Garambolang Bedebah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Garambolang Bedebah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:00 Rating: 4,5

Garambolang Bedebah

PADA 1955 aku masih ingat kenangan hitam malam itu. Ketika darah uwak merambah bersama aliran sungai di belakang rumah panggung kami. Tiga kali tembakan melecut di bagian tubuhnya. Ia mengakhiri hembusan napasnya tepat di depan mataku.

Malam itu, ketakutanku berada pada ambang batasnya. Sebagai perempuan, satu-satunya cara untuk mengendalikan diri hanya berteriak dengan frekuensi tertinggi atau diam membeku sama sekali. Aku berusaha melawan meskipun kusadari tubuhku sedang gemetaran dan kurasakan ototku lemas. Aku mencoba meraih batu di dekatku kemudian melayangkannya pada kawanan garambolang yang telah menembak uwak. Tapi, sebelum batu itu sampai, aku merasakan tubuhku terlempar beberapa meter ke dinding lontang, gudang garam di samping rumah. Salah satu kawanannya mendorong tubuhku.

Uwak telah rubuh ke tanah. Matanya mengarah padaku. Ia menatapku! Ada ungkapan tersembunyi dari tatapannya yang terpancar melalui kobaran cahaya sulo (penerang jalan) malam itu. Aku menafsir tatapannya sebagai perlawanan. Sebagai keturunan Bugis-Makassar tidak ada alasan untuk takut demi harga diri dan keadilan. Sekalipun berakhir dengan ujung badik atau kalewang di tubuh. Ya, aku takkan melupakan pesan uwakku tentang itu.

***
MARUDDANI, sampai malam ini anyir darah uwak terasa masih melekat di hidungku. Uwak yang sudah tahu kalau malam itu garambolang dari hutan akan datang, tapi tetap saja tinggal dan membiarkan kami, tentunya anak dan isterinya lari bersembunyi di perempangan. Malam itu aku memang tidak ikut lari bersama Amma’ dan adikku. Aku bersembunyi di samping rumah, tepatnya di balik lontang, gudang garam uwak yang terbuat dari bambu dan daun nipah. Amma’ tidak tahu kalau aku tidak ikut di belakangnya. Lagi pula malam terlalu gelap dan bukan hanya kami yang harus sembunyi.

Tahun 1959, empat tahun setelah uwak meninggal. Aku dan Amma’ kini tinggal di rumah kakek. Ia disegani di kampung dan disebut sebagai tau rewa (orang pemberani). Ia pernah mengusir garambolang karena keberaniannya. Selain itu, dia salah satu orang yang berani bersekutu dengan tentara dari Jawa. Sebab itu, ia menjadi musuh bagi garambolang. Tapi, sayangnya, ketika garam bolang datang waktu itu, kakek berada di Ujung Pandang. Sehingga jadi peluang bagi mereka memasuki kampung kami untuk merampas harta penduduk kampung.

Mungkin kamu belum tahu, Maruddani, siapa garombolang itu. Kakek pernah cerita bah wa mereka adalah pengikut Kahar Muzakkar. Bekas pasukan gerilya yang memilih memberontak karena keinginannya menjadi prajurit resmi angkatan perang Republik Indonesia yang tidak direstui oleh presiden. Sebab itu, sebagai pemimpin gerilya di Sulawesi Selatan ia merasa kecewa lalu memilih untuk lari ke hutan dan memproklamasikan Sulawesi Selatan sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia. Mereka telah bergabung dengan gerakan DI/TII sebelumnya, tepat dua tahun sebelum uwak dibunuh.

Mungkin kau akan bingung, mengapa mereka menjadi pemberontak dan tega merampas harta masyarakat bahkan membunuh dengan biadab? Karena mereka sebenarnya bukanlah pasukan Kahar yang menyuarakan nilai-nilai Islam, sesungguhnya. Mereka hanya mengatasnamai dirinya. Begitulah kata kakek.

Tapi, ada yang perlu kamu tahu lebih daripada itu, Maruddani. Perihal diriku. Kakek akan segera menikahkanku dengan salah satu tentara dari Jawa dan kamu tahu pasti aku tidak menginginkannya. Karena satu-satunya yang kuharap untuk jadi pendampingku kelak adalah kamu, Maruddani. Aku mencintaimu.

“Ketahuilah, Tenriwulan, tidak ada hal yang sungguh kuinginkan selain ingin berjumpa denganmu.” Setidaknya, itu yang pernah kau ucapkan padaku sebelum kau bilang kau akan pergi berlayar ke Kalimantan. Itu yang membuatku memilih bertahan sampai saat ini. Aku yakin kau juga mencintaiku. Dan kau akan kembali melamarku.

“Aku akan menunggu kepulanganmu. Berjanjilah padaku bahwa kau akan kembali.”

“Tenriwulan, aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan kembali untuk melamarmu dan setelah itu, kita akan menikah, mempunyai anak, dan menjadi seorang kakek-nenek dengan kehadiran cucu-cucu kita.”

“Semoga Allah menghendaki keinginan kita, Maruddani.”

Kita mengakhiri percakapan waktu itu di suatu senja yang perlahan bergerak menjadi gelap kemudian berangsur-angsur menjadi keheningan. Setelah itu, aku tak pernah lagi melihatmu.

***
“NANTI malam, utusan mereka akan datang melamarmu. Amma’ dengar dia sangat gagah dan tampan. Semoga kau bahagia, Nak.” Amma’ embelai rambutku. Ia berusaha meyakinkanku meskipun sebenarnya ia tahu perasaanku bahwa aku mencintai lelaki lain. Amma’ tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyetujui keputusan kakek.

“Maruddani sudah lama pergi. Kau harus melupakannya, Nak.”

“Tapi, Ma’. Aku pernah bilang, aku akan menunggunya. Ia berjanji untuk kembali melamarku. Dan aku yakin Maruddani akan datang dan menepati janjinya.”

“Aku tidak ingin mengecewakannya, Ma’,” kataku lagi.

“Amma’ tidak bisa berbuat apa-apa, Nak. Kamu tahu sendiri kakekmu bagaimana. Kau harus percaya pada kakekmu. Tentu ia memilihkanmu lelaki yang baik. Lagi pula, kamu harus meyakini ketentuan takdir Allah, Nak. Jika kau jodoh dengan Marudddani, pernikahannmu ini tidak akan terjadi. Tapi kupikir itu tidak mungkin. Sebentar lagi, pilihan kakekmu akan datang melamar.”

Bagi perempuan desa, satu-satunya yang bisa ia perbuat hanyalah menuruti keinginan orang tua. Bagaimanapun juga aku harus jadi anak yang berbakti.

“Setelah lamaran, kakekmu rencananya tidak akan menunggu waktu lama untuk melangsungkan pernikahanmmu.”

“Iya, Tenri. Amma’-mu benar. Kita akan melangsungkan segera pernikahan ini,” kata kakek yang baru saja muncul di belakang Amma’. Kakek nampak tersenyum.

Bagi kakek menanyakan apakah kamu bahagia atau tidak, bukan suatu pertanyaan yang dianggap penting. Malam itu saat penantianku dilamar, sekaligus menuju keputusan yang mau tidak mau harus kuterima tanpa peduli apa yang akan terjadi nantinya: bahagia atau tidak, yang penting tidak durhaka pada orang tua.

Setelah shalat Isya, utusan pihak laki-laki diperkirakan akan tiba. Tapi, hal lain yang tidak diinginkan datang sebelum mereka. Garambolang. Mereka kembali lagi memasuki kampung kami.

Aroma minyak tanah sudah tercium diiringi kobaran api yang tidak berselang jauh. Rumah, Maruddani, dinding rumah telah lesat terbakar. Aku mengingatmu seketika. Persis empat tahun yang lalu saat uwak dibunuh. Kamu berada di sampingku dan melindungiku. Itulah satu-satunya alasan mengapa aku mencintaimu sampai saat ini, Maruddani!

“Tenriwulan, lompat!” Kakek mendorongku dari muka jendela yang tingginya sekitar dua meter. Api telah berhasil melahap sebagian besar muka rumah. Amma’ berlari mengambil adikku di kamar. Sementara kakek mengambil kalewang-nya dan menyusulku lompat di jendela. Aku menyaksikan garambolang itu tertawa. Satu dari mereka memoporku sampai tersandung di tanah. Tak berlangsung lama aku mendengar Amma’ berteriak. “Allahu Akbar!” disusul adikku yang menangis histeris.

Kakek tumbang saat berhasil menghunjamkan kalewang di tubuh garambolang dan bunyi senapan terdengar beberapa detik sebelumnya. Aku mencoba lari untuk menolong kakek meskipun aku tahu itu takkan berarti. Kakek akan kehabisan darah. Dan hal yang sama akan terjadi seperti uwak. Kakek akan meninggal di depan mataku. Dan setelah itu mungkin akan disusul olehku. Kita tidak akan bertemu lagi, Maruddani. Aku mencintaimu.

Tapi sesuatu mengejutkanku sebelum aku berhasil merangkul tubuh kakek. Kamu. Kamu, Maruddani. Aku melihatmu. Aku kembali melihatmu di keadaan yang sama sulitnya dalam hidupku. Kau muncul di depan mataku. Seperti dulu.

Apakah itu benar kamu, Maruddani? Aku bahkan hampir tidak mengenali wajahmu setelah dua tahun berlalu. Aku tidak percaya ini. Aku mencoba memandang matamu mencari penyesalan dan sisa-sisa cinta yang masih ada. Tapi, sayangnya aku tidak menemukannya. Kamu melepas cadarmu setelah berhasil melontarkan tiga peluru ke tubuh kakek.

Mengapa, Maruddani?

Saat ini, bagiku, kenangan tidak akan lagi jadi alasan untuk mencintaimu.

Aku membencimu! Kau bedebah!


Akmal Mangkana Palaloi lahir di Pangkajene dan Kepulauan pada tanggal 4 Juni 1993. Merupakan lulusan Geofisika Universitas Hasanuddin dan anggota komunitas Forum Lingkar Pena Sulawesi Selatan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Akmal Mangkana Palaloi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu, 3 Desember 2017

0 Response to "Garambolang Bedebah"