Kitab | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kitab Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Kitab

KAMU kenal dengan Kang Sodikin? Dia adalah putra Kiai Soleh yang paling disegani santri dan masyarakat desa Rajasinga. Selain orangnya pendiam, dengar-dengar ia sering menghilang. 

Kang Sodikin memang selalu hati-hati jika bicara soal perempuan, dan itu kerap dikatakannya jika ada pengajian umum yang bertempat di masjid Al-Iman setiap Jumat sore. ”Perempuan itu tiangnya negara! Tiangnya agama. Kalau perempuannya rusak, negara juga ikut rusak. Camkan itu!” begitu katanya. 

*** 
KEMUDIAN pada hari entah kapan, sekitar pukul satu dini hari. Seperti malam-malam sebelumnya, kebanyakan orang menghabiskan malamnya di warung kopi sambil bermain catur. 

”Punten, Mang, rumahnya Kang Sodikin di mana, ya?" tanya seorang perempuan yang tiba-tiba saja mengejutkan mereka yang sedang khusuk bermain catur. 

”Depan, kanan jalan, ada gang, terus belok, setelah itu lurus terus. Rumahnya warna putih, di depannya ada pohon mangga,” jawab salah seorang dari mereka dengan malas. 

Perempuan itu meneruskan langkahnya menuju rumah Kang Sodikin. Sementara mereka saling berbisik sambil terus memandangi perempuan misterius itu. 

”Bakal ada kabar hangat nih,” celetuk seorang dari mereka. 

”Mukanya kok mirip penyanyi dangdut, ya?” Seloroh yang lain. 

Isu tentang Kang Sodikin yang didatangi perempuan di malam buta menjalar ke tempat-tempat yang tak terduga. Misalnya warung remang-remang, dan telembuk-telembuk membicarakannya seperti orang yang sudah dikenal lama. Tapi yang paling menghebohkan dari itu semua yaitu di pondok pesantren sendiri, terutama santri putri. 

”Heh, itu yang datang ke rumah Kang Sodikin pacarnya kali, ya? Atau jangan-jangan itu istrinya? Patah hati aku.” 

”Tapi mengapa mesti malam? Kan siang bisa?”

 ”Atau mungkin Kang Sodikin malu kalau ternyata dia sudah menikah.” 

”Mengapa harus malu, jika terus terang, pasti tidak akan timbul fitnah.” 

”Heh! Masa kalian lupa, Alhayaa'u minal iman (malu itu bagian dari iman).” 

”Heh! Naruh hadist itu harus pada konteksnya. Sembarangan!” Paginya, tiba-tiba saja desa Rajasinga gempar. Bermula dari suara teriakan dari salah satu warga desa. Dorman, namanya. Orang kampung menjulukinya si mulut besar. Karena mulut besarnya, warga beramai-ramai mendatangi tempat kediaman Kang Sodikin. Sambil mengacung-acungkan lengannya Dorman berkata, ”Kita semua di sini tentu tahu tujuan kita, meminta pertanggungjawaban Kang Sodikin atas apa yang dia perbuat malam kemarin dengan perempuan itu!” 

”Siapa yang mengatakan saya telah menggelapkan perempuan di malam hari?” Ujar Kang Sodikin yang tiba-tiba muncul di depan rumahnya. Suaranya tenang dan dingin. 

”Saya!” Kata seorang yang muncul dari kerumunan. ”Saya melihat ada seorang perempuan bertanya pada malam hari tentang rumah sampean. Perempuan itu seperti bukan perempuan baik-baik,” lanjutnya. 

”Ya! Tapi apa kalian tahu siapa perempuan itu?” 

”Justru karena tidak tahulah kami mencoba ingin tahu,” tukas Dorman. 

”Mencoba ingin tahu dengan cara memfitnah?!” 

Semua warga desa terdiam. Kata terakhir itu memang sakti, Ting. Karenanya kata ini sering digunakan untuk berbohong. Contohnya kamu ini. Hehehe... 

”Tapi kami ingin tahu siapa perempuan itu, Kang? Bukannya membalikkan pertanyaan.” 

”Perempuan itu ibu saya.” 

”Tapi ibu sampean sudah meninggal duapuluh tahun yang lalu,” kata salah satu warga Desa. 

”Itulah yang perlu kalian ketahui. Dia datang hendak memberikan sebuah kitab pada saya.” 

Kembali warga desa pun terdiam mendengar jawaban Kang Sodikin yang misterius itu. Memang sebagian besar warga desa Rajasinga masih percaya dengan hal-hal tahayul, itu sebabnya warga desa mulai percaya dengan apa yang dikatakan Kang Sodikin. Takut kualat. Sementara Dorman sendiri bersungut-sungut sambil meninggalkan kerumunan, yang kemudian diikuti warga yang lain. 

Nah, keesokan harinya, Kang Sodikin sowan ke ayahandanya. 

”Kin, apa benar kemarin kamu bilang ke warga bahwa perempuan yang datang kerumahmu itu ibumu?” Tanya Kiai Soleh. 

”Iya, Bah. Semua itu saya lakukan untuk menghindari fitnah.” 

”Lalu siapa?” 

”Ia mengaku namanya Safitri. Saya tidak kenal dengannya. Dia hanya memberikan kitab ini dan langsung pergi. Hanya itu.” Ia menunjukkan kitab itu dan memberikannya pada Kiai Soleh. Kiai Soleh membuka kitab itu, mengamatinya dengan seksama, dan membuka lembar demi lembarnya. Tapi kemudian tiba-tiba airmata Kiai Soleh menetes. Ia menutub kitabnya. Sebenarnya apa yang ditemukan Kiai Soleh dalam kitab itu? Kang Sodikin sendiri tidak menemukan apa-apa di kitab itu selain sholawat. 

”Ini kitab kepunyaan ibumu,” ujar Kiai Soleh sambil mengusap airmatanya. ❑ - g 

Sanggar Suto, 2004-2017

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kedung Darma Romansha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 3 Desember 2017  

0 Response to "Kitab"