Kertas - Jeda - Ketika Memasuki - Surat Anjing Hitam - Kalatea - Mawar Beludru | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kertas - Jeda - Ketika Memasuki - Surat Anjing Hitam - Kalatea - Mawar Beludru Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Kertas - Jeda - Ketika Memasuki - Surat Anjing Hitam - Kalatea - Mawar Beludru

Kertas

Anak itu menunggu. Menunggu menjadi remaja. Dan
remaja itu pun menunggu. Menunggu anak itu menjadi
dewasa. Setelah dewasa, dia (anak yang pernah remaja itu)

menikah dan punya anak. Setelah punya anak, tiba-tiba
ketuaan nongol di pintu. Ketuaan yang sederhana. Ketuaan
yang menenteng koper. Dan menukas: “Hai, telah lama aku

menunggumu untuk berangkat” Berangkat ke mana?
Tujuan tak terduga. Hanya peluit sepur yang memekik
di kejauhan. Sepur yang dulu selalu dipandangnya dengan

gemas. Dan yang dibayangkannya sebagai naga besi yang
tak pernah lelah. Setelah perbekalan disiapkan, berangkatlah
dia dengan ketuaan. Dan siapa pun yang pernah disebutnya

sebagai ingatan, berdikit-dikit menjadi mendung. Terus turun
dalam rupa gerimis. Gerimis menjadi hujan. Dan hujan pun
melunturkan apa-apa yang telah ditulisnya di kertas. Sebelum

menghilang ditelan belokan, dia dengan ketuaan sempat
melantunkan bait begini: “Kami tak tahu, apakah nanti akan
sampai di tujuan atau tidak. Rubuh di tengah jalan atau tidak.”

Tiang-tiang makin mendekat. Tiang-tiang makin merapat.

(Gresik, 2017)

Jeda

Ular kuning dari gunung merayap ke bawah. Ke si perawi yang
menyimpan kisah. Kisah tentang si murid yang tak pernah diajar apa
pun. Kecuali menyapu, memasak, dan menjaga anak-anak.

Ular kuning dari gunung merayap ke bawah. Ke si perawi yang
mempertajam kisah tentang si murid yang tak pernah diajar apa pun
menjadi kisah tentang si pendiam. Yang tersembunyi.

Dan yang kelak menyerahkan kedua kakinya sebagai tambahan kayu
bakar pada sebuah kenduri. Kenduri dari sebuah kampung yang baru
saja lolos dari pagebluk. Pagebluk yang gelap dan tebal.

Ular kuning dari gunung merayap ke bawah. Ke si perawi yang
tak semua orang tahu di mana rumahnya. Dan juga tak semua orang
tahu, apakah si perawi itu cuma dongeng atau kenyataan.

Ular kuning dari gunung merayap ke bawah. Terus merayap. Lalu
sampailah ke tempat si awas yang pernah menunjuk selembar daun
agar selalu menghijau dan mengkilat. Daun yang berkhasiat.

Dan di depan si awas yang pernah menunjuk itu, ular kuning
bertanya: “Di manakah rumah si perawi?” Oleh si awas dijawab:
“Temukan dulu sarang angin, hai, yang telah menakikkan kelok.”

Ular kuning dari gunung merayap ke bawah. Kini merasa hilang akal.
Sebab, siapakah yang tahu letak sarang angin? Dan siapa pula yang
tahu cara untuk menemukannya? Segalanya jadi berpusaran.

Ular kuning dari gunung merayap ke bawah. Dan ingin terus saja
merayap. Sampai di sebuah gua, pun menggelungkan tubuhnya.
Terus mengundang sepi. Juga setiap detak yang memelan-melan.

Suatu ketika, ada si pemahat yang mengelusi mata ular kuning. Kata
si pemahat: “Memang, mata ini terpejam tapi terjaga. Seperti hasrat
yang tak tuntas. Hasrat yang tak pernah sampai pada watas.”

(Gresik, 2017)

Ketika Memasuki

Ketika memasuki sorga, dia mengimpikan sebentang
kebun subur. Dengan beragam benih unggul. Yang akan
tumbuh menjadi pepohon rimbun. Dengan bebuah yang
lebat. Bebuah merah, kuning, dan manis. Bebuah yang
ketika akan dipetik, cukup dilambai, akan merendah.
Serendah hati kekasih yang rela menyerahkan hidupnya
pada yang dikasihinya. Dan ketika panen tiba, dia pun
mengisi keranjangnya dengan bebuah. Anehnya, meski
berkali-kali diisi, keranjangnya tak pernah penuh.
Bebuah tak pernah habis. Sampai siang beranjak. Malam
bergulir. Dan memang, waktu siang dan malam di sorga
demikian sejuk, tenang, dan membuat kerja tak kehabisan
tenaga. Lalu, tepat di seminggu ke depan, dia yang masih
mengisi keranjangnya dengan bebuah, dijenguk oleh
si malaikat penjaga sorga. Kata si malaikat: “Nafsumu itu
tak akan habis. Berhentilah.” Tapi sambil mengisi terus
keranjangnya, dia menjawab: “Ketahuilah, aku sudah
tak lagi punya nafsu. Sedangkan, panen ini adalah
mimpiku, bagaimana bisa aku hentikan?”

 (Gresik, 2017)

Surat Anjing Hitam

 : belajar dari syaikhona 

Anjing Hitam, Anjing Hitam, di mana dirimu di kota suci ini.
Datanglah padaku. Aku membawa surat. Surat untukmu. Surat dari
guruku. Guruku yang ada di pulau garam. Pulau yang telah mengajar
ayam jago, macan, dan si tukang gambar yang teberkahi. Pulau yang
ketika sore tiba terlihat berbinar. Binar yang menudung. Menudungi
sepotong jari telunjuk. Yang menunjuk, bahwa arah tak boleh
mencong. Sebab itu adalah doa. Sebab itu adalah harapan. Harapan
yang diturunkan lewat bisik: “Jika telah selesai, bukalah pintu yang
berikutnya. Dan segudang hal yang terhafal, mesti disimpan di
kedalaman sungai.”

Anjing Hitam, Anjing Hitam, di mana dirimu. Di lalu-lalang para
pencari, perintih, dan penengadah yang tak habis-habis di kota suci ini,
adakah kau terselip? Adakah kau tersesat? Ayo, datang, datanglah
padaku. Terima suratmu. Sebab aku akan kembali pulang. Pulang ke
rumah. Pulang ke setiap yang pernah melambaikan tangannya. Seperti
lambaian lembut menara-menara di kota suci ini. Kota suci yang putih
dan yang diputihkan. Kota suci yang diam-diam kerap kau kunjungi.
Dalam rupa seekor anjing hitam. Rupa yang mencolok. Tapi pernah
mendampingi si pendebar. Ketika jarak sekian abad dilipat cuma
sekedipan.

(Gresik, 2017)


Kalatea

: seperti rahwana 

Bolehkah aku meminta mati. Sebab, di sini, sudah tak ada lagi yang
aku inginkan. Udara hambar. Dan matahari pelan-pelan menjauh.
Tapi, kalian jangan terkejut. Dulu bagian ini sudah dikabarkan. Ketika
sifat daun-daun kalatea melingkupi hidupku. Daun-daun yang biasa
tergulung. Biasa juga terhampar. Seperti sifat sepuluh kepalaku.
Sepuluh kepalaku yang semengkilat mata lembing di pagi hari.

Sepuluh kepalaku yang satu per satu pernah aku penggal. Dan aku
persembahkan pada si waktu. Si waktu yang membuatku tak bisa mati.
Dan si waktu yang diam-diam terus memainkan guliran dadu di
mangkok. Agar tetap bernilai kosong. Kosong yang bergambar dua
lengkung yang ketemu. Sampai tak diketahui: ”Mana ujungnya, mana
pangkalnya.” Siapakah yang menduga jika hasil akhir seperti ini?

Sekali lagi, bolehkah aku meminta mati. Kirimkan dengan segera.
Jangan biarkan si kera putih itu terus-terusan menguntit pikiranku.
Menghadang segenap mantra yang aku sandang. Si kera putih yang,
meski tak mampu mematikanku, mudah membuat aku pikun pada
setiap yang tertemui: “Balairung, jalan, siasat, panji, sampai pada
sebaris kemajemukan cinta, rindu, dan kenangan.”

Sebaris kemajemukan yang akan semakin majemuk, ketika pinggiran
daun-daun kalatea yang setajam belati itu, mengupasi kehampaanku
yang mencengkeram sudah.

(Gresik, 2017)

Mawar Beludru

: seperti aswatama 

Kakiku ganjil. Seganjil kaki si penyerimpung. Si penyerimpung yang
diburu wangsa yang geram. Si penyerimpung yang telah memuntahkan
sisa ilmunya. Dan melibas para yang tidur di tenda ke pusaran amarah
dan dendam. Tapi, meski ganjil, kakiku seindah kelopak mawar beludru.
Mawar yang mengingatkan pada cangkang kura-kura. Cangkang yang
menyimpani ruang dan waktu yang retak. Dua hal yang tak teringinkan
berkibar di menara. Berkibar dengan warna merah, kuning, dan hijau.

Oh, ke langit yang tinggi aku menengadah. Mencari rahasia kepak burung.
Agar dapat aku temukan, arah mana yang dapat menuntunku. Terus
menelusup ke dalam senyap. Senyap yang, ketika nanti dibuka, akan
membuat siapa saja tahu: hidup di geraham bara, bukanlah hidup yang
lembut. Sebaliknya, tajam dan menggosongkan kulit. Apalagi, si penitah
yang tak pernah berdusta itu, berkata begini: “Kemarin, telah mati seekor
gajah. Yang namanya mirip dengan nama si penyerimpung.”

Kakiku ganjil. Diburu wangsa yang geram.

(Gresik, 2017)

Mardi Luhung lahir di Gresik, Jawa Timur, 5 Maret 1965. Buku puisinya antara lain Buwun (2010) dan Teras Mardi (2015)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mardi Luhung

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 16 Desember 2017

0 Response to "Kertas - Jeda - Ketika Memasuki - Surat Anjing Hitam - Kalatea - Mawar Beludru"