Tiang Lampu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tiang Lampu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:30 Rating: 4,5

Tiang Lampu

RUANGAN itu tampak dipenuhi oleh sanak keluarga Kurnia yang sedang sakit. Tetangga dekatnya pun ikut membesuk ke rumah sakit. Kurnia kecelakaan di salah satu jalan pelosok saat mengendarai mobil. Jalan itu tidak ramai, juga ada banyak polisi tidur. Tapi, Kurnia bisa menabrak tiang lampu. Mobilnya penyok dan Kurnia harus dirawat di rumah sakit. Sementara teman-temannya baik-baik saja. 

“Kamu tak perlu berusaha bunuh diri kalau bawa lari uang ayahmu,” kata Sumina, ibu Kurnia saat hanya tinggal berdua di rumah sakit. “Kalau begitu, kan begini jadinya, kamu harus masuk rumah sakit.” 

“Iya, Bu,” kata Kurnia merengak kesal. “Tapi, uangnya sudah habis.” 

Sumina terdiam mendengar Kurnia berkata jujur. Uang itu bisa buat kuliah sampai S3. Tapi meski Sumina curiga, saat itu dia tak membicarakan kecurigaan dalam kecelakaan anak semata wayangnya. 

“Untung kamu tak menabrak tiang listrik,” kata Sumina mencoba memancing Kurnia agar bercerita. 

“Tiang listrik, Ma...” 

“Bukan, itu tiang lampu,” kata Sumina sedikit kesal. “Coba kamu tabrak tiang listrik yang ada gardunya itu. Kamu bisa mampus!” 

Kurnia tertegun. Dia tak habis pikir rencananya sebodoh itu. Hanya menabrakkan mobil pada tiang lampu. Itu pun dilakukan di jalan sepi yang tak mungkin pengemudi mobil menabrak dengan cepat. Kecuali memang disengaja. Dia sedikit cemas, takut rencananya terbongkar. Teman-temannya belum diberi tahu agar tak buka mulut jika ibunya menanyakan peristiwa ganjil itu. 

*** 
MALAM sudah turun ke bumi saat Kurnia baru bisa dibawa pulang dengan kursi roda ke rumahnya. Suasana rumahnya masih dipenuhi anggota keluarganya yang tak sempat membesuknya ke rumah sakit. Kekhawatirannya semakin tinggi saat mendengar suara teman-temannya di luar kamar. Sakitnya seakan menjadi-jadi. 

“Awas, kalian jangan buka mulut!” kata Kurnia geram setengah meringis karena sakit pada dahinya. 

“Tenang lah, Kur,” kata Aris berusaha menenangkan. “Tapi, apa tidak mencurigakan? Hanya kamu yang parah, sementara kami tidak apa-apa.” 

“Nah, itu...” 

Pembicaraan Kurnia terhenti saat pintu kamarnya terkuak. Ayahnya masuk dengan raut wajah datar. Sementara teman-temannya yang membesuk menepi ke pinggir kamar. Mereka seperti sungkan pada ayah Kurnia yang tampak datar. Wajah mereka tertunduk ke arah lantai. 

“Jadi benar itu murni kecelakaan?” tanya Ayah kurnia dengan menatap ke lantai sembari berdiri dan memasukkan dua tangan pada saku celananya. 

“Ayah, itu benar-benar murni kecelakaan!” kata Kurnia. 

“Lalu, kenapa hanya kamu yang terluka? Parah lagi. Kalau mau mencelakakan diri ya di tempat yang pas agar mampus sekalian! Bukan nabrak tiang lampu. Kalau begini, membuat ribet orang saja kamu ini!” 

Keadaan kembali hening. Teman-teman Kurnia seperti tak memiliki kosa-kata yang tepat untuk dikatakan. Hingga, ayah Kurnia duduk di salah satu kursi. Lalu, teman-teman Kurnia pamit pulang. Meski tak ada jawaban, ayah Kurnia tetap memberi nasihat dan seakan tahu rencana yang dibuat oleh anaknya sendiri. Kurnia hanya diam menyesap kata-kata ayahnya sendiri yang membuat dia seakan telanjang bulat. 

*) Cerpenis asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Tinggal di Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Junaidi Khab
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 26 November 2017 

0 Response to "Tiang Lampu"