Hujan Musim Gugur - Melodi Air Mata | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hujan Musim Gugur - Melodi Air Mata Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:30 Rating: 4,5

Hujan Musim Gugur - Melodi Air Mata

Hujan Musim Gugur

: Autumn from the Four Seasons by Vivaldi (1678-1741)

Angin dingin menyapu pilar-pilar Katedral. Sisa genangan air dari
laguna masih membasahi gang-gang kecil hingga ke alun-alun.

Di tepi Grand Canal, telingaku pejal menangkap momen-momen yang
diterjemakan oleh bunyi instrumen, tipis dan tebal. Rendah dan tinggi
nada, dalam tempo yang berbeda.

Akankah bisa diterjemah dalam tiap bait kata, lalu untuk apa orkestra
yang mengiringi drama? Kekuatan sihir bunyinya bisa buat sedih dan
senang, tegang juga lega, seperti tiap-tiap plot dalam cerita.

Untuk itukah aku ada, terdampar di jalan-jalan di antara bangunan
berukiran bunga-bunga berwarna suasa. Untuk itukah kita berjumpa.
Dipantulkan laguna berkaca, senja makin jingga. Mozaik cinta yang
sempat buatku terperangah. Di atas gondola, melewati Rialto bridge,
bibirku mengecup surup matamu. Atau hujan musim gugur yang buat
wajahmu sebal.

Sejumput lagi waktu surut. Lukisan matahari pun absurd. Entah
perpisahan kita yang megah. Atau empat patung kuda yang gagah
berdiri di bawah lengkung kubah.

Sebentar lagi Winter. Angin tak lagi menyisir sela-sela rambutku yang
tergerai kusut. Mata redup, Konserto demi Konserto telah buat hatiku
kuyup. Rasanya, Vivaldi menulis simfoni tentang hatiku yang telah
condong putih. Dari atas balkon, aku pandangi puisi yang pergi.

2017


Melodi Air Mata

: A Melody of Tears by Beethoven (1770-1827)

Adakah buah ceri yang sama manisnya. Walau berasal dari pohon
yang sama, bulat dan ranumnya sama. Adakah bunga mawar yang
sama merahnya. Walau berasal dari tangkai yang sama, jumlah
kelopak dan harumnya sama.

Bagai bunga bakung batangnya tumbuh bercabang dua, satu batang
merunduk ke bumi, satu batang lagi tengadah ke langit.

Apakah kau yang pergi bagai burung bul-bul mencari kabar suka cita
untuk Solomon serupa dengan bayang kecantikan yang tersembunyi
di balik cadar Sheba.

Oh terkutuklah semua tempat di bumi ini yang telah membuat
perpisahan menjadi sangat menyedihkan. Oh terkutuklah semua hari
di abad ini yang telah menjadi saksi atas hati yang mencintai dengan
sangat tulus. Oh terkutuklah semua obat penawar sakit hati, jika
rindu selalu kambuh, derita tak pernah sembuh, semua cara terasa
buntu selain ingin mati buru-buru. Oh terkutuklah semua khotbah
yang cuma mendogma tentang surga dan neraka, sedang Tuhan
tak pernah menetap di gereja, Ia tak pernah lama menetap di hati,
datang dan pergi sesuka hati. Oh terkutuklah air mata-air mata yang
telah menggerus biji-biji gandum hingga jadi tepung, mengayak dan
menyaring hingga jadi serbuk. Oh terkutuklah kegilaan demi kegilaan
ini!

Senyum pahitku telah memupus hapus semua kenangan
bersamamu. Air mataku intan yang tak akan retak walau ditetak
dengan mata pahat sekalipun.

2017

Wans Sabang, cerpen dan puisinya dimuat beberapa media dan sejumlah buku antologi bersama. Tinggal di Bogor, menjadi pegiat sastra dan penulisan naskah film.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wans Sabang
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" akhir pekan 2 - 3 Desember 2017

0 Response to "Hujan Musim Gugur - Melodi Air Mata "