Perempuan Berambut Api | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Berambut Api Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Perempuan Berambut Api

DOSA terbesar saya hari ini adalah karena saya telah membiarkan rambut saya tergerai. Orang-orang memandang saya dengan kebencian yang tidak saya mengerti. Terutama perempuan tua berambut kusut itu. Ia mengira saya adalah perempuan Liak, yang gemar menari di kuburan desa untuk merapal mantra ilmu hitam. Ia menuduh saya kerap menari memutari Sanggah Cucuk, dengan menaikkan satu kaki, sambil melengkingkan tawa mengikik yang meremangkan bulu kuduk. 

Perempuan itu mengatai-ngatai saya perempuan berambut api. Ia membuang ludahnya yang kental setiap saya melintas. Orang-orang lain ikut membenci saya.

“Kamu masih bau kuburan,” katanya dengan suara yang serak dan dalam.

“Kelak kau akan diburu obor yang menyala-nyala. Di tempat itu, kau tidak dapat lagi memamerkan senyummu. Kau hanya akan menjerit-jerit kesakitan. Tubuhmu akan menjelma batang-batang kayu bakar. Kau akan menjadi makanan api. Ia akan menyulapmu, menjadi seonggok abu.”

Perempuan itu memercayai apa yang belum pernah dilihatnya. Setiap Kajeng Kliwon, ia mematai-matai rumah saya. Berupaya menangkap basah saya bersalin rupa menjadi kera, babi bertaring panjang, kerbau berkaki tiga, kuda atau mungkin seekor anjing yang buduk. Menguatkan tuduhannya, bahwa saya perempuan yang kerap merapal mantra di pekuburan desa, menunggu mantra itu masak untuk bersalin rupa menjadi jenis-jenis binatang itu.

Setiap Kajeng Kliwon, ia mondar-mandir di jalan setapak di depan rumah saya. Perempuan itu memegang sebatang tongkat yang besar dan panjang, bersiap menunggu munculnya jenis-jenis binatang yang diingatnya itu. Namun yang sering melintas adalah seekor anjing buduk, seperti umumnya jalan setapak di desa kami. Pada suatu malam, ia pernah memukul seekor anjing buduk dengan teramat keras, sampai anjing itu terkaing-kaing memilukan.

Anehnya, ia tidak pernah punya nyali untuk benar-benar membuntuti saya ke kuburan desa, untuk membuktikan kebenaran dugaannya. Ia cukup puas dan yakin dengan perkiraannya sendiri.

Tak ada warga desa yang tahu dengan tabiat perempuan tua berambut kusut itu. Tak ada pula warga desa yang menganggap perempuan itu adalah perempuan yang kejam. Ia pemarah dan pembenci siapa saja. Setiap ada Odalan di Pura, ia duduk di tempat yang paling tinggi. Di sebuah bangku yang beralaskan beludru dengan sulaman keemasan di beberapa bagian.

Dari tempat duduknya, ia bisa memandang orang-orang lainnya dengan leluasa. Ia selalu duduk dengan bahu tegak dan kepala mendongak. Rambutnya digelung tinggi, dengan pita berwarna perak yang membungkusnya. Tak seorang pun berani mengusiknya. Atau sekadar melempar pandangan ke arahnya. Sampai suatu ketika mata kami bertatapan di satu titik.

Itulah titik permulaan, perempuan itu memandang saya, dengan matanya yang seperti ingin memakan saya hidup-hidup.

“Senyummu terlihat menjijikkan. Rambutmu acak-acakan seperti Liak. Oh itu, apa kau baru saja mencuci rambutmu dengan bunga mawar? Mulai besok kau harus menggelung rambutmu. Namun gelunganmu tidak boleh melampauiku. Kalau sampai aku melihatmu lagi dengan rambut tergerai, aku bersumpah seluruh desa akan membencimu.”

Perempuan itu menyeringai puas saat mulut saya terkatup rapat. Ia tak tahu sedang berbicara dengan perempuan bisu. Ia puas mengira saya terdiam ketakutan. Hanya matanya… matanya yang mengawasi riak mata saya yang tak tunduk kepadanya, setajam apa pun ia mencoba melubangi keyakinan saya.

Perempuan berambut kusut itu tak tahu, sekalipun tak memiliki suara, saya dapat membaca riak telaga di matanya. Mudah sekali melesat ke ceruk terdalam dan paling hitam dari bola matanya dan mencuri rahasia-rahasianya. Perempuan itu sebetulnya letih dengan kesendirian yang panjang. Dengan pengkhianatan demi pengkhianatan. Walaupun ia telah bersikap teramat lunak pada laki-lakinya. Laki-laki itu pergi setelah memeras seluruh cairan manis dari tubuhnya. Yang tersisa adalah kebencian yang mengerak di lingkaran hitam kelopak matanya. Kebencian terlalu berat untuk disangga oleh dua kelopak matanya yang mungil. Ia harus membagikannya kepada sebanyak mungkin. Saya hanya seorang perempuan malang yang berada di tempat yang salah. 

***
KONON orang yang termulia lahir tanpa rambut. Warna hitam menyimpan gelap yang mencekam. Seperti liang sumur yang sempit dan dapat menjebakmu dalam lekukannya yang berlumut dan berlendir.

“Berarti orang gundul adalah orang-orang termulia?”

Aku tersenyum tipis. Ada hal-hal yang tak perlu ditanggapi. Perdebatan bukanlah segalanya.

Anakku mengerjapkan mata, berusaha melawan kantuk. Pagi datang, namun kantuk masih memberatinya.

“Bangunlah, Nak. Sebelum Pagi dikalahkan oleh Malam. Mereka sedang bertarung dengan sengit.”

Mulutnya yang mungil menguap lebar. Tidak ada hal-hal yang sungguh dikhawatirkannya. Susu habis, atau mainan yang rusak?

“Kalau kau tak segera bangun, Setan Rambut akan mengejarmu?”

“Apa Setan Rambut itu, Ma?”

“Setan yang berambut gimbal, dengan punggung yang berlubang. Ia suka mengejar anak-anak yang kelebihan waktu tidur. Setan itu ingin merebut mimpimu.”

Si bocah masih menguap lebar. Betul-betul tak ada yang dapat menakutinya. Bocah edan.

“Apa Setan Rambut tak takut padaku? Rambut lurus dan tajam-tajam seperti duri.”

“Setan Rambut tak takut pada apa pun.”

“Aku juga tidak takut pada apa pun.” Pipi tembamnya terlihat kemerahan. Membuatku terjebak dalam tawa dan tangis secara bersamaan.

“Bangunlah. Kita harus segera bersembunyi di kolong meja.”

“Aku sedang menunggu Tiko, Ma. Dia akan sedih kalau aku tidak ada.”

“Jangan menunggu seekor anjing dan membahayakan keselamatanmu. Seekor anjing hanya bisa menjilat. Ia akan dengan mudah menjilat yang lainnya.”

Muka anakku memerah seperti bola api.

“Anjing bukan penjilat, Ma. Anjing setia.”

Aku belum pernah melihatnya berubah menjadi bola api. Aku segera menggendongnya menuju kolong meja. Tak ada waktu lagi untuk berdebat dengannya.

“Aku tahu apa yang salah denganmu?”

“Apa?”

“Matamu.” Aku mendelik gemas. Sekali lagi dalam tangis dan tawa.

“Matamu membuatmu menjadi pengecut. Kau selalu ketakutan setiap mata seseorang berubah menjadi bola api. Bola api tidak bisa membunuhmu. Ia hanya menyimpan warna merah yang segera akan menghilang.”

“Jadi apa yang harus aku lakukan. Lawanlah. Bukan saatnya lagi bersembunyi di kolong meja.”

“Kita akan bertarung melawan Setan Rambut?”

“Kita akan bertarung dengan siapa saja. Kita melawan siapa saja yang jahat dan mengambil apa yang menjadi hak kita.”

“Betul. Seperti Setan Rambut, kita tak takut pada apa pun.”

Bocahku tersenyum tipis, kemudian terlelap dalam gendonganku.

***
KEBENCIAN itu konon seperti jamur. Mudah tumbuh di tempat yang lembab dan gelap. Orang-orang desa masih menatap saya dengan sorot mata benci dan mereka tak kunjung lelah. Padahal saya mulai bosan.

Waktu berkhianat dan memihak perempuan berambut kusut itu. TV-TV mulai menyamarkan rambut-rambut perempuan yang tampak di layar kaca. Tak seorang pun tampil dengan rambut tergerai di papan-papan reklame. Gelung rambut dengan pita keperakan terlihat di mana-mana. Saya seperti melihat senyum perempuan itu di mana-mana. Perempuan yang menggelung tinggi rambutnya dan duduk di atas tempat duduk beludru berwarna keemasan.

Perempuan itu selalu menusuk mata saya dengan belati kebencian. Mungkin merasa sia-sia membuat saya tunduk dan takluk. Merasa sia-sia untuk membujuk saya menjadi pengikutnya. Ia hanya belum tahu, saya bisu.

Yang tidak ia ketahui, setiap kali sorot mata itu membidik mata saya, saya lebih dahulu melesat ke ceruk matanya yang terlihat menganga. Mengaduk-aduk isinya, membuatnya membocorkan rahasia-rahasia.

Laki-lakinya pergi dengan seorang perempuan yang mengurai rambutnya. Perempuan yang menghamburkan manis dari senyumnya. Laki-laki itu terserap oleh lesung dari pipinya. Terserap masuk, bagai jin yang terperangkap di dalam botol. Karena itu ia ingin mencabut senyum dari perempuan mana pun. Agar tak ada lagi yang merebut laki-lakinya.

Saya lelah dikelilingi jamur kebencian di mana-mana. Saya ingin menyerah. Tunduk. Takluk. Beberapa kali saya memandangi bayangan saya di cermin, mencoba menggelung rambut saya seperti perempuan berambut kusut itu. Memandangi wajah saya di cermin, seketika saya tak mengenali diri saya. Seseorang seperti telah mengikat serat-serat saraf di otak saya menjadi segenggam serabut yang kusut. Pikiran saya mandek, tak mampu lagi berkeliaran di kepala saya. 

Pada suatu waktu, di depan perempuan itu, saya menggelung rambut saya dengan pita warna keperakan. Menyunggingkan sebuah senyum untuknya ketika kami berpapasan. Mencoba merayunya dengan bendera perdamaian. Perempuan itu mengamati rambut saya dan terlihat puas. Kemudian matanya tiba pada garis senyum, dan bola api itu memijar kembali.

“Senyummu menyebalkan. Kau harus menanggalkannya dari wajahmu.”

***
KAU tahu tanah menyimpan suara-suara yang mengambang di udara dan menyimpannya di dalam dirinya. Tanah merekam apa-apa yang kau katakan dan mengubahnya menjadi struktur dalam tubuh mereka. Menjadi aroma. Menjadi warna. Menjadi kepadatan.

Orang-orang pemarah tinggal di atas tanah yang meranggas dan mengeras. Tak ada pohon yang sukacita tumbuh di atasnya. Tidak ada tamu yang berniat singgah untuk sekadar mengagumi matahari terbit. Kau harus berhati-hati dengan perkataanmu. Berhati-hati menyemburkan sumpah serapahmu. Jangan sampai tanah mengabadikannya menjadi rasa asam.

Warga desa mengangkat tubuh perempuan itu dari kursi goyangnya, setelah bau busuk menyengat hidung mereka. Sepasang matanya mendelik tak rela.

Rumah milik perempuan berambut kusut itu, kini dibunuh sepi. Ditebas keangkeran seperti tanah pekuburan. Tak ada warga desa yang berniat menghuni rumah besar dengan bangunan elite yang ada di sana. Rumah termegah yang ada di desa kami. Semua orang memilih kembali ke gubuk bambunya masing-masing.

Entah apa yang ada di benak mereka. Mungkin mereka enggan meninggali tanah yang asam dan meranggas. Pepohonan mengering dan layu. Tak tahan pada hawa panas kemarahan yang bertahun-tahun memanggang mereka.

Mereka tak lagi ikut-ikutan memandang saya dengan kebencian. Mungkin mereka pun bosan. Mungkin karena tak ada lagi perempuan berambut kusut itu. Entah yang mana yang menjadi penyebabnya. Mereka membiarkan saya menggerai rambut saya kapan pun dan di mana pun. Mereka membiarkan saya tersenyum semau saya, tanpa berniat menanggalkannya dari wajah saya.


Catatan
Liak : perempuan yang mempraktikkan ilmu hitam
Sanggah Cucuk : suatu bentuk sarana upacara yang terbuat dari anyaman bambu
Kajeng Kliwon : salah satu hari penting dalam kegiatan upacara di Bali.
Odalan : acara penting di Pura

Ni Komang Ariani tahun 2008 menjadi pemenang Lomba Menulis Cerbung di Femina melalui novelet Nyanyi Sunyi Celah Tebing. Tiga cerpennya masuk dalam Cerpen Kompas Pilihan 2008, 2010, dan 2015. Bukunya yang telah terbit adalah Lidah, Senjakala, Bukan Permaisuri, dan Jas Putih. Dua bukunya, Bukan Permaisuridan Senjakala, masuk dalam 10 Besar Khatulistiwa Literary Award.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ni Komang Ariani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 12 November 2017

0 Response to "Perempuan Berambut Api"