Aceh: No Title - Himbauan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Aceh: No Title - Himbauan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Aceh: No Title - Himbauan

Aceh: No Title

Dengan selempang hangat Sabang
kuselipkan rencong berulu petang
pada rambatan akar pohon nyeri
di linangan Aceh bahtera negeri:

Kulihat bintang dari ladang kerontang
angin desaukan serbuk mesiu, juga gema zikir
orang-orang menggelar sajadah belukar
merentangkan bayang diri di bawah bulan
yang piatu, yang dihunjam pisau rindu
yang terpikat pesona merah belenggu
di ladang tumpuan, di nyeri negeri.

Suar Aceh saman senyuman,
salam rencong hangat pelukan
Selamat datang Tuan Puan
silakan sulam baju badan

Dengan perahu bahasa kulayari cerlang matamu
Isyarat layar tak pernah lekang, kian terkembang
Dalam kitaran pasang perang
berkecai masai sudah ke tubir kesunyian.

Maka, di bawah bintang, di langit impian
kurajut selendang daun pala
kulayangkan pandang sulaman selongsong
dari ladang harapan hijau yang silam
biarpun peluru tembusi kelam
‘kan terus kuburu bayang cintamu
hingga dapat dibelai
dan kudekap samudera hatimu.

Kububungkan ini serbuk
agar bulir kopi tak sehitam nasib
dirimbun buruan saudara serabu
kuseduh hitam pandangan di tungku
kukunyah riap harap dari sela kayu
hingga nanar mata-mata nanar tinggal kerlip
di lembar daun pensedap lapar, juga dahaga.

Kumasuki lubang keheningan
meski di sini, kesunyian lebih nyaring
dari gema ledakan senjata dan desir zikir
menyusup ke bilik cintaku, ke pintu kerinduan
dekapan hangat tanah kelahiran:

Mari Tuan Puan ke mari, nikmati kopi dan tari
Tepuk dada dukana, belai hati merana

Di atas meja dan taplak dari peta tak berskala
buah pala, lada, dan aroma kopi
kujumpai Aceh bertukar sajian
dalam lumatan bibirmu, Kekasih
dalam dekapan lautan Cintamu, aduhai
: alangkah lezat dan pedas menu doa tersaji.

Tapi pada pagi yang ranum
ketika impian mekar terkulum
suaramukah mengaum dari tubir serambi?
lantak dan rancak menepuk punggung
adakah Aceh madahkan marwah agung
sampai tak kudengar lagi kepak sayap ayam tangkap
juga riwayatmu dari Saman se Iman se lingkaran?

Saman semadi Gayo puisi
Puisi Saman pekati saksi
Kesaksian iman kepada Ilahi
Hendaklah lebur dalam hati.

Dalam kerlip gelap rinduku
lepas pandangku berarak awan
dari titian puisi dendangkan
Saman tarian, Saman dekapan

Ketika wajahmu senyap membayang
kuselipkan rencong di punggung
kupanjati pala dada hingga pelepah
di sela ranting kusesap nira rempah
dan bibirmu yang semerah darah.

Dan, jauh di kelam sejarah,
ada rantai sepanjang pandang
di pergelangan kaki tonggak Sabang
daun terlarang pembatas halaman
di kitab herbal mujarab belaian.

Tapi telanjur.
Hitam cerita telah dilaburkan
di punggung pagi kesenduan
warna-warni kenangan membayang
dalam dekapan pagi tsunami.

Aku menari ikuti ayunan pohon rempah
di Serambi, di Serambi selembar daun mengigil
mencari akar jauh ke batas keheningan meditasi:

dalam mabuk
tegak Aceh
dalam meditasi
Suar Aceh

selembar surat peringatan berlepasan
dari pohon azimat rempah
Aceh kejayaan.


Himbauan

Pengumuman ini saya rangkum
dari gumpalan awan, merah belukar
dan retakan pintu sebelum tangan petang
menggaris arah jalan ke kelokan
jendela pembingkai langit pagi:

Kepada semua pasukan berompi pagi
Diharap segera memasukkan lembaran minimal
ke dalam map berwarna kuning keemasan
dan menyimpannya di sulur fajar
sampai hangat pelukan terangkum senyum
dalam berita acara, juga kelopak bunga
di beranda selapang dada.

Masih adakah belaian di retakan dada tertinggal?
segera panjati menara menusuk gelap
dengan derap cahaya dukana
yatim masa depan, dan janda yang diabaikan.

Kita saudara sekalbu serabu
Dalam puisi rindu bertalu
Kita sedarah senafas seseru
Dalam dekapan rebah pilu

Peperangan sudah lama dimulai
Kepada semua pasukan berompi air mata ibu
harap segera bergegas mengoyak moyak
kabut dalam diri, dan tak kunjung berpaling
kesenduan dan kebahagiaan bertaut
ditapal batas usia.

Apabila ada-hal yang menyebabkan
hati menderai masai ke kabut pandangan
Kepada pasukan segera
menarik diri ke dalam jantung kesunyian.

Di titik nol Indonesia,
hitam mimpi disangrai sudah
kopi, pala dan lada tersaji hangat
bersama tarian saman
jamuan terdedah di cakrawala.

Alangkah sedap aroma, ampas silsilah
gayo masai berkecai, rencong menusuk awan
aksara gamang membayang panjang .
Anak negeri tegak menantang.

Pendatang ayunkan kumis serupa tangkai
rebah di rempah bagi beku darah,
lidah sengsara mencecap rasa menghisap cinta
dalam rindu batin merana.

Perintah pun datang menebang
dari angka dolar negeri seberang
babatlah silsilah di tanah wasilah,
rantailah kaki di punggung senja
penjajah berselempang marwah
di bawah cahaya bulan impian.

Manis di hati, pait di lidah;
adakah Serambi melulu jadi tempat
mula kata mencair dari kelopak mata
dan, menara syahadat
tegak lurus dalam bujur lara?

Dalam nampan, doa tersaji
Tak  musti terseduh dan dihidangkan
biar kelak tahu, segala yang hitam
tak menutupi gelap pandangan
tamu pencari tanahmu keramat
kan dikalungi akar pekat.

Kelam cerita kuseduh sudah
Manis kopimu kusesap cuma
Kalam Fansuri syair kudedah
Menafsir hidup di kopi hanya

Pengumuman ini saya sampai-
kan lewat kawat kerinduan
agar terhubung damai dan cinta:
putih kisah dimaniskan sudah, da-
lam cangkir doa meriak
terdengar gema jauh dari batas silsilah
di atas tanah Aceh membayang sembahyang
degup pasukan suguhkan ceri-
ta, di pintu usia jelang senja.

Dan ketika bintang dan bulan membawa Bayangan Ibu
ke cakrawala, tembusi lapis gelap hari-hari tak pasti
Kepada pasukan harap mencan-
tumkan nama dan alamat
sebelum sepotong bibir ombak mengulum duka abadi
dan kebahagiaan datang tanpa dijelang
mensesap hikmat nafas baru kehidupan

Kemala puisi Bayangan Ibu
Kemilau cinta denyutan kalbu
Kerlip dan desau nafasmu ibu
Ke palung puisi surga diseru

Di surga takkan dijumpa kopi, juga puisi
hanya derap kaki bernanah dalam karat rantai
berjalan beriring hantar rempah keharibaan penjajah
juga Gayo, jauh beserpih ke batas angan
seusai disangrai dengan kayu dari tulang, juga jantung
belaian jari sunyi Sabang.

Mengingat dan menimbang:
Pengumuman dan himbauan ini penting adanya
saya harap semua pasukan segera me-
lukis titik sepi cakrawala
di kanvas kehidupan dunia hampa.

Rentangkan sajadah pikiran di Serambi Mekah
sebelum bayangan hilang di angan
dan segenap duka lara halang pandangan hanya.

Jakarta, Agustus 2017

Catatan: Bayangan Ibu adalah buku kumpulan puisi D. Kemalawati, lapena, 1916.

MAHWl AIR TAWAR, lahir di Sumenep, 28 Oktober 1983. Buku kumpulan cerpen dan puisi tunggalnya yang sudah terbit Mata Blater, Karapan Laut, Taneyan, Tanah Air Puisi, Puisi Tanah Air, Mahwi Air Tawar, dan sebuah buku kumpulan puisi seri tokoh, Lima Guru Kelana ke Lubuk Jiwa.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya  Mahwi Air Tawar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 24 Desember 2017

0 Response to "Aceh: No Title - Himbauan"