Kuburan Imperium | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kuburan Imperium Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Kuburan Imperium

Kuburan Imperium

1/
Raja agung dijunjung dan jatuh kemudian.
Berduyun pergi bangsawan tanpa pulang.
Trah imperium dikulum takdir kekalahan.
Lalu senyap dalam babad dan reruntuhan.

Kafilah berbalut jazirah menebarkan ajaran.
Berjingkat firman ke tahta dan pedusunan.
Tlatah pecah dan huruf kakawin tertawan.
Keyakinan leluhur mengungsi ke seberang.

Prasasti tak cuma lempeng batu kali di ladang.
Titah dan darah kepada angin mengirim pesan.
Burung tak membaca kitab dan cuma terbang.
Tapi kicauan mengusik lelap batang ketapang.

Jerami yang mudah terbakar adalah kekuasaan.
Kelewang dan pertikaian membabat kesunyian.
Di kedalaman kali tenggelam sisa akhir perang.
Ikan-ikan berenang dan langit fana mengawang.

2/
Berjaga toko roti di gerbang desa kemudian.
Telah hengkang tahi kuda dan kereta perang.
Tiang listrik menikam perut perkampungan.
Deru mesin membuyarkan senyap pertapaan.

Lama sudah tinta Prapanca resap di perabuan.
Risalah gemilang menjelma lembaran kusam.
Di warung-warung keluhuran silam melekang.
Orang-orang tersekap hunusan masa depan.

Di koran, pemuda desa Jambuwok tercacah logam.
Darah melumasi gilingan tajam mesin adonan.
Pabrik berkabung dan miris peluh buruh harian.
Jam kerja tak lagi berduka seusai penguburan.

Lesatan masa meninggalkan berdepa zaman.
Barisan mobil bersideku di halaman petilasan.
Setapak ditimbun pejal beton dan aspal jalan.
Tiada kefanaan di bumi yang tak ditinggalkan.

3/
Sekujur senja Brahu sendu kecoklatan.
Membisu di sudut candi kikisan kejadian.
Berhuni roh brahmana di celah retakan.
Terkubur abu waktu di kolong ingatan.

Kebun tebu menyerap serbuk mayat pangeran.
Sepi dan rahasia tersimpan di lambung batang.
Terbenam tilas permaisuri di bawah pematang.
Bunyi tapak kaki ratu menjadi peri menawan.

Akar perdu menusuk pori undakan persemadian.
Di pucuk mempelam keluarga tekukur bersarang.
Asap dupa lenyap dari udara setelah trah padam.
Tak lagi duka melinang meratapi raja yang hilang.

Kucuran pestisida dirayakan di sekujur persawahan.
Tiada mantra hama di ladang dan pudar dari ingatan.
Tikus dan serangga hancur terlindas di tengah jalan.
Manusia dan alam berseteru tanpa juru keadilan.

4/
Gerobak bakso bertahta di pinggiran Kolam Segaran.
Para kawula bernaung langit mengail nasib dan ikan.
Tiada lagi utusan dari seberang dijamu raja di tepian.
Ranah agung Wijaya telah menjelma tlatah bawahan.

Pagar kawat kolam terulur dari mesin pengetahuan.
Mati laskar penjaga dan tak pernah lagi dilahirkan.
Di sekujur dunia waktu melesapkan tilas kefanaan.
Genangan air membenam peristiwa dan bungkam.

Rumah berubin licin menjalar di permukiman.
Berjaga televisi di ruang tamu tanpa terpejam.
Telah redam suara petuah suci kaum begawan.
Benda-benda datang dengan harum godaan.

Ludruk kadang berkacak lagak pada malam.
Panggung dari bilah papan dan bedak riasan.
Di latar rumah tersaji kisah suci dan kejam.
Kibasan sampur menguras perut celengan.

5/
Raja-raja menjelma plang nama gang dan jalan.
Kekuasaan tanpa tahta sepi di tepi perempatan.
Kenangan agung jadi gurat cat di lembar logam.
Tukang pos datang mengantar surat dan tagihan.

Negara mengirim lempang jalan besar melintang.
Tlatah terbelah membentang di utara dan selatan.
Betapa riuh orang-orang berlintasan dari seberang.
Toko sepatu memencilkan gerbang Wringin Lawang.

Arca batu bertapa di latar rumah dan tepian jalan.
Tiada asap dupa, mantra dan kembang pemujaan.
Hampa membalur patung bersila bugil melajang.
Patung pahatan tak mengiba nasib ke tatah logam.

Bangkai tikus dan puntung mengapar di aspal hitam.
Di bawah truk tak ada upacara kremasi dan kuburan.
Telah mati para raja dan tak dikuburkan di pertokoan.
Nama-nama gang dan jalan dibuat dari sisa kematian.

6/
Di dinding kamar seorang bocah menggambar kapal selam.
Teropong kapal tersembul melihat kenyataan di atas lautan.
Tiada laut di Trowulan dan gores serbuk kapur terhapuskan.
Sejarah adalah orang tua menatap jejak rongsokan kejadian.

Di Lebak Jabung trah istana mengubur mayat ayam jantan.
Kuburan lengang di dusun terkepung kerukan penambang.
Truk-truk buncit batu galian melindas jalan duka pangeran.
Kesedihan menjelma kubang hujan dan takdir sopir harian.

Anak-anak dusun kemudian tanpa jangkrik dan belalang.
Hujan terpencil dari keriangan kaki telanjang di halaman.
Televisi menjadi kerajaan iklan dan kuburan kejadian.
Bau mi instan merasuki mimpi hingga pelosok terdalam.

Pasar-pasar desa menjual kenangan sayu dan harapan.
Ideologi menghuni sekujur minimarket sehari 1 x 24 jam.
Sawah-sawah sekarat di jantung dusun dan pelipis jalan.
Sepotong roti tak bisa ditukar dengan beras segantang.

7/
Lars kolonial Eropa melayap ke pedalaman.
Tibalah Raffles di tlatah imperium terpendam.
Akar alas jati abad XIX mencengkeram ingatan.
Orang benua jauh mengejutkan binatang hutan.

Hingga sekian mil terserak kisah sayup silam.
Tampak waktu kelabu tersekap tidur panjang.
Di kepala candi kawanan serangga bersarang.
Ruang renta tertimbun perca tembikar kelam.

Jejak utusan ratu asing telah raib di Trowulan.
Wajah penjajah tak tergurat di gerabah kusam.
Eropa menguburkan tahta para raja di selatan.
Haru Raffles tersaput abu belulang kekuasaan.

Serbuk kabut luruh di belukar dan ujung jalan.
Sekujur Penanggungan tergeletak telanjang.
Meluap dangdut dari radio di perkampungan.
Pujangga Desawarnana telah lama berpulang.

8/
Dewa di kakawin dipuja kawula dan tuan.
Asap dupa merasuki udara dan pemujaan.
Sudah berubah wajah kisah di Trowulan.
Iga sapi panggang terkulai di meja makan.

Tamu dari gurun tiba berbekal surga dan kalam.
Kakawin lama berdiam di guci abu begawan.
Gapura tampak purba dijaga roh kesunyian.
Patung batu hilang dan tak lagi ditemukan.

Langit tlatah dihuni bintang dan rembulan.
Turun gerimis firman dari ubun ketinggian.
Mayat-mayat diarak orang ke liang makam.
Kamboja di bumi bermekaran di atas nisan.

Jalan waktu entah lurus atau serupa gelang.
Hujan di masa resi seperti hujan kemudian.
Genangan hikayat menghuni kelok selokan.
Mimpi tak bisa mati menjadi kabut harapan.

9/
Laut telah sekarat dan tiada gema di ranah selatan.
Kapal dan nakhoda di bilik sejarah tidur panjang.
Trowulan tanpa junjungan sejak abadi kehancuran.
Di belakang warung tergeletak bekas keagungan.

Di ceruk bumi tertanam upeti dan jarahan perang.
Trah raja tanpa buntelan harta di candi kematian.
Bekas tahta terpendam menjelma puing warisan.
Emas desa Kemasan dipulung kaum penambang.

Bertandang orang desa ke sawah dan ladang.
Hanyutlah air sumur di serabut sekujur badan.
Terbang seikat padi menguning ke wuwungan.
Arwah leluhur bersila di sepanjang pematang.

Desa-desa merengkuh bayang diri yang hilang.
Sehari sebakul nasi dan secobek sambal bawang.
Dari lincak ada marak senja tenang dipandang.
Semuanya pulang selain keagungan Trowulan.


Binhad Nurrohmat lahir di pedalaman Lampung dan kini bermukim di Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Buku puisinya antara lain Kuda Ranjang (2004) dan Kwatrin Ringin Contong (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Binhad Nurrohmat
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 2 Desember 2017

0 Response to "Kuburan Imperium"