Penyewa Rahim | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Penyewa Rahim Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:11 Rating: 4,5

Penyewa Rahim

“JADI, … BEGITULAH, LIMAH. Saya tidak ada waktu untuk mengandung. Mobilitas saya sangat tinggi. Sebagai CEO di sebuah perusahaan internasional, akan sangat terganggu berbadan dua, berperut besar, pergi ke sana kemari serta bertemu dengan beberapa pejabat dan orang-orang penting,” Nyonya Kodrat memberi alasan.

Alasan lain yang ia sembunyikan adalah menyewa rahim Limah pasti akan lebih murah daripada program bayi tabung. Dan sebagai wanita karier, ia tak mau bila apa-apa yang ada di tubuhnya akan berubah manakala ia hamil dan melahirkan. Ia tak mau sex appeal yang banyak dipuji oleh rekan bisnisnya akan menjadi berkurang. Daya tarik tubuhnya yang kadang dimanfaatkan untuk memperlancar urusan usahanya.

“Saya pun demikian, Nyoya. Sebagai perempuan miskin, janda beranak dua, siapa yang hirau pada kehidupan saya. Uang yang saya dapatkan selama ini, tak sebanding dengan biaya hidup yang harus saya pikul,” kisah Limah pada mereka.

“Kesepakatan kita sudah bulat. Kamu mendapatkan uang sewa rahimmu sebesar sepuluh juta, tunjangan kesehatan sejumlah satu juta per bulan, hingga engkau nifas. Obat-obatan dan vitamin serta suplemen untuk anak kami, sudah diatur oleh Dokter Kirangan. Kamu tinggal meminum sesuai dosis yang dianjurkan dokter ini. Dan ini yang terpenting, bulan depan, hari Senin, datanglah ke klinik ini, Dokter Kirangan akan menanamkan benih kami pada rahimmu. Secara medis nanti dokter akan menjelaskan padamu. Ini lima juta dahulu, sisanya hari Senin bulan depan, ingat tanggal dua belas,” kata Nyonya Kodrat memberi penjelasan.

Lima bulan dari peristiwa itu.

Rumah susun pinggir Kali Ciliwung tempat Limah berdomilisi, menjadi kian ramai dengan kabar burung, gosip, dan peristiwa para penghuninya. Dan Limah, belakangan ini menjadi pusat cerita sebab kehamilannya itu.

Berita panas tentang buntingnya Limah menjalar ke tiap sudut rumah susun itu. Dan ibu-ibu berlomba-lomba ingin memecahkan misteri siapa yang menghamilinya.

“Pasti Si Jagur, tukang ojek itu. Bukankah ia yang wira-wiri mengantarkan Limah ke sana-kemari?” tuduh Nyonya Surti.

“Itu boleh jadi. Tapi bagaimana dengan Dongki, duda yang ngebet ingin menjadikan Limah istri. Tiga kali ia menyampaikan hasrat itu pada saya, dan ingin mendapatkan Limah dengan segala cara,” kata Nyonya Onah.

“Jangan-jangan Bawor. Penjaga malam rumah susun kita. Ia yang paling banyak punya peluang di waktu malam. Bukankah kala kita sedang tertidur, ia masih terjaga. Nah, tahu sendiri kan kira-kira apa yang dia kerjakan?” Nyonya Lusi berteori.

“Eiit Pak Borman. Jangn lupa prestasinya. Janda mana yang tak ditaklukkannya? Buaya darat itu kaya dan pandai merayu,” Nyonya Rumpi mengingatkan.

Adu argumentasi semakin panas. Ketika dirasa perdebatan itu tanpa kesimpulan yang bulat, akhirnya mereka memutuskan mengajak ketua RT, agar bersama mereka menanyai langsung kepada Limah, siapa yang punya benih di perutnya itu.

“Sekarang juga, Pak RT, harus sekarang. Pak RT jangan pura-pura tidak tahu. Perut Limah semakin besar jelas bukan busung lapar. Ia hamil, Pak RT. Limah bunting. Kerjaan siapakah itu, Pak RT? Inilah yang harus kita cari jawabannya. Lelaki itu harus bertanggung jawab. Penghuni rumah susun ini akan mendapat malu dan petaka, Pak RT, bila membiarkan janda itu hamil tanpa jelas siapa pejantannya,” Nyonya Rumpi memaksa agar Pak RT setuju dengan pendapatnya.

Akhirnya Pak RT mengalah. Berdasar atas tanggung jawabnya itu, ia mengikuti ajakan para nyonya untuk menyambangi Limah di rumahnya.

“Siapa, Limah? Jagur, Dongki, Bawor, atau Bormankah? Atau siapa?” halus nada Pak RT bertanya.

“Bukan mereka, Pak, bukan siapa-siapa. Ini janin milik Tuan dan Nyonya Kodrat. Saya hanya menyewakan rahim saya buat mereka,” tutur Limah lugu.

Mendengar pengakuan Limah, semua terpana, terkejut, tak percaya.

“Apa? Menyewakan rahim? Kok bisa? Bagaimana ceritanya, Limah? Itu dosa, … melanggar aturan agama.” Penasaran dan heran Nyonya Onah membuka suara. Semua memandangi Limah, penuh tanya.

“Alasannya hanya soal ekonomi, Pak RT. Siapa peduli pada janda miskin beranak dua ini. Siapa? Cicilan rumah, listrik, air PAM, biaya sekolah, nafkah hidup sehari-hari, semua itu dibayar pakai uang. Duit upah menjahit yang saya lakoni tak cukup menutupi itu semua. Ini kan hanya soal sewa-menyewa biasa. Sebagaimana lazimnya orang menyewakan rumah, mobil, atau sejenisnya. Saya punya apa selain rahim ini? Saya berhak penuh atas tubuh yang saya miliki ini. Ini kan lebih terhormat daripada menjual kelamin saya, atau menjajakan tubuh saya. Kalau ini berdosa biar itu menjadi urusan saya dengan Sang Pencipta. Dan semua ini akan berakhir, sewaktu jabang bayi ini keluar dari perut saya.”

Semua tertegun mendengar penjelasan Limah. Lanjutnya, “Oh ya, … ini kontrak kerja antara saya dengan Tuan Kodrat, tentang hak dan kewajiban, semua itu ada di pasal-pasal tersebut,” Limah menyodorkan surat perjanjian kepada Pak RT. Semuanya tertegun dan terdiam.

Sewaktu meninggalkan rumah Limah, para nyonya itu masih menggagas apa yang dilakukan Limah. Menyewakan rahim? Bukankah itu berdosa? Atau setidaknya akan mengacaukan silsilah keluarga? Bukankah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu pasti anaknya? Apakah zaman memang sudah edan? Bagaimana agama menjawabnya? Bukankah itu membuka lapangan kerja baru?

Sepuluh bulan sepuluh hari setelah pertemuannya dengan Tuan dan Nyonya Kodrat.

Limah sedang merasakan sensasi yang luar biasa. Setengah jam lalu, telah keluar orok dari rahimnya. Seorang bayi mungil berkelamin wanita. Naluri keibuannya menjalari ke tiap pori-pori tubuhnya. Ingin rasanya ia mendekap atau setidaknya memberi kehangatan pada bayinya. Atau memberi ASI eksklusif yang telah menggumpal di dada dan mulai merembes ke puting payudaranya. Rasa ingin berdekatan dengan bayi itu begitu mendesak. Tetapi ditekannya rasa itu, manakala menyadari ia tak punya kewenangan untuk itu. Fungsinya hanya membesarkan bayi dalam rahimnya dan melahirkannya. Ia bukan ibu biologis jabang bayinya.

Menyadari perpisahan dengan orok semakin dekat, perasaan Limah kian tak menentu. Dipandangnya bayi itu dalam-dalam, meski cuma lewat kejauhan. Kelak aku pasti tak dapat mengenali anak yang lahir melalui rahimku ini, batin Limah dalam hati. Dokter Kirangan cuma memberi kesempatan padanya untuk melihat bayinya sekali saja sekaligus yang terakhir.

“Tuan dan Nyonya Kodrat tengah dalam perjalanan kemari,” kata Dokter Kirangan tanpa ekspresi.

Limah memejamkan mata. Upayanya melupakan jabang bayi itu membuat pipinya menjadi basah. Mengalir perlahan air matanya, sebagian berhenti di kedua pipi, sisanya jatuh ke bantal. Perasaannya teraduk-aduk, oleh sensasi luar biasa saat-saat terakhir berpisah dengan makhluk Tuhan yang sembilan bulan berada di rahimnya. Limah dan Dokter Kirangan tengah tenggelam dalam alam pikirannya masing-masing.

Kesunyian itu pecah, ketika dengan tergopoh-gopoh dan tanpa mengetuk pintu, menyelonong masuk seorang satpam dan berkata lantang, “Dokter …. Tuan dan Nyonya Kodrat kecelakaan. Mobilnya menabrak pohon di mulut gang!”

Limah dan Dokter Kirangan baku pandang.

Suheri, Guru SMAN 1 Sukadana Lampung Timur

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Suheri
[2] Pernah tersiar di  "Majalah Guruku" No. 09 – Oktober 2009

0 Response to "Penyewa Rahim"