Sebatang Pohon Itu adalah Seekor Binatang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sebatang Pohon Itu adalah Seekor Binatang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Sebatang Pohon Itu adalah Seekor Binatang

ORANG-ORANG mengira bahwa aku adalah sebatang pohon. Padahal, aku adalah seekor binatang. Dua bulan lalu, pada tengah malam, aku muncul begitu saja di lapangan ini—entah karena apa. Sedari muncul, batangku sudah setinggi 10 meter dan berdiameter 2 meter. Ketika pagi tiba dan aktivitas orang-orang dimulai, tak ada seorang pun yang tak terkejut begitu melihatku. Keterkejutan itu pun membuat mereka segera mengerubungiku.

“Oh, besar sekali!” seru seseorang. “Pohon apa ini?!”

“Aku bukan pohon!” sahutku. “Aku adalah binatang!”

“Hei! Kalian dengar suara itu?”

“Suara apa?”

“Ya suara itu!”

Aku menyahut lagi, “Itu suaraku!”

“Suara itu terdengar lagi!”

“Ah! Aku mendengarnya!”

“Yang mirip serdawa itukah?”

“Ya! Suara yang itu!”

Aku lantas menyadari: orang-orang itu tak mengerti bahasaku—sedangkan aku mengerti bahasa mereka. Maka, dapat disimpulkan, memberitahukan mereka bahwa aku ini adalah seekor binatang tidaklah mudah.

“Aku juga mendengarnya! Dan, kuyakin suara itu berasal dari pohon ini!”

“Bagaimana bisa sebatang pohon bersuara?”

“Bagaimana bisa pohon ini berada di sini?”

“Ini pohon pasti bukan sembarang pohon!” tiba-tiba si Tetua berkata. “Ini pohon pasti titisan Dewa!”

Berkat kalimat si Tetua itulah aku jadi dipuja-puja oleh banyak orang setiap hari. Di kemudian hari, aku dinamai Pohon Dewa oleh mereka.

Kalau kupikir-pikir, tak bisa aku menyalahkan mereka karena menyangka aku adalah sebatang pohon. Sebab, bukan hanya mereka saja yang menyangka demikian, melainkan….

“Sejak kemarin, kuperhatikan kau berdiri terus di dekatku,” ucapku kepada si Makhluk Halus—entah ia laki-laki atau perempuan. “Apa yang sebenarnya sedang kaulakukan?”

“Sejak kemarin, aku adalah penunggumu,” sahutnya. “Yah, ini semua gara-gara pohon yang sebelumnya kutunggui ditebang oleh seseorang. Jadi, terpaksalah aku berpindah tempat dan menungguimu, meski aku sendiri tak tahu pohon apakah kau ini.”

“Aku bukan pohon! Aku adalah binatang!”

Si Makhluk Halus pun terdiam beberapa jenak. Matanya menatapku lekat-lekat. “Tidak mungkin,” ucapnya kemudian.

“Tapi aku tak berbunga pun berbuah, Makhluk Halus! Sebab, aku ini binatang!”

“Tapi, lihatlah, kau ini berbatang, bercabang, beranting, dan berdaun.”

“Tapi aku bermulut! Mana ada pohon yang bermulut?!”

“Di mana mulutmu? Aku tidak melihatnya.”

“Di puncak batangku, tertutup oleh daun-daunku!”

“Kalau memang ada, tapi tak terlihat, bisa saja dianggap tak ada, kan?”

Apakah semua Makhluk Halus semenyebalkan ini? pikirku.

***
SABAN pagi, aku selalu ditemani oleh orang-orang yang berdoa—kepadaku—bersama. Setelah acara berdoa bersama usai, mereka akan meninggalkan sesajen masing-masing di sini, di tanah yang terselimuti bayangan daun-daunku. Kala siang tiba, mereka akan kembali kemari untuk membawa sesajen-sesajen itu pergi.

Kutegaskan, apa yang kupermasalahkan hanyalah kebinatanganku yang tak diakui. Aku tak peduli mau seperti apa orang-orang memujaku.

Omong-omong, sebelum aku ada, siapakah yang mereka puja?

“Orang-orang itu pintar memilih sesajen, ya,” kata si Makhluk Halus suatu waktu, terdengar agak tak jelas sebab ia berbicara sembari mengunyah wujud halus salah satu sesajen yang dipersembahkan buatku.

“Eh, kau yakin tak mau memakan sesajen-sesajen ini? Enak, lho.”

“Tidak. Aku mempunyai makanan dan cara makanku sendiri.”

Perihal cara makanku, akan kujelaskan padamu: Aku memiliki akar, tapi aku makan bukan melaluinya—bagian itu hanyalah “alat untuk berdiri”—melainkan melalui mulut yang terletak di puncak batangku. Mulut itu mengeluarkan aroma yang “menarik” sehingga mangsaku akan memasukinya. (Biasanya, yang menjadi mangsaku adalah kaum insek dan aves.) Dan, tentu saja mulutku akan langsung bekerja begitu ada mangsa yang masuk.

“Kalau tidak memakannya, bagaimana bisa kau menikmati-secara-utuh pemujaan yang dilakukan orang-orang?”

“Aku tak perlu dipuja-puja seperti itu, meski aku tak mempermasalahkan pemujaan yang mereka lakukan!”

“Oh, baiklah …. Setidaknya, Kawan, aku senang kau dipuja-puja. Karena dengan begitu, aku bisa menikmati banyak sesajen setiap hari.”

“Oh ya,” sambung si Makhluk Halus, “perihal kebinatanganmu itu … jangankan mereka, aku yang belakangan ini terus bersamamu pun masih sulit memercayai bahwa kau adalah seekor binatang.”

“Tapi, seperti yang sudah kubilang, aku mempunyai mulut, Makhluk Halus! Mulut bukanlah ciri isik tumbuhan!”

“Tapi, kan, mulutmu tak kelihatan, tertutup oleh daun-daunmu sendiri. Jadi, wajar saja mereka tidak tahu kalau kau mempunyai ciri yang sah sebagai binatang.”

“Lantas, aku mesti bagaimana?”

“Selain mulut, apa saja ciri sahmu sebagai binatang?”

Aku berpikir beberapa jenak. “Aku tidak berfotosintesis. Bukankah itu termasuk ciri binatang?”

“Hmmm … kurang memenuhi. Asal kau tahu, ada beberapa binatang yang berfotosintesis, semisal Elysia chlorotica dan Anemonia viridis.”

“Ada ciri yang lain?” sambungnya cepat.

“Aku memiliki penis dan anus, di bawah tanah.”

Si Makhluk Halus mengernyit. “Kau serius?”

“Ya.”

“Syukurlah kalau memang di bawah tanah. Jadi, aku dan orang-orang tak perlu melihatnya.”

“Oh ya, aku memiliki sistem saraf.”

“Hmm … ada ciri yang lain?”

“Ciri kebinatangan seperti apa lagi yang harus kumiliki?!”

“Tentu saja ciri kebinatangan yang mudah dilihat dengan mata telanjang.”

Aku merenung. Satu menit …. Tiga menit.

“Tak ada,” jawabku pada akhirnya.

“Ya sudahlah. Semoga hidupmu bahagia, Pohon.”

***
TADI pagi, si Makhluk Halus tiba-tiba saja berkata, “Aku mendapat ide! Aku tahu bagaimana cara agar kebinatanganmu diakui!” dan terbang-pergi selama beberapa menit. Ketika si Makhluk Halus kembali—dengan terbang pula—ia membawa sebuah benda pipih dan menyangkutkannya di rantingku.

“Apa yang kaulakukan, heh?!” tanyaku.

“Lihat saja nanti, Kawan. Aku mencuri benda ini dari langit.”

Tak lama kemudian, datanglah dua orang laki-laki: bocah dan dewasa.

“Di sana!” si Pria berkata sembari menunjuk ke arah benda pipih yang disangkutkan di rantingku.

“Apa yang harus kita lakukan, Ayah?” ucap si Bocah. “Itu layangan kesayanganku!” Ia pun jatuh terduduk di tanah dan menangis tersedu-sedu. “Ayah, panjatlah Pohon Dewa! Ambilkan layanganku! Kumohon!”

“Memanjat Pohon Dewa?!” Si Pria mendelik. “Itu adalah perbuatan yang sungguh tidak sopan, Nak! Bisa-bisa Pohon Dewa marah!”

“Pokoknya ambilkan, Ayah!”

Mungkin sebab tidak ingin mendengar tangisan si Bocah lebih lama lagi, si Pria akhirnya memanjati tubuhku. “Maafkan aku, Pohon Dewa,” ucapnya lirih. Tak butuh waktu lama baginya untuk menggapai layangan itu.

Tangisan si Bocah usai sudah.

Tiba-tiba si Pria tertegun. Tatapannya terpaku pada mulutku. “Apa itu?” gumamnya. Pria itu pun berjalan perlahan di dahanku, mendekati mulutku. “Bau ‘menarik’ itu ternyata berasal dari situ, toh.”

“Nah! Momen inilah yang kutunggu-tunggu, Kawan,” ucap si Makhluk Halus dengan antusias. “Sebentar lagi ia akan menyadari kebinatanganmu! Dan, saat ia sudah menyadari kebinatanganmu, semoga saja ia akan memberitahukan apa yang baru disadari-dirinya-seorang itu ke banyak orang!”

Si Pria lalu berjongkok di samping mulutku. Aku segera bersuara, berharap si Pria ketakutan dan segera turun.

“Eh? Dari situ juga, toh, sumber suaranya?” Tangan kanannya kemudian bergerak … memasuki “jebakan”-ku.

Sayangnya, mulutku tak bisa berhenti bekerja—karena memang begitulah mulutku.

“Tolong!!!” pekik si Pria, seraya berusaha menarik tangan kanannya dari mulutku.

Si Bocah pun berlari menjauhiku, menghilang entah ke mana. Beberapa saat kemudian, si Bocah kembali kemari bersama begitu banyak orang. (Mereka tak membawa sesajen sama sekali.)

“Ayah di sana!” pekik si Bocah—ia menangis lagi.

“Tolong! Pohon ini bermulut!” pekik si Pria.

“Mungkin itu hukumanmu karena berani-beraninya memanjati Pohon Dewa!” kata seseorang.

“Kasihan suamiku!” ujar seorang wanita, sesenggukan. “Berikanlah ia pertolongan!”

Tangan kanan si Pria makin hancur di mulutku. Ia pun terjatuh—ke belakang—dariku begitu disentakkannya tangan kanannya dengan kuat hingga terputus. Segeralah tubuhnya menghantam tanah, lantas ia tak bergerak-bersuara lagi.

Orang-orang menjerit.

“Ini semua gara-gara kau, Makhluk Halus!” hardikku.

“Orang-orang akan segera sadar bahwa kau adalah seekor binatang!” balas si Makhluk Halus, bangga.

Beberapa orang lantas mengangkat jasad si Pria dan mengaraknya entah ke mana, diikuti oleh yang lainnya.

“Dewa tidak mungkin sebrutal itu!” samar-samar kudengar salah seorang dari mereka berkata, ketika jarak mereka sudah agak jauh dariku.

“Apakah tadi kalian dengar? Sebelum tewas, pria ini berkata bahwa Pohon Dewa mempunyai mulut,” kata seseorang yang lain. “Mana ada pohon yang bermulut?!”

“Kalau bukan pohon, lantas apa?”

“Jangan-jangan, sebenarnya Pohon Dewa itu adalah seekor binatang!”

“Kau dengar itu?” ucap si Makhluk Halus padaku, dan tersenyum puaslah ia.

***
MALAMNYA—masih pada hari di mana si Pria tewas—orang-orang dewasa, termasuk si Tetua, datang mengerubungiku entah buat apa. Masing-masing dari mereka membawa obor. Dan tampak marah.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Surya Gemilang
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Bali Post" Minggu 12 November 2017

0 Response to "Sebatang Pohon Itu adalah Seekor Binatang"