Penjual Kesedihan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Penjual Kesedihan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:00 Rating: 4,5

Penjual Kesedihan

SETELAH ditinggal pergi oleh suaminya karena gugur dalam peperangan melawan penjajah, Suminem kini tinggal sendirian. Tak ada lagi yang memberinya nafkah. Tak ada lagi yang menemaninya berdiam diri di rumah. Dan karena itulah, ia bertahan hidup dengan cara menjual kesedihan. Itu satu-satunya pekerjaan yang bisa ia jalankan. Sebab, jika ingin jadi petani, ia tak punya sawah ataupun ladang. Jika ingin jadi pedagang, ia tak punya modal. Jika ingin jadi pramugari, tentu tidak mungkin, tubuhnya tidak seksi dan wajahnya terlalu sukar untuk selalu ceria di hadapan orang-orang dalam pesawat. Ia sudah agak tua dan tidak lagi cantik seperti dulu kala. 

Maka, hanya kesedihan yang tiap hari datang kepadanya secara tibatiba itu, ia kumpulkan. Sedikit demi sedikit. Sakit demi sakit. Ia jual kesedihan itu di mana saja. Di pasar yang menjual berbagai macam bersama orang-orang yang lain. Karena tidak punya lapak sendiri, ia menjajakan kesedihannya sambil berjalan. Setiap pagi, ia akan berjalan di gang-gang pasar untuk mencari pembeli. Dan ketika sampai siang tidak ada yang membeli, maka ia akan menyusuri jalan sambil meneriakkan dagangannya. Atau di tengah keramaian taman. Atau di mana saja, tergantung keinginannya. 

”Kesedihan, kesedihan, kesedihan. Murah, murah, murah. Kesedihan, Pak? Kesedihan, Bu? Murah, murah, murah.” 

Ketika berteriak seperti itu, orangorang yang tidak mengerti makna kesedihan akan menggeleng-gelengkan kepala. Merasa heran. Atau bahkan malah mencibir. 

”Kesedihan kok dijual.” 

”Ya, kesedihan kan sampah. Harus dibuang jauh-jauh.” 

”Ya, harusnya begitu. Barang itu mengundang dan bahkan mengandung penyakit.” 

”Aneh.” 

”Ya, aneh sekali.” 

”Orang gila.” 

Tetapi, bagi orang-orang yang mengerti, hal itu adalah lumrah. Betapa kesedihan sangat dirindukan bagi orang-orang yang sudah terlalu lama bahagia. 

”Bu, saya beli kesedihannya. Hmm. Ini penting buat kehidupan saya.” Kata ibu-ibu dengan gelang emas melingkar di lengannya dan kalung melingkar di leher jenjangnya, dengan tas jinjing yang harganya lebih mahal dari ginjal si perempuan penjual kesedihan itu dan sepatu jinjit yang harganya lebih mahal ketimbang ratusan sendal jepit yang dipakai perempuan penjual kesedihan itu. Ibu-ibu itu sudah terlalu lama bahagia. 

Begitulah akhirnya. Ketika bertemu dengan seseorang yang demikian, perempuan itu sangat senang. Apalagi kalau kesedihan yang ia jual itu diborong. 

”Syukurlah, kesedihanku laku semua.” Gumamnya sambil mendongak ke langit. Ke arah di mana tak ada rasa sakit. Kalau sudah seperti itu, ia tidak peduli lagi kalau menjual kesedihan haruslah menengadahkan tangan terus menerus sambil memelas. Ia tidak peduli itu. Yang penting dapat uang dan esok hari ia bisa makan. 

*** 
SUATU hari yang telah ditentukan oleh Tuhan, Suminem tidak lagi punya kesedihan. Ia tidak tahu kenapa kesedihan tidak mengunjunginya. Apakah kesedihan merasa dilecehkan karena telah diperjualbelikan? Apakah kesedihan sudah bosan telah terlalu lama mendatanginya? Tetapi, Suminem tidak terlalu menghiraukan hal itu. Sebab, kehidupannya sudah tercukupi meskipun sekarang menjadi pengangguran. Tidak lagi menjual kesedihan demi kesedihan. Intinya, ia sudah tidak lagi punya pekerjaan. 

”Ya Tuhan, terima kasih. Aku sudah bahagia hari ini.” Gumamnya dalam hati. 

Di samping itu, Suminem mengingat kehidupannya hari-hari terakhir ini. Ya, ia begitu bahagia. Makan tidak lagi kebingungan harus mencari uangnya dari mana. Belanja sayurmayur, pakaian, memperbaiki dinding-dinding rumahnya, kini sudah tidak berat lagi baginya. Uang telah menanggung kehidupannya. 

Ketika ia berjalan ke pasar, mau membeli bahan-bahan pangan, orangorang yang biasa membeli kesedihannya pada bertanya kenapa ia tidak jualan kesedihan lagi? Suminem menjawab sambil tersenyum, aku sudah bahagia. Tidak punya kesedihan untuk kujual. 

*** 
LAMA-LAMA, uang yang disimpan perempuan itu habis. Ia kembali bersedih sebab esok tak lagi bisa membeli makanan. Ia mengumpulkan lagi kesedihannya. Sedikit demi sedikit. Sakit demi sakit. Ketika kesedihan itu terkumpul, ia punya pekerjaan lagi. 

”Kesedihan, kesedihan, kesedihan. Murah, murah, murah.” Ucap Suminem lirih. Kakinya menyusuri ganggang pasar. Kemudian menyusuri jalan kecil. Kemudian menyusuri jalan besar. Kemudian di perempatan jalan, tepat di sekitar lampu merah. Tetapi, sebelum ada yang membeli kesedihannya, tiba-tiba orang-orang berseragam menangkapnya dan membawanya ke dalam mobil. Di mobil itu, sebelum benar-benar mengerti apa masalahnya, ia tahu, tidak hanya dirinya saja ternyata yang menjual kesedihan. Ada anak-anak kumal, nenek yang kakinya hilang satu, bapak-bapak tidak punya tangan, banci kaleng, ibu-ibu membawa anaknya, semuanya menjual kesedihan dan mereka berkumpul di mobil ini. Mobil yang entah akan menuju ke mana? 

*) Daruz Armedian, lahir di Tuban. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Daruz Armedian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 17 Desember 2017 

0 Response to "Penjual Kesedihan"