Gunung Keramat - Sayap-sayap yang Berpesta - Selendang Puan - Ladang Historis - Variasi Mimpi - Mantra Rindu - Dukuh Domas | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Gunung Keramat - Sayap-sayap yang Berpesta - Selendang Puan - Ladang Historis - Variasi Mimpi - Mantra Rindu - Dukuh Domas Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Gunung Keramat - Sayap-sayap yang Berpesta - Selendang Puan - Ladang Historis - Variasi Mimpi - Mantra Rindu - Dukuh Domas

Gunung Keramat

- jaka tarub

Awal menjadi nyalang
rimba gunung keramat
telaga yang menjadi saban
enggan menafsir telaga

Tujuh bidadari berseri-seri
selendang pelangi tergeletak
di atas diam batu kalsedon
bergeming nyalang tatapmu

Senja yang mengirim kabar
malam melingkar di atas cungkup
menyingsing rapalan kening
menuju atap yang pasrah

Selendang yang terbujur
kau titihkan pada segelas darah
diam-diam menyalin di bibir cawan
sebelum pulang—kaca hatimu
mewarnai semesta yang tabah

Selendang mawar
dari asahan pengayam kahyangan
bermandikan sisa senyuman mawar
pada setiap kaki
kinasih dalam diri
sebelum dicuri duri-duri

Semarang, 2017

Sayap-sayap yang Berpesta

Di bumi yang semakin sepi
kautanami benih puisi
mandi kecil dan berpesta dada-dada
batu merapalmu beristirahat
memandang angin alismu

Sebelum kau mencari pulang
pejam tangis bernyanyi
mulutmu gigil mengering
keningmu berbicara alas sunyi
berserakan di atas pintu langit

Keenam selendang yang menunggu
akhirnya meriam dada membuncah
di tepi telaga yang hampir keemasan
jengkal sirip keresahan dimata bumi
berpulang pada wajah batu
meniduri rumah kecil. Malu-malu.

Semarang, 2017


Selendang Puan

-Nawangwulan

Cemas bibirmu mengalun
telaga merambat saban
waktu rimba bersemi
mengajakmu bernyanyi

Nyalang merah saga
melipur di keningnya
meniup bumi menurunkan sejarah
mengajakmu menidurkan perih langit

Penjara dari museum puisi
mengulur sisa jemari
lepas di kerling rembulan
merdeka kembara selendang surga
ke mana saja kau minta

Rembulan menanyakan alamatmu
bisu rimba belajar berdoa
merintihkan sisa-sisa petaka
perlahan meruntuhkan pertanyaan
kering rambutmu menjadi alarm
sebelum titik malam bersandar.

Semarang, 2017


Ladang Historis

Waktu berbicara pada batu
dari pematang garis geming arloji
menyibak alang-alang
kaki duri semenjana puisi

tiba perlahan menyatir wajah lebur
angin mengajarkan tarikan layang-layang
tanah ibu yang di keruk
menjadi pencakar langit

berjalan mengitari ladang puisi
sawah-sawah terbakar matahari
mulut yang pendek sulit berselimut
lantaran angka yang membasi
pada tanah yang membujur duri

Semarang, 2017

Variasi Mimpi

Ada yang bercerita pada doa
tentang sentuhan langit malam
ranjang yang keluar ingatan
membujur menunaikan mimpi pendek
di sana iklim teduh

dari asmara yang menjadi candu
dan kegelisahan riwayat pendosa
mengelilingi bukit mendung
di samping ranjangmu aroma mawar
menyelimuti ketenanganmu

basuhan air wudu itu
menunaikan ibadah sepanjang waktu
seperti kisah para nabi
yang terlepas dari goda iblis
semenjana kau tafsirkan mimpimu

dari lalu lalang jerit setan
yang terbakar mendekatmu
hingga terjaga sampai
celah langgar menyuling azan
terbangun mengulum kalimat syukur
Tuhan terpatri dalam doa
sentuhan api puisi yang abadi.

Semarang, 2017


Mantra Rindu

Bisik yang curam
meriam rindu
batas kinasih
menusuk dada puisi

ombak mengapung
mendidik taman setia
angit genit menyayat sepi
doa yang berusaha bangkit
Dalam perjalanan
merapalkan mantra
meditasi sebelum berduri

Semarang, 2017

Dukuh Domas

Ceritakan apa saja
kelahiran pemanggil hujan
dari bibir leluhur
renjis tumpah darah

Pohon asam sulur
tanah yang sembuh
pada nurani pemungut doa
masih setia merawat
janin historis berbaris

Detik yang terpejam
pada lagu alam
begitu menjadi hening
merayakan gadis-gadis
penjaga pesta pernikahan

Layar tancep merimbun
kisah sanak yang agung
rombongan menyatakan cinta
bersyukur sebelum di akhir perih tiba.

Semarang, 2017

Muhamad Arifin, lahir di Grobogan 21 April 1998. Mahasiswa Progam Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang. Menggemari travelling dan menulis puisi. Puisinya terhimpun dalam antologi Aquarium & Delusi (Bebuku Publisher, 2016), Memo Anti Kekerasan terhadap Anak (Forum Sastra Surakarta, 2016), Monolog Seekor Monyet (Sabana Pustaka, 2016), Menemukan Kekanak Di Tubuh Petuah (Stepa Pustaka, 2016), Lelaki Bercelana Kulot di Sebuah Pesta Pernikahan (Oase Pustaka, 2016), dan Meditasi Tulang Rusuk (Oase Pustaka).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhamad Arifin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 10 Desember 2017

0 Response to "Gunung Keramat - Sayap-sayap yang Berpesta - Selendang Puan - Ladang Historis - Variasi Mimpi - Mantra Rindu - Dukuh Domas "