Mereka Juga Anakku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mereka Juga Anakku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Mereka Juga Anakku

MENJADI SEORANG GURU sebenarnya bukanlah cita-citaku. Bahkan, sebenarnya pendidikan formalku adalah sebagai seorang psikolog. Namun, inilah yang menghantarkan aku pada dunia pendidikan. Dan profesi sebagai guru inilah yang kemudian membuatku jatuh cinta dan bangga menjadi seorang guru, walau hanya dengan empat murid. Dan pada perkembangannya, mereka bukan lagi muridku, tapi juga anakku.

Kecintaanku pada dunia pendidikan bermula dari seorang anak dengan pembawaan khusus. Dia seorang tuna netra. Rini namanya. Entah mengapa naluriku mengatakan bahwa aku harus membuat anak ini menjadi ‘hidup’. Entah dari mana aku punya dorongan sedemikian kuat.

Setiap hari, aku menjemput Rini yang rumahnya agak jauh. Aku mengajaknya bercanda. Aku merasakan kebahagiaan tatkala melihat Rini begitu bahagia. Maklumlah, oleh sebagian warga di tempat tinggalku, masih ada stereotipe yang kurang ramah terhadap mereka. Setelah beberapa lama berselang, Bu Anan mulai memahami makna pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari kepercayaan diri Rini yang mulai tumbuh. Bahkan, dengan bantuan tongkatnya, anak perempuan itu bisa pulang pergi dari rumahnya ke rumahku tanpa antar jemput lagi.

Melihat perkembangan yang dianggap sangat bagus ini, ternyata ada tiga anak dengan kasus yang sama dengan Rini dititipkan padaku. Tentu dengan senang hati aku menerimanya. Aku mengajari mereka untuk menerima diri mereka dengan segala keadaannya. Sebab, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Yang bisa kita lakukan adalah membuat hidup kita ini tidak menjadi beban bagi orang lain. Bahkan, jika bisa sebaiknya juga bermanfaat bagi orang lain.

Bahkan, setelah tiga tahun mereka menjadi muridku, ada hal yang membuatku menjadi bangga. Mereka ternyata memang benar-benar manusia istimewa. Agus sudah bisa membuat kerajinan kemoceng dan sapu lidi yang bisa dijual ke pasar. Marni sudah bisa memasak dan mencuci piring sendiri. Roni yang suka sekali bermain biola kini menjadi begitu semangat dengan biolanya. Sedangkan Rini, menunjukkan kepercayaan diri yang luar biasa. Dia bahkan yakin jika dirinya itu bukan penyandang tuna netra. Kepercayaan diri Rini ini sering kali membuat orang di sekitarnya menjadi geleng-geleng kepala. Sebab, dia bisa berkeliling desa sendiri. Dia juga mampu mengenali suara orang dengan baik dan berkomunikasi dengan siapa pun tanpa rendah diri.


Suatu hari, dia bertandang ke rumah Arin. Rini mengetuk pintu. Arin ternyata sedang berganti baju. Maka ia berkata, “Siapa ya?” Gadis itu terheran. Mengapa Arin tidak tahu bahwa ia yang datang. Bukankah mereka berdua sudah berteman sejak kecil?

Ketika Arin muncul, yang pertama kali dikatakan Rini adalah, “Ar, apa kamu sekarang buta seperti aku dulu?” sontak Rini membantahnya. Rupanya, Rini tidak tahu bahwa orang yang bisa melihat lebih mengandalkan matanya untuk mengenali seseorang.

Bahkan, jika ada yang menabraknya di jalan, Rini tidak segan-segan bertanya, “Mengapa Anda menabrak saya? Apakah Anda buta seperti saya dulu? Kalau begitu saya antarkan ke Bu Bina supaya kamu tidak buta lagi.” Kalimat inilah yang selalu diulang-ulang. Bahkan kemudian menjadi buah bibir di desaku. Setiap kali mendengar kabar ini, aku hanya bisa tersenyum saja. Merasakan kebahagiaan Rini yang merasa ‘sembuh’ dari ketunanetraannya.

Pernah orang sekampung dibuat kalang kabut oleh gadis ini. Selepas azan isya, dia menghilang. Ibunya menangis melolong-lolong karena anak kesayangannya itu raib entah ke mana. Bunyi titir tanda orang hilang membahana seantero desa. Semua dikerahkan untuk mencari Rini.

Ada seorang penduduk yang menemukan sepasang sandal Rini di tepi sungai. Ketika diberitahukan hal ini, ibunya pingsan. Pastilah Rini sudah hanyut dibawa arus yang memang sedang deras-derasnya. Maka semua warga membantu mencari Rini di sepanjang sungai. Beberapa pemuda dikerahkan mencari di dasar sungai. Namun, hasilnya nihil. Mereka terus berusaha mencari. Usaha pencarian dilakukan sampai hari menjelang pagi. Wajah-wajah kelelahan mulai tampak dari warga. Bahkan beberapa di antaranya sudah mulai putus asa. Mereka meminta agar mengikhlaskan apa pun yang terjadi pada Rini. Bu Anan tidak bisa menerima kenyataan yang sangat menyakitkan ini.


Matahari mulai bersinar. Beberapa warga yang putus asa sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Kini hanya tinggal aku, Bu Anan, dan Pak Kades. Bu Anan masih saja menangis sambil berdoa. Beberapa kali masih pingsan. Pak Kades meminta agar kami kembali saja ke rumah. Kalau nanti ada kabar lebih lanjut akan segera diberi tahu. Pak Kades meninggalkan kami berdua.

Aku pun mulai digelayuti perasaan putus asa. Tapi, aku tidak mempercayai penglihatanku sendiri. Rini berjalan mendekati kami. “Rini!” teriakku sambil menghampirinya. Bu Anan menangis tersedu-sedu. Wajah Rini tampak kebingungan sekali.

“Dari mana saja kamu, Nak?” tanya Bu Anan.

“Nonton wayang,” jawabnya enteng.

Aku hanya bisa menghela napas panjang dan bersyukur atas kembalinya anakku yang satu ini. Warga desa menjadi lega. Walaupun ada juga yang merasa ‘dikerjai’ Rini. Apalagi, kisah Rini nonton wayang ini menjadi buah bibir orang di kampung selama beberapa waktu. Dan anehnya, gadis itu benar-benar bisa menceritakan apa yang katanya dia lihat itu.

Akan halnya dengan Roni. Bakatnya menjadi seorang musisi luar biasa. Suaranya yang indah dan kemampuannya dalam memainkan biola membuat beberapa gadis diam-diam menaruh hati pada pemuda ini. Beberapa kali ia memenangkan lomba menyanyi sampai di tingkat kecamatan. Maka pemuda ini menjadi terkenal. Berbagai job sudah dia dapatkan di usia semuda itu. Aku bersyukur sekali.

Saat ada pertunjukan musik klasik di kabupaten akan diselenggarakan, ternyata, salah seorang pemain biolanya mendadak sakit. Konser dikhawatirkan menjadi tidak sempurna. Ketenaran Roni membuat seorang panitia merekomendasikan pemimpin kelompok ini untuk menghubungi pemuda tersebut. Saat menjalani tes, ternyata dinyatakan kemampuan pemuda itu sangat bagus.

Malam konser tiba. Aku dan bapak ibunya diundang ke gedung kabupaten. Aku berpesan agar dia melakukan yang terbaik. Anakku ini menganggukkan kepalanya dengan keyakinan. Suasana semakin ramai. Tempat sudah penuh oleh penonton. Maklumlah itu kali pertama diadakan konser musik klasik.

Di tengah konser yang begitu agungnya, tiba-tiba lampu padam. Sontak saja semua alunan musik terhenti. Tapi ada hal yang tak bisa aku lupakan seumur hidupku. Ada alunan biola yang tetap mendayu-dayu memasuki relung kalbu setiap penontonnya. Gelap pekatnya panggung tak membuat gelap matanya. Aku langsung bisa menebak bahwa itu anakku. Roni. Tak terasa air mataku mengalir. Tuhan, hari ini Engkau memperlihatkan pada kami semua siapakah yang tidak bisa melihat. Sejak kejadian itu, nama Roni semakin dikenal. Ini kebahagiaanku yang tidak bisa dibayar dengan apa pun.

***
KINI mereka semua telah dewasa. Berkat ilmu yang mereka miliki dan semangat hidup yang menyala-nyala, mereka telah menjadi insan mandiri. Agus telah menjadi juragan kemoceng dan sapu lidi yang dipasarkan ke beberapa daerah. Ia bahkan mempunyai beberapa karyawan. Marni yang terkenal jago masak kini membuka warung yang tidak pernah sepi pengunjung. Masakannya yang khas membuat semua orang kangen. Sementara itu, Roni menjadi musisi terkenal. Beberapa kali mengikuti konser musik ke luar negeri. Dan Rini, telah memberiku seorang cucu dari pernikahannya. Ia bahkan mampu mengurus anaknya dengan baik. Dari mulai menggendong, memandikan, menyuapi sampai mencuci pakaian. Bahkan ia juga aktif terlibat dalam kegiatan ibu-ibu PKK.

Mereka semua adalah anakku.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Shuniyya Yusuf
[2] Pernah tersiar di "Majalah Guruku" No. 03 – APRIL 2009

0 Response to "Mereka Juga Anakku"