Perempuan di Galeri 27 atawa Smells Like Empty Spirit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan di Galeri 27 atawa Smells Like Empty Spirit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Perempuan di Galeri 27 atawa Smells Like Empty Spirit

KEMARIN Sirin bertemu seorang perempuan di Galeri 27. Mereka sama-sama menatap sebuah lukisan yang menghamparkan pemandangan alam ganjil; matahari berwarna oranye terapung di atas hamparan biru laut. Permukaan laut itu berkilau-kilau dengan garis acak ombak berbuih putih. Di antara semua lukisan yang dipamerkan, lukisan itu yang paling menarik perhatian Sirin. Hampir tak terbayangkan matahari berwarna oranye dan laut berwarna biru. Sirin melihat nama si pelukis, Kurtu Kobani, dengan judul lukisan “SmellsLike Empty Spirit”. Sirin membaca ulang judul lukisan itu. Lalu seperti baru teringat, ia membuka-buka katalog. Di katalog tertulis Kurtu Kobani sudah meninggal karena bunuh diri.Dia menembakkan pistol ke mulut-nya.

“Ini satu-satunya lukisan Kurtu.” Tiba-tiba dari sebelahnya seorang perempuan bersuara.

Sirin menoleh dan melihat perempuan itu menatap lukisan di depannya tanpa berpaling. ”Benarkah?” tanya Sirin. Ia sudah melihat lukisan-lukisan lain, meskipun tidak membaca nama tiap pelukis dengan saksama, ia merasa tidak membaca nama Kurtu Kobani, kecuali di lukisan ini.

“Iya. Sebenarnya penyelenggara tidak memasukkan lukisan ini dalam daftar lukisan yang akan dipamerkan.Tapi seorang kurator bersikeras memasukkannya,” jawab perempuan itu tanpa menoleh. 

“Anda rupanya mengetahui banyakseluk-beluk pameran ini,” balas Sirin.

Kali ini perempuan itu menoleh. Sirin dapat melihat wajahnya dengan jelas. Tulang pipinya menonjol, menyebabkan lekuk tajam di ruang sisi hidung dan bibir. Kedua organ itu tampak serasi, bentuk hidungnya ramping dan mancung, bibirnya kecil dan sedikit kering. Dia mengenakan tutup kepala dari kain lembut berwarna krem, menyebabkan efek pucat pada parasnya.

“Anda Sirin kan?” katanya kemudian. 

Sirin terkejut. Ia tak mengenal perempuan itu. Sirin mengingat-ingat. Tapi meskipun berusaha keras, ia yakin tak pernah bertemu perempuan itu sebelumnya. “Benar. Apa kita pernah bertemu?” tanya Sirin.

Perempuan itu tidak menjawab.“Di antara semua lukisan yang dipamerkan, aku paling suka lukisan ini. Terutama karena dibuat bukan oleh seorang pelukis profesional. Judul lukisan ini menggunakan citra yang tidak berhubungan dengan rupa. Aroma tidak memiliki rupa bukan? Seolah-olah pelukisnya meminta kita menghirup aroma dari lukisannya. Tentu bukan aroma materialnya, melainkan aroma visualnya.”

“Lukisan ini memang tidak bergerak, tapi aku bisa merasakan jiwanya. Hanya jiwa itu tidak berada dalam lukisan ini, tetapi di suatu tempat, entah di mana,” jawab Sirin seakan melanjutkan apa yang dituturkan perempuan itu. Sirin heran dengan kata-katanya sendiri. Lalu ia bertanya lagi, “Tapi Anda belum menjawab pertanyaan saya. Apa kita pernah bertemu?”

Seakan-akan tidak mendengar pertanyaan Sirin, perempuan itu balik bertanya, “Anda pernah mendengar tentang Kurtu Kobani?”

Sirin diam sesaat sebelum menjawab, “Tidak.” Lalu melanjutkan, “Maksudku, aku tidak tahu siapa dia, tapi rasanya aku pernah mendengar nama itu entah kapan dan di mana.”

“Kurtu Kobani adalah penderita schizofrenia. Ia melarikan diri dari azilum sebelum bunuh diri dikamarnya. Apa yang dilukisnya tampaknya adalah apa yang dilihatnya. Dia benar-benar melihat matahari berwarna oranye dan laut berwarna biru. Sejak kecil ia punya bakat menggambar. Waktu ia dibawa ke azilum, di kamarnya ditemukan banyak sketsa, baik di dinding maupun di kertas gambar. Selain itu ditemukan juga tulisan-tulisan acak. Psikolognya mengurai gambar dan tulisan-tulisan itu. Sebagian besar perihal bentuk alam semesta, bagaimana alam semesta tercipta dan bagaimana hukum-hukum yang bekerja di dalamnya. Psikolognya terheran-heran sebab ñ meskipun mustahil — uraian Kurtu Kobani apabila dirunut tampak sangat terperinci.”

Perempuan itu memberi jeda sesaat, sebelum melanjutkan, “Lalu lukisan ini ditemukan menempel di langit-langit kamarnya, bagaikan lukisan gua. Seorang kurator yang menangani pameran ini adalah kawan baik si psikolog. Ia diundang untuk menilai. Secara teknik, kata si kurator, lukisan ini tidak menampakkan kerja seorang seniman. Tapi kurator ini tak bisa menampik jiwa lukisan ini demikian kuat. Dia bahkan bisa merasakan hawa panas memancar dari matahari dan angin bergaram berembus dari laut. Karena itu dia bersikeras memasukkan lukisan ini dalam pameran.”

Sirin berusaha mencerna kata-kata perempuan itu perlahan, tapi berondongan kalimatnya membuat Sirin merasa seperti bayi yang dipaksa menelan makanan. “Seperti say abilang tadi, Anda rupanya mengetahui banyak seluk-beluk pameran ini. Tapisekali lagi, saya penasaran, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

Perempuan itu lagi-lagi tidak menjawab.

“Sirin!” Tiba-tiba dari belakang mereka seseorang memanggil. Sirin menoleh, perempuan itu juga menoleh. Sirin tidak mengenal lelaki yang berdiri tak jauh dari mereka. Apakah dia yang tadi memanggil?

“Halo, Jim Hendri. Apa kabar?” Sekonyong-konyong perempuan itu bergerak menghampiri si lelaki. Kulit lelaki itu hitam, rambutnya kribo dan ia mengenakan ikat kepala berwarna magenta. Lelaki itu tersenyum, lalu mereka berpelukan seperti kawan lama yang baru berjumpa lagi.

Sirin? “Namanya sama dengan namaku,” gumam Sirin. Atau mungkin lelaki itu sebenarnya memang memanggil Sirin, kebetulan saja perempuan itu juga mengenalnya. Tapi Sirin tidak punya kenalan bernama Jim Hendri. Lagipula lelaki itu tidak sedikit pun melihatnya. Artinya perempuan itu memang bernama Sirin. Sama dengan namanya. Sesaat Sirin melihat mereka bercakap-cakap, lalu ia memperhatikan lagi lukisan di haapannya; matahari berwarna oranye terapung di atas hamparan biru laut.

Ketika Sirin menoleh ke belakang, kedua orang itu sudah tidak ada. Matanya mencari ke seantero galeri, tapi keduanya tidak terlihat. Segera ia beranjak keluar. Kedua orang itu tetap tidak ditemukan. Kepalanya jadi sedikit pening. Sirin duduk sebentar di bangku besi di trotoar. Lalu ia putuskan pulang. Bayangan lukisan dan perempuan tadi memenuhi kepala. Di tengah jalan tiba-tiba ia terpikir untuk pergi ke pantai. Ia menumpang taksi dan turun beberapa meter dari gerbang pantai.

Laut berwarna oranye demikian tenang terhampar seperti agar-agar. Di atasnya matahari berwarna biru terapung-apung. Sebentar lagi matahari akan berwarna hitam dan malam akan datang. Pening di kepala Sirin belum hilang. Ia berpikir menemui lagi dokter Ami Winhus. Ia senang berbincang dengan dokter itu. Meskipun penampilannya aneh, dia dokter ahli dan sangat ramah pada pasien. Dia juga menyukai musik jazz.

Sepanjang jalan menuju tempat praktik dokter Ami Winhus, Sirin melihat banyak poster ditempel di mana-mana. Poster bergambar seorang bayi sedang berenang dan dihadapannya selembar uang mengapung bagai kupu-kupu. Tampak kesan si bayi sedang mengejar uang itu. Poster itu hanya bertuliskan“Nevermind”. Sirin tidak tahu poster itu mempromosikan apa.

***
DARI jendela kamarnya, Sirin melihat matahari berwarna biru perlahan-lahan muncul bagai bola cahaya naik ke permukaan air.

Ia tidak punya rencana apa-apa hari ini. Lalu ia putuskan datang ke Galeri 27. Setelah mandi dan berpakaian,Sirin siap berangkat. Sesaat ia teringat kedua orang tuanya. Mereka penganut agama yang taat. Aku tidak bisa hidup seperti itu, kata Sirin dalam hati. Ada kesedihan bergerak dalam dadanya. Segera dia geleng-gelengkan kepala untuk menepis ingatan pada orangtuanya. Ketika hendak berangkat ia melihat tutup kepala berwarna krem tersampir di sandaran kursi. Dia raih tutup kepala dari kain lembut itu kemudian memakainya. Sirin sempat melihat ke cermin. Tutup kepala itu membuat efek pucat pada wajahnya. Tapi Sirin tidak terlalu peduli.

Sesampai di galeri, Sirin segera menuju lukisan “Smells Like EmptySpirit”. Di depan lukisan itu seorang perempuan berdiri. Sirin berjalan ke sebelah perempuan itu, tapi tampaknya ia terlalu asyik menatap lukisan sehingga tidak menyadari kehadiran Sirin. “Ini satu-satunya lukisan Kurtu,” kata Sirin sambil tetap menatap lukisan.

Perempuan itu menoleh.“Benarkah?” tanyanya.

“Iya. Sebenarnya penyelenggara tidak memasukkan lukisan ini dalam daftar lukisan yang akan dipamerkan. Tapi seorang kurator bersikeras memasukkannya,” jawab Sirin tanpa menoleh.

“Anda rupanya mengetahui banyak seluk-beluk pameran ini,” kata perempuan itu.

Kali ini Sirin menoleh. Dia dapat melihat wajah perempuan itu dengan jelas. Tentu saja Sirin mengenal perempuan itu. “Anda Sirin kan?” katanya kemudian.

Perempuan itu tampak terkejut.“Benar. Apa kita pernah bertemu?”tanyanya.

Sirin tidak menjawab.

Kekalik, 2017

- Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisinya Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? mendapat Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Ia mengelola Komunitas Akarpohon, di Mataram, Nusa Tenggara Barat (44).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 12 November 2017

0 Response to "Perempuan di Galeri 27 atawa Smells Like Empty Spirit"