Tiga Surat Untuk Siapa Saja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tiga Surat Untuk Siapa Saja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:00 Rating: 4,5

Tiga Surat Untuk Siapa Saja

PADA waktu-waktu tertentu, jika menyempatkan diri untuk melihat ke langit dari tempat ini –hanya di tempat ini– siapa saja akan melihat bintang bergeser sedikit dari tempatnya. Mengenai waktu tepatnya, saya juga tidak tahu. Hanya saja, itu pasti akan terjadi, pada waktu-waktu tertentu.

***
SEDARI tadi saya mendengar suara gesekan daun. Bukankah itu artinya angin bertiup? Jika lamat-lamat mendengar semua suara, maka ada juga suara lain yang dapat saya dengar. Datangnya tepat dari atas kepala saya. Saya kira itu suara gemuruh, salak anjing, atau mungkin jangkrik. Saya tidak terlalu yakin. Tapi suara itu seperti menyusun semacam komposisi yang aneh untuk didengarkan. Atau mungkin suara burung hantu, gagak? Saya kira itu suara jantung saya sendiri. Iya, pastilah itu suara jantung saya sendiri. Jantung saya seperti menyusun sesuatu yang mengerikan, dan membawa saya jauh pada sebuah lamunan.

Saya berusaha mengingat apa yang sebenarnya saya pikirkan dalam lamunan saya. Tapi itu semacam usaha yang sia-sia. Bus melaju biasa-biasa saja. Di depan ada teman laki-laki yang memainkan gitar. Yang lainnya bernyanyi ‘Naik-naik ke Puncak Gunung’. Bosan.

Saya bosan hampir setengah mati. Rasanya melihat keluar jendela akan lebih menarik. Pohon-pohon bergerak ke belakang, seperti film yang setiap adegannya terus berganti. Tapi, itu perumpamaan yang buruk. Film selalu bergerak maju dengan gambaran yang berbeda-beda. Yang saya lihat kali ini hanya pohon yang terus berganti tapi juga tetap sama, diam. Saya akan mengira kami hanya berputar-putar di tempat yang sama jika pemandu wisata yang datang entah dari mana tidak menjelaskan bahwa kami sedang ada di tengah hutan yang sangat sulit disebut namanya.

Mereka yang ada di dalam bus ini sangat membosankan–sebenarnya apa pun juga sama membosankannya.

“Mual?” Manusia yang duduk di sebelah saya bertanya. Bukan ‘manusia’ yang berarti ‘manusia’. Tapi namanya memang Manusia. Entah kenapa, dia duduk dengan menaikkan kedua kakinya ke atas kursi, dan bertanya kepada saya sambil menggoyang-goyangkan pantatnya.

“Tidak. Hanya bosan,” jawab saya.

“Perjalanan panjang memang.”

“Saya tidak memperhatikan.”

“Ikut bernyanyi saja.”

“Hal bodoh.”

“Separah itu?”

“Mungkin. Pohon-pohon di luar juga terlihat bosan.”

Dia sedikit memajukan kepalanya, menoleh ke luar jendela. Beberapa saat ia diam. “Mungkin,” sambungnya kemudian.

Naik-naik ke puncak gunung…

Orang-orang masih bernyanyi.

tinggi-tinggi sekali

…kiri-kanan…

Saya melihat ke luar jendela. Lagu bodoh. Bukankah tidak ada pohon cemara di sini?

Beberapa orang tertawa. Suaranya terdengar dekat. Ada sedikit kebingungan yang menghampiri kepala saya. Entahlah. Hal-hal membingungkan semacam itu sering membuat saya pusing. Tiba-tiba saya teringat surat itu. Datangnya tepat sebelum saya berangkat pergi tadi. Saya ingat dengan persis apa yang tertulis di dalam surat itu. Bunyi suratnya seperti ini:

Selamat pagi, siang, sore, malam (kapanpun Anda menerima surat ini)

Bersama datangnya surat ini kami ingin memberitahukan beberapa hal kepada anda. Hal-hal tersebut sebagai berikut:

1. Anda tidak boleh bekerja seperti biasanya. Tapi, anda tetap harus datang ke tempat kerja, kami sudah menyiapkan bus di sana, dan anda harus pergi menaiki bus itu.
2. Anda akan bersama rombongan dan anda tidak boleh mengeluh tentang itu (Jika ingin mengeluh, keluhkan dalam hati.)
3. Anda harus melaksanakan kedua poin di atas!

Sebagai catatan, hari dimana anda harus melaksanakan hal-hal di atas adalah besok terhitung dari kapanpun anda menerima surat ini. Terimakasih jika anda mau bekerja sama. Selamat pagi, siang, sore, malam (kapanpun Anda menerima surat ini).

Bus terus melaju. Arah jalan di hutan ini membawa saya semakin jauh pada perasaan bahwa saya melupakan sesuatu. Saya tidak bisa menjelaskan lupa yang saya maksud itu seperti apa. Tapi, bukankah terus maju berarti meninggalkan yang ada di belakang? Saya tiba-tiba teringat pada seseorang. Ingatan itu melempar saya jauh, sampai ke masa di mana daun memiliki warna yang berbeda.

Orang itu datang entah dari mana. Dia menceritakan pada saya tentang sebuah tempat di mana daun memiliki warna yang berbeda, dan karena itu, orang-orang pandai berbahagia dengan ketidakbahagiaannya. Apa hal semacam itu dapat dimengerti? Saya kira tidak. Tempat itu ada di arah matahari terbenam. Saya pergi bersamanya ke sana, menyusuri jalan, dan benar, semua daun di sana berwarna hijau. Semenjak itu saya melihat semua daun, di mana saja, berwarna hijau. Masa itu berlalu beberapa lama. Sampai saya sadar, bukan daun-daun yang berubah warna. Tapi sebenarnya, saya yang telah mengubah kepercayaan saya. Bukankah kenyataannya, semua daun selalu berwarna merah? Saya kira, semua cerita juga berwarna merah, sejak dulu merah, dan sampai sekarang masih sama. Bukankah semua memang selalu sama? Hanya saja, beberapa hal terkadang memang tidak dapat dipercaya.

Orang-orang masih bernyanyi ‘Naik-naik ke puncak gunung’ dengan bersemangat. Pak sopir duduk sambil menaikkan kedua kakinya ke atas kursi, sama seperti Manusia. Pantat dan kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Orang-orang memang sangat senang melakukan hal sia-sia dan membuang-buang tenaga. Saya semakin muak dengan pantat mereka yang terus bergoyang atau lagu bodoh yang terus mereka nyanyikan. Seharusnya mereka tahu, apapun yang mereka lakukan, perjalanan selalu berakhir pada kata sampai. Sialan! Kata surat itu saya tidak boleh mengeluh.

Angin bertiup. Sepucuk surat masuk lewat jendela dan jatuh tepat di pangkuan saya. Dari mana datangnya? Mungkin dibawa angin. Entah dari mana.

Selamat pagi, siang, sore, malam (kapanpun Anda menerima surat ini)

Jika anda menerima surat ini, itu artinya anda sudah berangkat dan sedang di tengah perjalanan.

Anda mungkin kebingungan. Untuk itu, kami sarankan agar anda jangan berpikir terlalu banyak. Ikuti saja cerita yang kami susun. Jangan dipikirkan, ikuti saja.

Terimakasih atas kerja-samanya. Selamat pagi, siang, sore, malam (kapanpun Anda menerima surat ini)

Orang bodoh! Pasti yang menulis surat ini orang bodoh. Dia kira saya mau mengikuti arahannya? Saya menggerutu dalam hati. Bus ini terus melaju. Tunggu dulu, apa isi surat tadi? Sialan! Hilang kah? Mungkin terbang lagi.

Saya tidak bisa mengerti apa yang saya pikirkan, saya terus bertanya pada diri saya. Bukankah saya sedang pergi? Kemana? Kapan bus ini akan berhenti?

Badan saya terasa pegal. Saya merenggangkan badan sejenak. Orang-orang masih bernyanyi, suaranya menyebalkan. Di luar daun-daun berwarna merah. Semua pohon terlihat seperti sedang terbakar. Saya tiba-tiba teringat orang itu lagi. Saya pernah ditipu. Dulu saya pernah mengira daun berwarna hijau. Penipu! Saya menggerutu dalam hati.

Manusia terus mengoyangkan pantat dan kepalanya dengan riang. Di sela-sela gerakannya itu, tepat di bawah pantatnya yang bergoyang-goyang, saya melihat surat tadi. Bagaimana surat itu bisa merayap ke sana? Sialan! Dengan gerakan sigap, tepat saat pantatnya bergerak ke arah kanan, saya mengambil surat itu. Entah kenapa, dada saya agak sedikit sesak karena melakukan hal itu. Perlahan, saya buka surat itu.

Selamat pagi, siang, sore, malam (kapanpun Anda menerima surat ini)

Kami kira anda sedang bosan. Apa kami benar? Biasanya, kami memang selalu benar dalam mengira-ngira. Anda pasti belum sampai ke mana-mana. Itu wajar, jangan dipikirkan terlalu serius. Ikuti saja cerita yang kami susun. Kami hanya ingin memberikan beberapa arahan untuk anda:

1. Besok Anda harus kembali bekerja seperti biasa.
2. Jika anda sudah turun dari bus yang sekarang anda naiki, anda harus memikirkan bagaimana caranya kembali ke tempat kerja. Mengenai caranya, silahkan anda pikirkanlah sendiri.
3. Jika Anda sudah berhasil kembali, mulailah datang ke tempat kerja dengan berjalan kaki. Jangan menaiki kendaraan apapun (Kami kira anda kurang olah-raga, dan biasanya kami benar dalam mengira-ngira).
4. Mulai sekarang, Anda bebas untuk merasa kesal. Tapi anda juga harus mengerti, anda yang memutuskan untuk merasa begitu.

Sebagai tambahan, ini adalah surat terakhir kami. Apa anda senang? Kami harap anda bersenang-senang. Atau senang saja cukup. Terimakasih atas kerja-samanya. Selamat pagi, siang, sore, malam (kapanpun Anda menerima surat ini)

Isi suratnya berubah. Bagaimana bisa? Tapi yang menulis surat-surat ini tetap saja orang bodoh! Pasti benar-benar bodoh. Dia kira saya mau mengikuti arahannya? Saya terus menggerutu dalam hati. Bus ini terus melaju. Tunggu dulu, apa isi surat tadi?

Semua orang masih duduk dengan menaikkan kedua kakinya di atas kursi, pantat dan kepala mereka bergoyang ke kiri dan ke kanan. Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Suara gitar dan tepuk tangan terdengar lebih bising dari biasanya. Lagu bodoh, saya menggerutu dalam hati. Apa isi surat tadi? Nanti bagaimana caranya kembali? Bus terus melaju, dan saya terus dibawanya. Saya mendengar suara-suara, datangnya dari atas kepala saya. Di depan sana, bintang terlihat semakin dekat.

Bayu Pratama lahir di Aiq Dewa, Lombok Timur, 2 Mei 1994. Kumpulan cerpennya berjudul Benjor, Opera Sabun, dan Cerita-cerita (Akarpohon, 2017).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bayu Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara NTB" Sabtu, 11 November 2017

0 Response to "Tiga Surat Untuk Siapa Saja"