Semesta Karatsu - Pintu - Jalan Lain Musashi - Kecambah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Semesta Karatsu - Pintu - Jalan Lain Musashi - Kecambah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Semesta Karatsu - Pintu - Jalan Lain Musashi - Kecambah

Semesta Karatsu

1/
Tak ada kilat atau tanda api
Kecuali hangus pasir
Atau cemas yang lingsir

Saat kutatap prana berayun di dinding
Cawan itu, sebelum percik dingin
Bermain dalam mataku, menduga-duga

Taksa pada rumpun bambu
Atau padang yang jauh, tentu,
Kau tahu, waktu bisa setipis embun

Atau haru yang rimbun, tetapi kita
Tak mampu menolaknya, semesta hadir
Bahkan dalam sebulir pasir, dan semua

Akan berakhir tepat ketika kita membuka mata

2/
Penafsir Tua, dulu kau pernah berkata
Dunia adalah mimpi di kala jaga, dan kami
Hanyalah bagian dari mimpi lainnya

Namun di sini, kami percaya, dunia tak lain fakta
Atau semacam permainan tanda, atau sekadar
Temaram cahaya, jadi siapa sebenarnya

Kami ini, Penafsir Tua? Apa sebenarnya mimpi ini?

3/
Sayang, apa benar kita masih terjaga?

4/
Misalnya cawan ini adalah mimpimu
Misalnya cawan ini adalah hatimu
Siapa yang akan diam-diam menyentuhmu?

Kami akan pergi malam ini, dan kau akan
Kembali ke lubuk mimpimu, gemetar
Menatap serbuk matcha di dasar cawan itu

Misalnya puisi ini tak lain cawanmu
Misalnya puisi ini tak lain hatimu
Siapa yang akan diam-diam menafsirmu?

5/
Sekarang kita tak perlu lagi bermain jigsaw
Atau menduga siklus cemas itu lahir dari
Jejak lampau, meski di bawah kilau parafin

Maut bisa tiba-tiba hadir dan menyentuh
Sepasang ruas bambu pada dinding cawan itu
Hingga kita mendadak yakin di luar sisa haru

Tinggal kirab angin, atau mungkin takdir
Yang lain, tepat saat murai kuning itu hinggap
Di ranting kaliandra, sebelum kita tertawa

Dan mendadak terjaga dalam mimpi lainnya

Pintu

Ada
satu
pintu,
bila dibuka, diriku
akan ikut terbuka.

Ada
satu
pintu,
bila ditutup, diriku
akan tetap terbuka.

Ada
satu
pintu
dalam diriku.

Jalan Lain Musashi

1
Berkerut kening Daruma 
Menatap sepasang angsa
Termenung di sisi telaga

2
Patung dewa pedang 
Memandang angkasa –
Tersenyum pada musuhnya

3
Buddha tertawa 
Menatap pralaya
Dua ayam jantan

4
Burung pingai tertancap pedang
– Sebuah lukisan tinta, tertanda 
Fudo Myo-o (dewa pedang) – 

5
Ia letakkan pedangnya
Ia raih kertas, kuas, dan tinta –
Pelikan menatap angkasa

Kecambah

Kau 
telah tumbuh 
di lembah tertinggi, 
kau telah luruh 
ke puncak terdalam, 
kecambah! kecambah! 
tumbuhlah, tumbuhlah, 
biarkan daunmu 
menyentuh tungku matahari, 
biarkan kau terbakar, 
biarkan kau tinggal abu, 
dan dari abumu 
tumbuh kembali 
kecambah baru, 
biarkan 
kini 
akarmu 
menjulur          menggali 
tanah gembur waktu 
dari tangkai mungilmu 
menyulurlah 
semesta baru: 
sehelai bulu lenganku.


Ahmad Yulden Erwin lahir di Bandar Lampung, 15 Juli 1972. Ia telah menerbitkan kumpulan puisi Perawi Tanpa Rumah (2013) dan Sabda Ruang (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmad Yulden Erwin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 25 November 2017

0 Response to "Semesta Karatsu - Pintu - Jalan Lain Musashi - Kecambah"