkannya kepada siapa pun. Rupanya ia, di tahun-tahun awalnya di Indonesia, aktif membantu mantan suaminya menyunting naskah-naskah terjemahan; mantan suaminya memanfaatkan koneksi yang dimilikinya dengan beberapa penerbit di Yogyakarta untuk memperoleh limpahan proyek-proyek terjemahan yang sebagian di antaranya dari bahasa Jepang, atau berhubungan dengan teks-teks Jepang. Dengan cara itulah mantan suaminya itu membiasakannya bersentuhan dengan bahasa Indonesia; dan di situlah mantan suaminya itu juga mengajarinya bagaimana melakukan pembacaan-pembacaan yang kritis terhadap teks. “Sebelum menikah dengannya dulu aku pernah secara intensif mengambil kursus bahasa Indonesia sekitar enam bulan. Aku bahkan beberapa kali ke Bali untuk mengetes kemampuanku. Dan saat aku membantunya menyunting naskah-naskah terjemahan itu, aku menyadari satu hal: selama ini aku keliru; caraku melihat bahasa (Indonesia) selama ini keliru.” Ia bilang, mantan suaminya itu punya ketertarikan yang akut terhadap psikoanalisis, terutama konsep bawah-sadar-kolektifnya Jung. Ketika mengurusi penyuntingan naskah-naskah terjemahan itu, ia digiring mantan suaminya untuk menemukan, memasuki, dan membedah bawah-sadar-kolektif tersebut, yang diyakini lelaki itu ada di tiap-tiap teks yang dihadapinya.

“Itu juga menjadi awal dari ketertarikanku terhadap karya sastra, khususnya cerita pendek,” kata si perempuan. “Hingga kini aku masih menyempatkan diri membaca cerita pendek koran yang mudah diakses. Buku-buku fiksi dari para pengarang Indonesia sendiri, beberapa aku membacanya.”

Jika aku lagi-lagi harus berkata jujur, aku akan mengatakan bahwa obrolan kami malam itu sungguhlah obrolan yang mahal, dan karenanya pertemuan kami itu adalah pertemuan yang istimewa—di mataku. Sejak menjadi pengajar bahasa Jepang di lembaga kurus bahasa asing waktu-waktu kongkow-ku dengan teman-teman penulis berkurang begitu juga intensitas menulisku; pasalnya jam kerjaku adalah dari siang hingga larut malam. Pertemuan dan obrolan dengan perempuan Jepang itu membuka kembali rasa hausku akan sastra, akan hal-hal yang berkaitan dengan cerita atau teks pada umumnya. Belum lagi antusiasmenya yang tinggi saat membahasnya di depan mataku itu, membuatku hampir seperti berhadapan dengan seorang penggemar yang pandai memberi apresiasi, dan itu sesuatu yang menyenangkan. Dan jadi semakin menyenangkan lagi ketika ia mulai membahas cerita pendekku yang disinggungnya tadi. “Membacanya,” katanya, “aku seperti membaca (ulang) kisahku sendiri.” Aku tersenyum dan ia kembali menunjukkan padaku senyum segarnya tadi.

***
CERITA pendekku itu mengisahkan seorang perempuan yang, entah bagaimana, tiba-tiba kehilangan kemampuan berbahasanya. Ia terbangun suatu malam dan menyadari ada sesuatu yang salah dengan dirinya, namun ia belum tahu itu apa sampai lebih dari setengah jam kemudian ketika ia menjawab panggilan telepon dari seseorang. Sama sekali ia tak mengerti apa yang dikatakan seseorang itu. Kata-kata yang dilesakkan seseorang itu ke telinganya seperti bebunyian belaka, atau sandi yang tak mampu ia pahami sedikit pun. Segera ia menyadari bahwa ia pun tak bisa membaca teks yang tertulis di layar ponselnya; huruf-huruf itu tak ia kenali; tak satu pun ia kenali. Ia menyisir ke seisi kamar, berharap menemukan teks-teks yang setidaknya bisa ia baca. Ia juga membuka-buka laci meja kerja dan mengamati buku-buku di meja tersebut. Sama saja. Tak ada satu kata pun yang bisa ia baca. Tak ada satu huruf pun yang ia kenali. Ia seperti sedang berada di sebuah kawasan asing; jauh dari kota di mana selama ini ia tumbuh. Sementara itu, seseorang yang meneleponnya tadi, masih terus berbicara dengan bahasa yang tak ia kenali.

Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Dan dalam kebingungannya itu ia mengaktifkan mode loudspeaker dan menaruh ponselnya di meja kerja. Ia sendiri duduk di pinggiran kasur, memandangi langit malam di balik jendela. “Aku di mana?” gumamnya, tentu saja dengan bahasa yang ia sendiri belum tahu itu apa.

Menurut Saika-san, begitu aku akhirnya menyebut perempuan Jepang tadi, yang kugambarkan di cerita pendekku itu adalah sebuah kegamangan identitas, di mana seseorang tiba-tiba saja merasa begitu asing dengan apa yang dimilikinya dengan apa yang ada pada dirinya dengan apa-apa yang ada di sekitarnya, padahal sesungguhnya, secara teknis, perubahan itu tidak ada. Tidak terasa, lebih tepatnya. “Dan aku suatu kali merasakan itu,” ujarnya. Saika-san kemudian bercerita panjang lebar tentang apa yang dialaminya itu, yakni bahwa suatu malam ia terbangun dan mendapati ia begitu cemas seakan-akan ia telah berubah menjadi seekor serangga besar, atau seakan-akan ia sebelum jatuh tertidur itu baru saja melakukan sebuah pembunuhan dan tak lama lagi ia akan mendengar sirene polisi dan terpaksa melarikan diri.

“Aku merasa bersalah. Di saat yang sama aku merasa aku semestinya tak di sana,” katanya.

Saat itu konon ia sedang berada di sebuah kamar hotel di Shibuya, dan mantan suaminya masih terlelap di sampingnya; mereka sendiri tengah berlibur dalam rangka merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima.

“Kami tak memiliki anak, sehingga bisa dibilang itu seperti kami sedang berbulan madu saja. Dan mantan suamiku memilih Shibuya sebab dulu aku pernah tinggal dan bekerja di sana. Dan kami sesungguhnya menikmatinya, seingatku,” lanjut Saika-san.

Namun begitulah malam itu ia terbangun dan merasakan ada yang salah dengan dirinya, dengan keberadaannya di sana, dengan segala hal yang ada di sekitarnya saat itu.

“Aku memandangi mantan suamiku dan mengelus-elus pipinya seolah-olah memastikan ia benar-benar ada, nyata, dan aku pun begitu, dan hubungan dan kebersamaan kami pun begitu. Dan ketika aku berdiri di balkon beberapa lama kemudian, dengan angin dingin sesekali membuatku bergidik, aku menyadari: aku muak dengan semua itu, dengan semua hal yang ada padaku, dengan semua yang ada di sekitarku. Aku seperti harus … melarikan diri. Dan aku benar-benar melakukannya.”

Berdasarkan pengakuannya malam itu, Saika-san berpakaian dan mengemas baju-baju dan meninggalkan mantan suaminya di kamar hotel, tanpa meninggalkan memo atau semacamnya. Ia pergi. Ia menyetop taksi di pinggir jalan dan meminta si sopir taksi membawanya mengitari kota sampai ia kelak memintanya berhenti. Di dalam taksi, di sepanjang perjalanan, ia memikirkan banyak hal, mencoba mengingat-ingat apa-apa saja yang telah dialaminya dalam beberapa tahun terakhir, dalam beberapa belas tahun terakhir, baik di negerinya itu maupun di Indonesia. Ia merasa ajaib perasaan terasing dan muak itu tiba-tiba saja menghantamnya seakan-akan selama ini hidupnya baik-baik saja, seolah-olah selama ini ia baik-baik saja.

“Itu sebuah bukti betapa tololnya kita, manusia; kita terlampau membiarkan diri kita terbawa arus dan lambat-laun melihat arus itu sebagai arus kita sendiri, sebagai sesuatu yang berasal dari kita,” jelasnya.

Aku mencoba membayangkan taksi yang melaju di jalanan lengang di Shibuya ketika pagi masih terlalu dini, ketika tengah malam belum lama berlalu, ketika sebagian besar orang tentunya sangat lelah dan terperangkap dalam tidur yang lelap dan tanpa mimpi. Apakah saat itu Saika-san merasa lapar, atau haus? Apakah tubuhnya bergemetar, atau tidak? Aku lantas mengingat-ingat cerita pendekku itu; mencoba mencari adegan serupa atau yang bernuansa sama. “Sungguh, aku senang membaca cerita pendekmu itu,” ujar Saika-san, membuyarkan visualisasiku.

***
DI dalam cerita pendekku itu, si perempuan memutuskan untuk meninggalkan kamar apartemennya. Ia tak membawa ponsel, sebab ia merasa itu percuma. Sebenarnya ia pun terpikir untuk tidak membawa uang, namun untuk yang satu ini ia bertaruh-siapa tahu nanti ia menemukan cara untuk menggunakan uang itu. Ia berjalan di lorong; ia turun lewat lift; ia mengangguk sopan kepada resepsionis, juga satpam yang berjaga di dekat pintu masuk. Di bahu jalan, ia terdiam. Kota tempat ia berada itu tak pernah begitu sepi; bahkan di dini hari seperti itu sejumlah mobil masih terlihat melintas di jalan raya. Beberapa kali ia pun melihat taksi. (Ia memang tak bisa membaca tulisan “taksi” di mobil itu tetapi ia ingat bentuknya, juga warnanya.) Ia sempat berpikir untuk menyetop salah satunya, namun urung melakukannya. Pada akhirnya ia memilih untuk berjalan kaki saja, dengan langkah-langkah yang pelan dan malas. Udara dingin mengepungnya. Sesekali ia menengadah memandangi langit sementara kedua tangannya senantiasa ia masukkan ke saku mantel. Ketika ia membuang napas, ia bisa melihat napasnya sendiri-sebuah kepulan asap yang tipis dan samar.

***
“APA yang kulakukan malam itu menjadi awal dari perceraian kami setengah tahun kemudian,” kata Saika-san. Ia menilai keputusan itu tepat, meski dari nada bicaranya aku bisa merasakan ada sedikit penyesalan. Selepas “bulan madu” itu mereka konon pulang ke Indonesia sendiri-sendiri—satu tiket pulang untuknya jadi terbuang percuma. Mantan suaminya memarahinya setibanya ia di Indonesia; memarahinya habis-habisan sampai-sampai ia menduga selama ini kemarahan itu tertanam dan tumbuh subur di alam bawah sadar lelaki itu; bahwa hubungan dan kebersamaan mereka sesungguhnya tidaklah baik-baik saja, tidak pernah baik-baik saja. Selama “pelarian”-nya di Shibuya itu sendiri, ia mematikan ponsel. Ia baru mengaktifkan kembali ponsel delapan hari kemudian, sehari sebelum ia kembali ke Indonesia.

“Ada satu hal yang kupahami dari apa yang kulakukan itu, dan itu menyakitkan, jujur saja,” ujarnya. Ia bilang selama “pelarian”-nya itu ia sama sekali tidak merasa di rumah dan apa-apa yang pernah dialaminya di kota itu seperti menguap sekejap setelah ia mengingatnya. “Aku bukan lagi seorang Jepang seperti yang kupikirkan, dan itu membuatku putus asa,” sambungnya. Ia menilai bahwa sebagian dari dirinya adalah hal-hal yang diperolehnya bukan di kota tumbuh-kembangnya itu melainkan di sini, di Indonesia, bersama seorang lelaki Indonesia yang mencintainya.

“Dan itu kemudian membuatku berpikir,” lanjutnya, “aku mungkin memang semestinya di sini, di Indonesia, meski aku tak bisa juga mengatakan aku ini seorang Indonesia, dan bahwa aku berada di rumah. Sebab semuanya telah terlalu … bias.”

Setelah mengatakan itu, ia tersenyum. Senyum yang pahit.

“Mungkin sejatinya semua hal di kehidupan ini memang begitu—bias,” kataku, dan aku tak tahu kenapa aku mengatakannya.

Saika-san kembali tersenyum; kali ini senyumnya yang segar itu. Ia kemudian menoleh ke arah kanannya, mengamati entah apa itu di balik jendela.

“Aku menikmati hari-hariku di sini, di negeri ini,” ujarnya kemudian.

Kukatakan bahwa aku bisa melihat itu, dan tanpa melihatku ia melebarkan senyumnya.

Bogor, September-November 2017

Catatan:
1. cantik, imut


Ardy Kresna Crenata tinggal dan bergiat di Bogor. Buku kumpulan puisinya, Kota Asing (Basabasi, 2017). Buku kumpulan cerita pendeknya, Sebuah Tempat di Mana Aku Menyembuhkan Diriku (Diva Press, 2017).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ardy Kresna Crenata
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 11 - 12 November 2017

0 Response to "Percakapan dengan Saika-san"