Cermin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cermin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:00 Rating: 4,5

Cermin

DI tepi sungai puncak bukit yang menggemericikkan air, Kaka menyaksikan sebongkah batu besar. Tempat sewaktu kanak, ia mencuci seember pakaian yang kotor dan menyeruakkan bau keringat. Tempat ia duduk bersama Arif pacarnya yang urung menjadi suaminya.

Kaka melelehkan air mata di pipi yang tembem seputih besusu. Kepada Arif yang sekarang entah di mana, ia semakin membencinya. Terlebih ketika mengingat rumah tangganya dengan Misbah serupa kapal menghantam karang. Hancur berpuingan sebelum sampai di pelabuhan. Perkawinan yang berujung di kantor pengadilan agama sesudah Kaka tak ingin terikat dengan aturan suaminya.

Seusai mengusap air mata dengan punggung telapak tangan, Kaka kembali menyaksikan batu di tengah sungai. Batu yang tak pernah bergeming, sungguhpun berulangkali dihantam banjir besar. Batu yang serasa memberi sindiran kalau jiwanya serupa selembar daun kering sesudah bercerai dengan Misbah. Nasibnya serasa terbawa arus sungai tanpa tujuan, sebelum membusuk dan tamat riwayatnya.

Kaka menghela napas. Sekian detik, napasnya serasa terhenti. Degup jantungnya berdetak kencang, ketika pundaknya ditepuk seorang dari belakang. Ia serasa terlempar ke negeri mimpi. Bagaimana tidak? Lelaki yang menepuk pundaknya tak lain Arif. Lelaki yang dibencinya. “Enyah kau! Aku tak mau lihat wajahmu. Aku pikir, kau sudah mati. Tertabrak truk.”

“Jahat doamu, Ka.”

“Kutukanmu juga jahat.”

“Telah aku tarik kutukanku.” Arif meraih tangan Kaka, namun ditolaknya dengan kasar. “Ketahuilah! Selama kau menikah dengan Misbah, aku tetap membujang di pulau seberang. Aku pulang sesudah mendengar kabar dari Mak Darsi ibumu, kau akan liburan sepekan di kampung. Aku pulang hanya ingin meminangmu. Aku tetap mencintaimu.”

“Aku membencimu!” Serupa elang, Kaka menatap bengis pada Arif. “Enyah! Aku jijik melihatmu.”

“Aku akan pergi.” Arif mengarahkan pandangannya ke langit utara dengan mendung mencurahkan garis-garis hitam ke bumi. “Hujan segera turun. Kita harus segera pergi. Banjir besar akan tiba. Sangat bahaya bila kita tetap berada di sini.”

Sesaat Kaka tak menghiraukan ucapan Arif. Namun seusai menangkap suara gemuruh dari utara, ia mengikuti langkah Arif. Berlari sepanjang jalan setapak. Selagi sampai di jalan beraspal, hujan turun teramat deras. Serasa ditumpahkan dari langit. Sehabis-habis.

Bukan hanya Arif, Kaka pun berlari dengan napas terengah-engah. Menjelang sampai di tikungan jalan, Kaka menjerit. Arif yang tengah menengok ke belakang ke arah Kaka, tubuhnya tertabrak truk. Hancur tak dapat dikenali lagi wajahnya. Kaka tak sadarkan diri. Tubuhnya terkapar di jalan. Kuyup air hujan.

***
SORE sesudah Arif dikuburkan, Kaka siuman dari pingsan. Dari Darsi, ia mendapat kabar kalau Arif telah dimakamkan. Bergegas ia ingin pergi ke makam Arif, namun Darsi mencegahnya. Berita yang dikirim berantai oleh warga lewat whatsapp, messenger, dan SMS; air sungai bawah tanah meluap ke permukaan. Banjir menenggelamkan rumah-rumah di lembah bukit itu.

Sekejap, Kaka tak tahu apa yang harus dilakukan. Pergi ke makam Arif yang berarti menantang bahaya. Mengamankan diri di rumah, namun tak dapat mengucapkan ‘selamat jalan’ pada lelaki yang dalam hati kecilnya masih dicintainya. Sungguh, ia serupa dihadapkan pilihan simalakama.

“Sabar, Nduk!” hibur Darsi. “Arif telah damai di sisi-Nya!”

Kaka diam. Telinganya tak mendengarkan kata-kata Darsi. Ia hanya mendengar jeritan hatinya yang kehilangan Arif. Lelaki yang mulai dicintai ketika pergi untuk selamanya. Lelaki setia yang cintanya disia-siakan semasih menghirup napas, mendetakkan jantungnya. Kaka menumpahkan air mata. Lebih deras dari hujan semalam.

***
TANPA sepengetahuan Darsi, Kaka meninggalkan rumah seusai matahari menampakkan utuh sosoknya di langit timur. Berjalan gontai menuju makam di lembah pinggir desa, di mana Arif dimakamkan. Setiba di tujuan, ia tak percaya. Lembah di mana makam itu berada menyerupai danau.

Tekad sudah bulat. Kaka ingin terjun ke lembah yang berubah menjadi danau itu. Sebelum keinginannya terpenuhi, tubuhnya ditarik dari belakang. Ia terjatuh. Menimpa tubuh seorang lelaki yang kemudian memeluknya erat-erat. “Lepaskan aku! Aku ingin hidup damai di surga bersama kekasihku.”

“Ia bukan kekasihmu. Aku kekasihmu.”

Kaka memalingkan wajahnya ke belakang hingga melihat wajah lelaki itu. Di matanya, wajah lelaki itu sekilas menyerupai Misbah. Sekilas menyerupai Arif. “Siapa kau?”

“Kekasih pada kehidupan sunyimu.” Lelaki itu bangkit. “Pulanglah! Aku tunggu di kamar pribadimu.”

Sebelum Kaka melontarkan sepatah kata, bayangan lelaki itu lenyap di balik tikungan jalan. Tanpa seizin Darsi, Kaka meninggalkan kampungnya yang semakin dikepung banjir. Setiba di rumah, ia bergegas memasuki kamar pribadinya. Tak ia lihat lelaki itu. Hanya bayangannya yang tampak di cermin meja rias. Keakuan dan kebebasannya. Jauh berjarak dari sentuhan cinta. ❑ - e 

Cilacap, 5 Oktober 2017

*) Cerita ini terinspirasi dari peristiwa banjir bandang di Gunungkidul.

Sri Wintala Achmad, menulis karya sastra dengan bahasa Inggris, Indonesia dan Jawa. Tinggal di Cilacap Utara, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Wintala Achmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 10 Desember 2017  

0 Response to "Cermin"