Paduka Berhala - Kemoceng - Kerupuk - Caluk - Orang Dusun - Indeks Salah Catat, 1998 - Berseluncur dalam Dongeng | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Paduka Berhala - Kemoceng - Kerupuk - Caluk - Orang Dusun - Indeks Salah Catat, 1998 - Berseluncur dalam Dongeng Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Paduka Berhala - Kemoceng - Kerupuk - Caluk - Orang Dusun - Indeks Salah Catat, 1998 - Berseluncur dalam Dongeng

Paduka Berhala

Kubiarkan nyamuk-nyamuk kegelapan
Menambang darahku di luar asap damar.

Kubiarkan sulur-sulur senja
Mengupak hasratku di atas api kesunyian.

Kubiarkan rebus batu kuap
Rendang sapiku dan kacang panjang.

Kubiarkan gulai tunjang dan sambal teri
Gado-gado air suling dan putih nasiku.

Segala kecap di ujung ratap,
Segala serat di tulang singkap,

Kubiarkan lambung panas mengurai spageti
Sebagai vampir di bawah jam tidur matahari

Muarabungo, 2017

Kemoceng

Tak ada debu matahari di lantai ini.
Tak ada badai kuaci di meja ini.

Selimut debu
Hablur di angin lalu.

Dengkur melembing
Di ujung baring.

Seujar angin lalu
Bersilat di lubang pintu.

Di ekor kucing persia kini cuma ada klakson jangkrik
Bergetar seperti remuk api di kepala busi

Muarabungo, 2017

Kerupuk

Santap aku dengan kuah pical dan saus tomatmu
Tegaskan gigit sebelum pecah darah dalam derukmu.

Lempar aku ke relung perut hitam kucing jantanmu
Tetak ngiau sebelum serat meliputi prasangkamu.

Retas aku dengan tanda seru dalam nadimu,
Tandai kerapuhanku sebelum detak waktu remuk batu.

Muarabungo, 2017

Caluk

Tak perlu udang di balik batu
Bila ingin memancing ikan di laut jantungku.

Tak perlu harimau di balik pintu
Bila ingin memangsa rusa di rimba hatiku.

Muarabungo, 2017


Orang Dusun

Orang dusun lebih memahami
Kenapa serumpun betung yang tumbuh di bibir jurang
Lebih mampu membendung  tanah longsor
Ketimbang berbatang-batang kayu rengas di puncak bukit.

Orang dusun lebih mengerti
Kenapa giam dan keruing
Lebih mampu mengambang bertahun-tahun di atas Batanghari
Ketimbang setongkang kayu gabus

Muarabungo, 2017


Indeks Salah Catat, 1998  

/1/
Tanganmu tak cukup cekatan
menghapus nama putramu dari
halaman indeks buku sejarah.
Suaramu juga tak senyaring

mesin sedot debu di gedung
pemerintah, rapikan sobekan
arsip dari ruang bawah tanah.
Kau masih saja bertanya,

“Di mana anak-anak kami?"
meski langit kamis selalu sama
dua dekade simpan rindu
bagai sepotong tali di lehermu.

/2/
Tubuh mereka teridentifikasi
dalam pose kejang saat tinju
sekuat palu menghantam perut

garis sayat merias pelipis
otot-pitam satu-satunya hiburan
dari efek linglung sebelum butir

peluru jadi bonus tiket kesunyian.
Nama-nama jadi kabar burung antara
berkas kerja dan pidato penuh melankoli.

2017


Berseluncur dalam Dongeng

Dongeng timbul dari alkisah gua
julurnya kira-kira seekor melata.

Gadis kecil rebah di ranjang
dielus kulitnya sambil dibisiki.

Dalam tidur ia sudah ditelandongeng
ia meluncur bagai di lorong usus.

Mencuat dari buntut dongeng
ditadah keramaian antah-berantah.

Ia pangling bertemu wajahnya
di bermacam badan dan usia

Semua lalu mengenalkan muasalnya
dari zaman silam hingga masa depan

2017

Ramoun Apta lahir di Muarabungo, Jambi 26 Oktober 1991. Alumnus Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalan, Padang, ini sedang melanjutkan studi pascasarjana di universitas yang sama. Ia bergiat di Labor Penulisan Kreatif (LPK)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ramoun Apta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 9 Desember 2017

0 Response to "Paduka Berhala - Kemoceng - Kerupuk - Caluk - Orang Dusun - Indeks Salah Catat, 1998 - Berseluncur dalam Dongeng"