Ingin Kupeluk Dia Lebih Erat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ingin Kupeluk Dia Lebih Erat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:00 Rating: 4,5

Ingin Kupeluk Dia Lebih Erat

SEBENTAR lagi Kakek pergi. Selamanya. Memang tak ada apa pun yang bisa didapat para buruh dan anak-cucu mereka, selain nasib buruk dan masalah. 

Hampir-hampir waktu kerja tak pernah bersela di perkebunan kopi Desa Rahtawu milik Juragan Kusno, sekalipun sore hari pada akhir pekan. Kakek bekerja penuh enam hari. Hanya libur setiap Jumat. Pada hari-hari itu pula penyakit rentanya tak kunjung bersahabat. Namun dia tak pernah beranjak untuk pulang dari kebun sampai senja melembayung di ufuk barat. 

Dia menyandang cangkul di bahu, meninggalkan kebun. Saat itulah senyumnya mengembang disertai napas tersengal. Saat berpapasan dengan buruh lain di jalan, Kakek bercakap ringan dan sesekali tergelak. 

Seperti tak ingin menyia-nyiakan waktu pada akhir tahun ini, sesampai di rumah, dia yang masih terbatuk-batuk seusai minum air kendi berdiri dari kursi istirahat dan bergegas mandi. Dia berpakaian rapi, salat magrib berjamaah, lalu mampir ke rumah Juragan Kusno. Di teras rumah berpapan kayu itu sudah ramai orang mengantre. Dia membaur, berbaris sesuai dengan urutan waktu datang. 

Sepanjang sore Juragan Kusno berdiri di balik meja kasir. Dia mengambil perlengkapan dari rak yang dibutuhkan para buruh, memeriksa catatan nama orang yang berbaris dalam buku. Istrinya, Nyah Ida, yang duduk di samping Juragan Kusno, mengumpulkan barang-barang itu, lalu membagikan sebagai jatah perlengkapan berkebun pada mereka. 

Kakek masih berdiri di dekat pintu. Dia memperhatikan empat orang yang berbaris di depannya dan segala polah Juragan Kusno.

Dia bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah ketika waktu jatuh tempo meninggalkan rumah tiba, dia akan tetap berutang pada Kusno selamanya, tanpa kuat membayar? 

“Mbah Midi?” ujar Juragan Kusno memastikan. 

“Ya, Gan. Saya,” sahut Kakek terdengar parau, sambil berdehem menahan batuk. 

“Mbah, sampean masih punya utang tiga juta rupiah pada saya sejak tahun lalu. Belum sekali pun sampean cicil sampai sekarang. Panen biji kopi dari kebun garapan sampean tahun ini menghasilkan satu juta tujuh ratus ribu. Pekerjaan bagus, Mbah. Tapi semua perlengkapan menghabiskan delapan ratus ribu. Apalagi harga pupuk terus melonjak. Maaf, Mbah, saya kira utang sampean belum bisa lunas tahun ini. Tapi saya lihat sampean masih giat bekerja keras dan penuh semangat. Saya yakin sampean bisa melunasi utang tahun depan.” 

Kakek, atau siapa pun buruh di sana, hanya bisa menundukkan kepala. Tak pelak, semua di dunia ini memang terasa hanya untuk orang berpunya; para tuan tanah dan tengkulak. Tidak ada untuk buruh. Semua buruh pasti tertawa menjalani nasib buruk itu, nasib yang telah tergaris bahkan sejak mereka belum lahir. Dan, tawa mereka adalah tawa orang-orang yang telah amat lama menikmati penderitaan. 

Setelah semua urusan dengan Juragan Kusno selesai, para buruh perkebunan pulang ke rumah masingmasing. Begitu juga Kakek. 

Dia pulang ke rumah reot berdinding bambu beratap jerami. Dia melakukan kesibukankesibukan kecil, seperti memasak untuk makan malam dan melepaskan lelah usai bekerja seharian di perkebunan. 

Dia memang hidup sebatang kara. Sang istri meninggal tiga tahun silam karena tuberkulosis. Penyakit itu kini juga menghantui dia. Sinah, anak semata wayang, bersama sang suami merantau ke Malaysia. Mereka menjadi TKI dan tak pernah pulang selama tujuh belas tahun. 

Rumah Kakek agak jauh dari perkampungan, tepat di bibir kebun kopi. Rumah sebelumnya di kampung telah dia jual untuk membiayai kuliah sang cucu, anak Sinah. Cucu berparas ayu itu kuliah di sebuah universitas ternama di Semarang sejak tiga tahun lalu. Sayang, gadis itu berwatak angkuh. Sangat berkebalikan dari pribadi sang kakek. Apa saja yang dia kehendaki harus terwujud. Dia bergaya hidup mewah, berpakaian perlente seperti kebanyakan gadis kota. Dia pun bergaul secara bebas, menghamburhamburkan uang, tak peduli uang itu hasil utang sang kakek pada Juragan Kusno atau tidak. 

Dia berkelakuan baik hanya saat menjenguk sang kakek. Lalu kembali ke Semarang dengan uang saku cukup agar bisa hidup sesuka-suka. Dia merasa bisa menebak masa depan yang cerah hanya dengan menggunakan salam manis selampir ijazah.

***
TIDAK ada yang berbeda hari itu. Kabut mengambang di tengah jalan setiap sore tiba hingga esok pagi. Desa Rahtawu tetap saja dingin seperti biasa. 

Malam itu, di atas ranjang kayu beralas tikar, Kakek berbaring sambil memeluk foto sang cucu. Ah, dia membayangkan pasti kelak sang cucu bakal bahagia dan tidak mengalami hidup susah. Kini, kuliah, mengejar cita-cita. Pasti kelak cucu perempuan itu bisa membanggakan keluarga. Jadi sarjana, jadi pegawai, dan dengan gajinya mampu melunasi utang sang kakek pada Juragan Kusno. Dia menyemburatkan senyum, lalu memejamkan mata. Melepaskan lelah setelah seharian bekerja. 

Tengah malam, tiba-tiba ada tamu datang. Sang tamu berjubah putih bersih dengan sekujur tubuh bercahaya itu entah bagaimana dan dari mana, sudah masuk begitu saja, lalu duduk di kursi ruang tengah. 

Kakek menoleh. Tamu berjubah putih bersih itu memandang dia. 

“Mbah, sudah siap?” 

“Siap?” 

“Ya, sampean sudah siap meninggalkan rumah ini?” 

“Siapa sampean? Saya tak mau pergi. Saya mau tidur. Jangan ganggu saya. Saya mau mimpi indah! Sampean pernah diajari sopan santun? Malam-malam begini bertamu ke rumah orang!” 

“Mbah, saya utusan. Mau tak mau Mbah Midi harus ikut saya malam ini. Berkemas, Mbah. Akan sedikit sakit, karena dosa sampean.” 

“Aaarrhhgghh!” Suara parau suara lelaki tua itu terdengar, lalu sejenak kemudian embusan napasnya terhenti. Sejak detik itu semua menjadi berbeda. Kakek itu telah meninggalkan rumahnya.

***
SUBUH buta terdengar lantunan tahlil. Saat itulah seorang gadis ayu yang datang dari kota tersungkur. Di bawah tiang kayu teras rumah reot itu, dia duduk tertunduk. Satu-satunya orang miliknya telah pergi. Selama-lamanya.

Satu-satunya orang yang sebenarnya dia sayangi. Kini, dia hanya bisa menyiyiri keangkuhan diri sendiri. Dia merasa hidupnya bakal makin susah. 

Siang hari, seorang demi seorang menyalami dia. Tak ketinggalan Juragan Kusno. Sang juragan membawa buah tangan tanda duka cita. Ketika hendak pulang, lelaki itu berbisik ke telinga sang gadis sambil tersenyum. “Kakekmu masih punya utang padaku. Lunasilah atau menikah denganku!” 

Dia tak mampu membalas senyum sang juragan. Mukanya terasa panas. Dadanya berdegup kencang, tak beraturan. 

Itulah ancaman paling menjijikkan yang seumur-umur baru dia dengarkan. Suara paling menjengkelkan. Air mata meleleh di kedua pipinya. Kini, tak ada siapa pun bisa menenangkan dan menghentikan tangisnya. Tak ada lagi masa depan! Ya, masa depan hanya bisa dia bayangkan sebagai masa penuh trauma dalam kehidupan. 

“Kenapa Kakek harus pergi? Aku ingin menyusulmu, Kek. Aku akan berhenti membohongi Kakek. Aku akan bersikap jujur, kuliah sungguhsungguh, asal Kakek pulang.”

***
AKULAH cucu kakek itu, Ndhuk. Akulah ibumu, Kusno bapakmu. Sarmidi, buruh kebun kopi itulah buyutmu. Lelaki paling kusayangi seumur hidupku. Andai dia pulang, akan kupeluk lebih erat. Ya, aku ingin memeluk dia lebih erat. Ingat, Ndhuk, berhati-hatilah menatap masa depan. Masa depan bisa saja menjadi trauma dalam kehidupan. (44)

Patemon, 4 Desember 2017

-Resza Mustafa, kelahiran Pati, mahasiswa Departemen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Resza Mustafa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 24 Desember 2017

0 Response to "Ingin Kupeluk Dia Lebih Erat"