Sebatang Beringin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sebatang Beringin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:00 Rating: 4,5

Sebatang Beringin

POHON beringin itu meranggas serupa tulang-tulangku. Ranting-rantingnya berjatuhan karena mengering. Tak seorang pun sudi berteduh di bawah kanopinya. Aku sendirian melawan sepi sembari menghitung ratusan keriput meraja di tubuh. Setiap akhir bulan September, aku merayakan kesedihan. Tanpa orang-orang terdekat.

Tanpa lilin dan kue tart. Tak ada tepuk tangan dan nyanyian. Aku merayakan kesedihan dengan pergi ke sebuah bukit di pinggir desa. Di tengahnya tumbuh sebatang pohon beringin yang selalu dihinggapi burung serindit. Di bawah bukit terbentang jalan berkelok menuju kota.

Tiga puluh tahun silam, di tempat itu aku melepas pergi suamiku, Jeandar. Ia bersikeras ikut temannya menjadi buruh di kota. Ada ratusan gedung pencakar langit sedang dibangun di sana. Butuh pekerja tidak sedikit. “Arimbi, aku tidak bisa lagi menghidupimu dari hasil menyadap karet.

Hasilnya tidak menentu. Izinkan aku ikut Jaluddin ke kota menjadi buruh.” Jeandar sudah ratusan kali membujukku malam itu. Aku terdiam dengan dada penuh sesak. Malam kian dalam. Rasa kantuk dikalahkan pedih menyeruak.

“Tapi aku sedang hamil.” Sesak dalam dada pecah menjadi isak tangis. Aku menggeser tubuh lebih dekat, lalu memeluk tubuh telanjang Jeandar. Tangisku tumpah di dadanya. “Bila sudah bulannya untuk melahirkan, aku akan minta cuti. Bekerja di kota buat calon anak kita juga,” bisik Jeandar di telingaku.

Bibir tebalnya menciumi seluruh wajahku tanpa henti. Napasnya mendesis bagai ular. Aku mencium aroma kemangi dalam napasnya. Aroma kemangi dari gulai ikan gabus yang kami santap lima jam lalu. Akhirnya aku mengizinkan suamiku pergi ke kota. Jaluddin menjemput ke rumah pagi-pagi sekali.

Mereka menumpang mobil truk pembawa sayur. Aku berusaha menahan air mata yang menumpuk di sudut kelopak. Pantang melepas orang yang kucintai dengan air mata kesedihan. Mobil truk melaju meninggalkan bekas roda di jalan berdebu.

Belum sepenuhnya ikhlas melepas Jeandar, aku berlari ke belakang rumah, memotong jalan melewati persawahan dan ladang jagung. Sekuat tenaga kujejaki jalan setapak menuju bukit. “Jangan pergiiii!” Aku berteriak sekuat tenaga pada jalan berkelok di bawah bukit.

Mobil tampak kecil bergerak seperti semut. Mustahil teriakanku terdengar. Tiba-tiba perutku sakit sekali seperti ada ratusan ular piton melilit. Darah mengalir di kedua pahaku.

Seorang bapak tua melihatku tergeletak di bawah pohon beringin meregang nyawa. Ia memanggil warga. Namun bayiku meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Jeander pasti sangat sedih bila tahu bayi kami meninggal. Hari kepergian Jeandar menjadi awal kesedihanku tak berujung.

Seminggu berlalu dan bulan pun berganti. Jeandar tidak kunjung kembali. Kabar tak ada. Apa ia sedang sakit? Apa pekerjaannya terlalu banyak? Bila nanti ia pulang, aku akan memasak gulai ikan gabus beraroma kemangi kesukaannya.

Mencabuti jambang yang tumbuh liar di sekitar rahangnya. Ia akan merasa enak dan tertidur di pangkuanku. Aku dengar Jaluddin telah balik dari kota. Ia membawa banyak uang. Istrinya langsung membayar utang di warung Emak Jahida.

Mengapa Jeandar belum kembali? Aku pergi menjumpai Jaluddin ke rumahnya, menerobos gerimis turun sore itu. “Bagaimana keadaan suamiku?

Mengapa ia belum kembali?”

Jaluddin yang tengah bermain dengan anaknya di teras rumah langsung memalingkan wajah, tak kuasa memandangku.

“Apa kamu menyimpan suatu rahasia tentang suamiku?” Jaluddin menatapku cukup lama. Aku tak sabar mendengar kabar Jeandar. “Maafkan aku. Mungkin ini akan membuatmu terluka, Arimbi!” “Apa ia sakit?” tanyaku. Jeandar tidak boleh sakit.

Ia laki-laki kekar tak pernah terkalahkan. Aku mencoba tenangkan hati. “Jangan menunggu Jeandar lagi. Ia telah menikah dengan putri pemborong proyek tempat kami bekerja.” Jantungku berdetak kencang, berharap Jaluddin segera tertawa dan mengatakan baru saja berbohong.

Namun telingaku bukan pengkhianat dan belum tuli. Jaluddin berkata benar. Aku melihat riak keseriusan di wajahnya. Air mataku jatuh. Semua sudah tiada. Suami dan anakku pergi meninggalkanku.

***
BATANG beringin di puncak bukit makin tua. Akar yang menjuntai banyak putus dan membusuk. Akar itu serupa gigiku kini, banyak goyang. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Pun beringin telah berumur ratusan tahun itu. Lihat, daunnya banyak yang gugur. Beberapa hari lalu, Pak Kades bilang ada orang kota membeli tanah puncak bukit. Di sana akan dibangun sebuah vila.

Batang beringin akan ditebang. Di mana lagi aku akan merayakan kesedihan? Setiap akhir bulan September, aku memasak gulai ikan gabus beraroma kemangi membawanya ke puncak bukit. Menggelar tikar pandan di bawah batang beringin yang tumbuh di sana.

Sarapan di puncak bukit dengan lauk ikan gabus jadi penghubung pada masa lalu. Gulai ikan gabus beraroma kemangi mampu menghadirkan kembali Jeandar di sisiku.

“Batang Beringin, lihat, suamiku telah kembali. Tolong suruh burung serindit berhenti berkicau. Suamiku sedang makan.” Aku memarahi batang beringin yang tak mampu menyuruh burung serindit berhenti berkicau. Begitu gulai ikan gabus habis, aku sadar Jeandar tidak pernah ada.

Seketika air mataku tumpah-ruah. Kicauan burung serindit berubah pilu seakan mengerti perasaanku. Aku berjalan ke pinggir bukit, menatap jalan berkelok di bawah sana. Sekuat tenaga aku meneriakkan nama Jeandar pada setiap mobil yang melaju di jalan berkelok itu.

Setelah lelah berteriak memanggil nama Jeandar, aku duduk di antara akar beringin yang menjuntai hingga tertidur dibuai mimpi. Akar itu menjelma bak jari-jari menelisik rambut putihku. Besok bulan September berakhir. Aku bersiap-siap merayakan kesedihan di puncak bukit. Namun sudah tiga hari hujan turun. Lubuk tempatku biasa menangkap ikan gabus meluap.

Tidak tahu mencari ikan gabus ke mana lagi. Meski semua lubuk meluap, tetap bergegas menuju lubuk dekat ladang jagungku. Berharap ada seekor ikan gabus berbaik hati menyerahkan diri ke jaringku. “Sudah tahu puncak bukit akan diratakan pagi ini?” Ucapan Kinanti, tetanggaku, janda muda tanpa anak, membuatku terkejut hingga ember berisi jaring terlepas dari tangan.

Menumbangkan beringin sama saja membunuhku. Aku memutar langkah. Para pekerja dari kota tidak boleh meratakan puncak bukit. Di dunia ini tidak ada lebih mencintaiku selain batang beringin dan burung serindit. Aku benar-benar akan sebatang kara bila puncak bukit diratakan.

“Hentikan! Jangan lakukan ini....” Aku berteriak sembari melompat ke tengah jalan menghalau buldoser yang sedang membalik tanah. Para pekerja tidak mendengar teriakanku.

Suaraku kalah oleh deru mesin. Mereka menatap heran. Mungkin menganggapku wanita tua telah bosan hidup. “Tolong minggir! Jangan menghambat pekerjaan kami.” Akhirnya mesin buldoser dimatikan. “Aku hanya memiliki kesedihan yang aku jaga selama tiga puluh tahun.

Mengapa kalian mau mengambilnya dariku.” Perkataanku membuat mereka makin yakin aku wanita tua telah bosan hidup dan tidak waras. Seorang laki-laki berambut uban menghampiri. Raut wajahnya bengis. Bola matanya menyimpan kemarahan. Laki-laki itu seumuran denganku.

Hidup senang membuat wajahnya sedikit lebih awet. Kami saling tatap. Aku menemukan jalan berkelok di bola matanya. Pun jari-jarinya menjelma bagai ranting pohon beringin. “Aku pemilik baru tanah ini. Mengapa menghalangi para pekerjaku?”

“Di puncak bukit ini, aku menyimpan semua sedihku, menitipkannya pada sebatang beringin tua itu. Aku hanya memiliki kesedihan. Kamu tega merampasnya dariku?”

“Masa lalu yang menyedihkan tidak pantas dikenang. Ayo, hidupkan kembali mesinnya. Tanah ini harus segera diratakan,” ujar laki-laki itu sambil berlalu.

Aku menepi, memberi jalan pada buldoser untuk membalik tanah. Apa aku punya kuasa melarang? Besok pagi, aku tidak bisa lagi merayakan kesedihan. Namun bukan berarti lupa atas kejadian tiga puluh tahun silam, ketika harus kehilangan suami dan anakku.

Aku menatap punggung laki-laki pemilik baru tanah puncak bukit. Ia berjalan memisahkan diri dari keramaian. Semudah itukah ia lupa akan kenangan? Ratusan keriput menjelajah di seluruh wajah membuatku jadi orang asing di matanya. Ia tidak mengenaliku.

Namun aku tidak pernah lupa dia. Ia laki-laki penyuka gulai ikan gabus beraroma kemangi. Ia laki-laki yang membuatku begitu setia merayakan kesedihan di puncak bukit setiap akhir bulan September. Laki-laki itu Jeandar, suamiku. 

- Dody Wardy Manalu, mengajar bidang studi ekonomi di SMA Negeri 1 Sosorgadong.(44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dody Wardy Manalu
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 19 November 2017

0 Response to "Sebatang Beringin"