Gelap | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Gelap Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Gelap

KETIKA listrik mati dan ruangan mendadak jadi gelap, ia seperti mendengar suara jeritan seorang perempuan yang panjang, yang kemudian terus-menerus berulang, tanpa bisa diketahui asalnya.

JERITAN siapakah itu? 

Dalam gelap, ia tidak dapat melihat apapun, dan hanya mendengar jeritan yang panjang. 

Seperti jerit ketakutan, pikirnya dalam kegelapan. Mengapa perempuan itu ketakutan? Apakah seperti dialaminya sekarang, betapa dalam gelap tiada sesuatu pun yang dapat dilihat, membuatnya merasa terlontar ke sebuah dunia yang hanya hitam, sehitam-hitamnya hitam, sampai tiada apa pun dapat dilihatnya, bahkan tangannya sendiri tiada dapat terlihat? 

Kegelapan memang hanya hitam, membuat tembok hilang, langit-langit hilang, lantai hilang, memberinya perasaan melayang sendirian. 

Namun jerit ketakutan itu terdengar semakin jelas. 

Dalam kegelapan, suara-suara tentu hanya akan semakin jelas, tetapi yang semakin jelas sekarang adalah ketakutannya. 

Ta-kut. 

Jerit ketakutan karena tidak melihat apa pun? 

Ataukah jerit ketakutan karena dalam kegelapan ternyata perempuan itu melihat sesuatu? 

Mungkinkah perempuan itu menjerit karena dalam kegelapan dan kesendirian mutlak dilihatnya wajah putih pucat seperti mayat mendekat, begitu dekat, bagaikan tiada lagi yang lebih dekat? 

***
DALAM mimpi, inilah saat untuk terbangun, tetapi ini begitu nyata, karena wajah putih pucat yang seperti bayangan melayang itu tetap maju terus ketika tangannya berusaha menahan, menembus tangan lantas melebur dan menyatu kepada wajahnya sendiri! 

Seperti topeng kulit manusia yang menempel di wajahnya, tetapi yang seperti tidak akan berhasil dicopotnya, meskipun sudah berusaha ditarik-tariknya supaya lepas dengan sekuat tenaga. 

Listrik menyala sebentar, terlalu sebentar, tetapi bagaikan sempat terlihat wajah sendiri, wajah yang sudah berubah menjadi wajah putih pucat, sepucat mayat yang tiada bernyawa, tetapi matanya terbuka! 

Itukah yang menyebabkan terdengarnya jerit ketakutan sekeras-kerasnya, ketika listrik mati dan dunia menjadi gelap gulita, segulita kegelapan terpekat dalam kehitaman terpekat yang tidak memperlihatkan apa pun sehingga tiada batas antara mata terpejam dan terbuka? 

Dalam kegelapan hanya tersisa kengerian, ketika kulit wajah sendiri yang sudah menjadi wajah orang mati tiada pernah berhasil ditarik dan dilepas, meski sudah ditarik-tarik sekuat tenaga. 

Ia masih merasa seperti mendengar jerit perempuan itu. 

***
BAGAIMANA kalau bukan hanya wajah, tetapi seluruh tubuh yang menopang wajah itu, yang mampu tembus ke manapun, merasuki badannya? Ia menarik-narik wajahnya sendiri seperti memang bukan wajahnyalah yang menempel itu, tetapi bagaimana pula caranya akan lepas? 

Kengeriannya tiba-tiba meningkat. 

Kegelapan terpekat tentu tidak memperlihatkan apapun, tetapi kegelapan terhitam tidak menghapus cahaya dalam kenangan, sehingga dalam kegelapan terpekat dan terhitam tetap tergambar dalam benaknya suatu benda yang tidak pernah dipedulikannya meski setiap hari dilihatnya belaka dalam cahaya terang dengan mata terbuka. 

Di manakah kiranya? 

Ia meraba dan meraba segala benda dengan ingatan yang dikacaukan kepanikan. Terdengar bunyi benda-benda berjatuhan yang dalam kepanikan bagaikan runtuhnya segenap ruangan ke jurang kegelapan tanpa dasar. Dengan perasaan terjatuh dan terputar-putar tangannya tetap meraih-raih apapun yang bisa dicapainya. 

Terjatuh ke jurang tanpa dasar, kapankah akan sampainya? 

Dalam perasaan jatuh dengan kepanikan teramat sangat, terdengar lagi jerit perempuan yang ketakutan itu. Masih juga takbisa dipastikannya, perempuan itu menjerit-jerit karena melihat sesuatu ataukah karena tidak melihat apapun? 

Lantas tangannya merasa memegang benda itu! 

Apakah ia akan melakukannya? 

Wajah pucat yang mengerikan, wajah iblis, apakah harus direlakannya menjadi wajahnya? 

Sekali lagi listrik menyala, dan mati lagi, lantas menyala kembali, begitu singkat. Terang gelap terang gelap dengan begitu cepat sehingga tiada apapun yang sempat terlihat kecuali wajah, ya wajah pucat seperti mayat itu, wajah pada sebuah cermin. 

Kini dirinya sendiri menjerit dengan kepanikan memuncak. Dirinya sudah benar-benar berwajah iblis! 

Ia mengangkat benda yang dipegangnya. 

***
LISTRIK sudah menyala. Seseorang memasuki ruangan itu dan menutup pintu seperti memang tidak pernah terjadi apa-apa. Ketika listrik mendadak mati lagi, belum sempat dilihatnya lelaki dengan kulit wajah terkelupas yang terkapar meregang-regang di sebuah sudut itu, dengan pisau setajam silet di tangan kanan dan kulit wajahnya sendiri di tangan kiri.… 

Lantas seperti terdengar jeritan seorang perempuan, dalam kegelapan terpekat yang tidak memperlihatkan apapun. 

Se-per-ti. 

Seno Gumira Ajidarma, dilahirkan di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Bekerja sebagai wartawan sejak 1977, kini tergabung dengan panajournal.com. Menulis tentang kebudayaan kontemporer di berbagai media, menerima sejumlah penghargaan sastra, dan mengajar di berbagai perguruan tinggi, termasuk menjadi Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Seno jadi lebih dikenal setelah menulis trilogi karyanya tentang Timor Timur, yakni Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (novel), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai). Pada 2014, dia meluncurkan blog bernama PanaJournal - www.panajournal.com tentang human interest stories bersama sejumlah wartawan dan profesional di bidang komunikasi. Hampir setiap tahun cerpennya terpilih dalam antologi Cerpen Pilihan Kompas.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Seno Gumira Ajidarma
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 17 Desember 2017

0 Response to "Gelap"