Tenung Balung - Instalasi Pandangan yang Miring - Ambang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tenung Balung - Instalasi Pandangan yang Miring - Ambang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Tenung Balung - Instalasi Pandangan yang Miring - Ambang

Tenung Balung

–Buat Marhalim

melayu yang sedang kuburu
menuntun arah ke tongkang sajakmu
di semenanjung penuh balung itu

aku datang sebagai kata-kata
tak cendayam jadi pengucapan baru
meski telah meneroka kamus

dan diremuk amuk bahasa
hingga nyaris telanjang bagai hutan
yang dibabat untuk lahan gambut

adakah harga sebuah makna
jika permisalan yang kupunya ini
tak membuka palang renung

bagai terbukanya selubung udara
untuk dihirup-embuskan sebagai harap
ketika merayakan hidup yang redup

marhalim, aku tak tahu
mengapa harus melayu nan jauh
semoga ini bukanlah tenung balung

dari todak dalam tongkang sajakmu

(dusunmaja, 2017)


Instalasi Pandangan yang Miring

–Buat Hanafi

garis menyusun warna pelan-pelan
pada pandangan yang miring
mengurai bundel kenangan
setenang bias bulan di jendela

melindap dalam sengau senyap
yang bergerumbul di pelupuk mata
tempat cahaya melahirkan rahasia
sawang sinawang yang suwung

garis menjulurkan duga sederhana
warna memaknainya dengan terbata

lalu terangkumlah sejumlah tenung
di luar geliat takjub yang lembut
juga di luar sebundel kenangan
sebagai hamparan tak tunak direnung
seperti keindahan

(dusunmaja, 2017)


Ambang

saat bayang bulan telungkup
di permukaan danau
dan ikan-ikan berkerumun
pada lengkungnya
lalu angin berdesir meriapkan
kecipak buih kemilau

Kulesakkan nir pada sembulan denyut
Jantung air. Menggagau pukau bening
Sajak yang berjuntaian di benakku
Luruh menjadi rumbai-rumbai hujan
Dari langit gering. Aku menulis ini
Dengan menahan nyeri, kata-kata
Sekarat seperti panggilan rindu ibuku
Di detik-detik terakhir hayatnya

Kutemukan gerak waktu melambat
Di repih buih. Tahun-tahun yang getun
Mengelucak dalam gejolak gairah
Yang dihirup-embuskan udara dingin
Saat ujung tatapku mengecup bibir air

Aku menulis dengan menahan nyeri
Dan tak peduli. Mungkin, inilah kemabukan
Tapi belum jatuh dan belum mau tunduk
Pada sunyi juga pada yang tak terpeluk
Seperti linangan air mata ibuku saat berdoa

Yang selalu berdentingan di hari depan
Menorehkan surih ngungun seorang penyair
Menjadi kekal dalam tiada di luar ketiadaan

(dusunmaja, 2017)

Astrajingga Asmasubrata, kelahiran Cirebon tahun 1990. Bekerja sebagai tukang cat melamin, duco, dan pelitur. Penggerak Malam Puisi Jakarta. Buku puisi yang telah terbit adalah Ritus Khayali (2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Astrajingga Asmasubrata
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Sabtu - Minggu 18 - 19 November 2017

0 Response to "Tenung Balung - Instalasi Pandangan yang Miring - Ambang "