Mahar yang Tertinggal (Bagian I) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mahar yang Tertinggal (Bagian I) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Mahar yang Tertinggal (Bagian I)

“YA, akan aku ambil nanti ke apartemenmu.”

“Terima kasih ya, Rin. Maafkan aku. “

Dan kututup pembicaraan ini dengan sunyi. Entah apa yang ada di kepalanya hingga rela membuatku seperti hujan di bulan Desember. Deras tanpa henti. Dan maaf yang terlontar tak lebih dari pengulangan kata, terlalu sering dan hilang makna.

Kuhembuskan napasku panjang. Sembab mataku sudah tidak mampu disamarkan lagi. Kulihat wajah ini melalui pantulan jendela, kuyu dan layu. Tidak kulihat sedikit pun cahaya terang dari diriku saat ini. Kelam dan sendu.

Ardi namanya. Kami bersahabat sejak SMP. Saat itu aku adalah anak baru pindahan dari Bandung. Aku pun tidak tahu alasan apa bapak mengirimku ke kota Medan. Kota yang membuatku selalu gemetar setiap kali mendengar orang berbicara. Keras, lantang, dan apa adanya.

“Hei, kamu anak baru?” katanya dari jendela nako sambil tersenyum jahil. Mereka selalu bergerombol, lima anak laki-laki yang cukup terkenal di sekolah. Dari mereka semua hanya Ardi yang sering menyapaku, walaupun dengan sebutan anak baru.

“Kamu namanya siapa?”

“Airin.”

“Oh, kamu pindahan dari Bandung ya?”

“Iya, kamu kata siapa?”

“Kata Bu Guru.”

“Hoi, Ardi, kamu mau ikut ke kantin atau mau nongkrongin anak baru itu terus?”

“Kamu mau ikut ke kantin?” tanyanya kembali.

“Aku di kelas saja.”

Percakapan yang tidak pernah aku lupakan sampai saat ini. Bahkan aku masih ingat binar matanya saat itu. Rambutnya hitam dan lurus. Rona wajahnya terlihat jelas ketika dia digoda teman-temannya.

Lalu aku sendiri merasakan wajahku dijalari rasa hangat. Tidak hanya itu, bahkan jantungku berdegup cepat.

Waktu berlalu sangat indah sejak perkenalan itu. Dan Ardi menjadi teman bermainku di sekolah dan rumah. Kami menghabiskan waktu tidak hanya jam istirahat sekolah, bahkan selepas sekolah dan terkadang di hari Ahad.

Aku menjadi satu-satunya anak perempuan di antara gerombolan mereka. Ardi cenderung melindungiku ketika ada anak yang jahil. Selain itu, dia juga sangat rajin membantu tugas sekolah atau hanya sekedar mengingatkan.

Persahabatan itu pun terus berlangsung hingga kami kuliah. Aku memilih meneruskan di Bandung, kota kelahiranku, sedangkan Ardi memutuskan di Yogyakarta. Ardi memilih berangkat ke Yogyakarta dari Bandung. “Biar aku antarkan kamu pulang. Sekalian aku mau jalan-jalan mengenal kota Bandung,” katanya saat kami sama-sama harus meninggalkan kota Medan.

Dua hari kami lalui bersama di kota kelahiranku. Kebetulan, orang tuaku menawarkan Ardi untuk menginap di rumah. “Kamu simpan saja uangmu untuk bekal nanti di Jogja.” Tentu saja tawaran bapak ini disambut gembira oleh Ardi. Senyum sumringah pun tidak mampu dia sembunyikan ketika mendengar perkataan bapak. Tentu saja orang tuaku sangat senang dengan kehadiran Ardi di rumah kami. Mempunyai anak laki-laki adalah salah satu impian ibu yang sudah tidak mungkin terwujud.

“Menginap gratis dan pemandu wisata cantik,“ katanya dengan senyum yang diiringi kerling jahilnya ketika menerima anjuran bapak dan ibu. Entah dia sadar atau tidak kala itu wajahku merona bahagia. Dan aku berharap dia akan tinggal lebih lama.

Tugasku menjadi pemandu wisata Ardi pun selesai. Tiga hari yang penuh cerita dan warna. Hari-hari yang sangat indah, bahkan lebih indah dibandingkan sebelum nya. Melewati gerimis sore dengan gelak tawanya selalu aku rindukan. Atau keisengan dia yang berhasil membuatku tersipu. Ada kebahagian yang terselip di relung hatiku.

Tidak aku pungkiri, ada harapan ini akan terulang lagi. Dan pagi itu, menjadi perpisahan yang berat buatku. Stasiun Kebon Kawung tiba-tiba lebih dingin dari biasanya. Perjalanan yang tidak terlalu panjang itu pun terasa sepi dan kaku. Sesekali pandanganku tertuju ke parasnya yang terlihat serius mengendarai mobil. Tidak jarang pula tatapan kami beradu tanpa sengaja, yang akhirnya menyisakan rona merah dan senyum canggung kami berdua.

“Rin, terima kasih ya sudah baik sama aku.”

“Halah, basa-basi kamu!”

“Hahaha … tetap berkabar ya, biar kangenku terobati.”

“Paling juga nanti kamu lupa sama aku. Di sana pasti kamu akan sibuk dengan cewek-cewek cantik.”

“Aih, kamu cemburu.” Dan pipiku memerah jambu hingga membuat dia tertawa bahagia. Andai saja kamu tahu, Ardi, aku ingin kamu selalu bersamaku, doa kecilku pada Tuhan saat itu.

Kami pun memasuki parkiran stasiun. Kami pun melewati loket peron. Hati ini semakin berat, air mata pun menitik di pipiku. Kupalingkan wajah untuk menghindari tatapannya. Binar matanya tidak pernah berubah, hidup dan penuh semangat. Sorot mata yang selalu membuatku bersemangat ketika bersedih.

Beberapa saat kami saling terdiam, hingga terdengar pengumuman kereta akan segera diberangkatkan, tanda kami harus berpisah. Ardi tiba-tiba saja memegang tanganku dan tatapannya begitu lekat. Tanpa permisi, dia mengelus pipiku sebelum meloncat menaiki gerbong. Peluit kereta api mengiringi kepergiannya. Lambaian tangan yang entah kapan aku bisa melihatnya lagi.

Kuliah membuat kesibukan kami jarang berkirim surat atau hanya sekedar mengangkat telepon dan menanyakan kabar. Akhirnya kabar pun tidak pernah terdengar. Bertahun-tahun berlalu. Aku pun tidak pernah tahu lagi kabar keberadaannya. Persahabatan kami hilang ditelan jarak, meskipun sering kali hati ini disisipi rasa rindu.

Perpisahan di stasiun beberapa tahun lalu berhasil menyita hatiku. Berulang kali aku didekati teman kampus dan jawabanku selalu, “Maaf, aku ingin belajar dulu.” Sejak pagi itu, aku hanya merindukan Ardi. Tidak sanggup rasanya membayangkan aku harus bersanding dengan orang lain selain Ardi.

Tanpa lelah aku masih terus berharap Ardi menyatakan perasaannya. Awal-awal kuliah kami masih berkirim surat walau itu hanya sebatas cerita kampus. Tetapi asa itu tidak pupus sedikit pun. Ya, aku mencintainya diam-diam. Entah sejak kapan dan sampai kapan.

Lima tahun berlalu sejak surat terakhir yang aku terima, tibalah hari pernikahanku. Perjodohan yang telah diatur orang tua aku terima begitu saja. Tidak ada pertimbangan apa pun, aku hanya percaya dengan pilihan mereka. Lagi pula, aku tidak tahu harus sampai kapan menunggu Ardi. Surat terakhir yang aku kirimkan tidak ada balasan. Dan ketika ku telepon kosnya, dia sudah pindah. Alamat kos baru pun tidak aku dapatkan.

“Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, Airin. Biarkan kami menimang cucu sebelum kami berpulang.” Dan aku hanya mengangguk mengiyakan. Sebagai anak satu-satunya, aku tidak pernah kuasa menyakiti perasaan ibu dan bapak. Hanya mereka yang aku punya. Di usianya yang sudah renta, ibu dan bapak sering kali mengeluh rumah sepi ketika aku bekerja. Padahal, aku masih tinggal serumah dengan mereka. Tetapi sang penerus trahlah yang dinanti orang tuaku.

Harapan ibu dan bapak pun terkabul. Di tahun kedua pernikahanku dengan Mas Hemi telah ramai suara tangis bayi. Dan kali ini pun rengekan lain kembali dilontarkan ibu, “kalian tinggal di sini saja. Biar ibu bisa bermain dengan Biyan. Bapakmu pasti senang.” Permintaan yang sulit aku tolak karena ibu dan bapak hanya punya aku untuk mengurusnya di masa tua mereka. Tetapi keinginan menempati rumah sendiri pun diinginkan aku dan Mas Hemi.

Krismarliyanti adalah seorang penulis yang lahir di Rangkasbitung, Banten. Hobi membaca dimulai sejak sekolah dasar dan mulai menulis dari tahun 2000. Dunia seni sudah dikenalnya sejak usia remaja dan menjalani serius dunia teater ketika kuliah di Yogyakarta. Mulai menulis dengan naskah drama lalu kemudian tertarik menulis puisi. Salah satunya puisinya sudah dimuat di buku Medan Puisi, antologi puisi Sempena the 1st International poetry Gathering yang diadakan di Medan pada tahun 2007. Buku kumpulan puisinya yang berjudul Poetry Anthology Lentera telah terbit pada tahun 2016. Selain menulis, Krismarliyanti pun seorang perupa. Hasil karyanya telah dijadikan sebagai cover dan ilustrasi di buku antologi pertamanya. Beberapa karya tulis dan lukisan serta drawing art dapat dinikmati di Fb: htttps://www.facebook.com/krisdonaldson; https://thelantern07.blogspot.co.idatau Instagram @KrisDonaldson.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Krismarliyanti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu, 24 Desember 2017

0 Response to "Mahar yang Tertinggal (Bagian I)"