Rindu Menjelang Senja (Habis) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rindu Menjelang Senja (Habis) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Rindu Menjelang Senja (Habis)

BULAN demi bulan berlalu, tahun demi tahun terlewati. Musim berganti dari hawa dingin sampai panas menyengat, tak ada yang datang melihat wanita tua sepertiku. Sisa-sisa harapan itu masih kusimpan walau terasa semakin menipis.

Aku berharap ada keajaiban. Setidaknya ada yang datang mengabarkan tentang tanah lahirku yang permai. Apa yang sedang terjadi. Bagaimana Natal di Jakarta. Bagaimana pula Lebaran dengan ketupat dan salaman di Bandung. Ah, pohon maple tanpa dedaunan itu menjadi saksi rinduku yang hampir mengering .

Aku mulai tersadar bahwa benar semua rasa muncul saat kerentaan tiba. Semua menyatu dalam satu warna hidup yang bernama usia senja. Entah penyesalan, kelemahan, ketakutan, bahkan kerinduan, semua menyatu di satu titik tanpa daya.

Aku mungkin terlalu perasa. Kepergian Sebastian semakin membuatku tenggelam dalam sepi. Anak-anak yang kubesarkan dengan tetesan keringat berlalu tanpa menanyakan kabar. Aku kian merasa dilupakan dan ditinggalkan.

Sering aku bertanya atau mungkin ini adalah perasaan di masa tua. Mengapa setelah tua diri menjadi tak berharga, tak menarik, tak diinginkan bahkan dilupakan. Mungkin dengan rasa yang samalah aku meninggalkan kedua orang tuaku saat menikah.

Bukan ajal yang kutakuti, tapi kerinduan yang membunuh diam-diam. Aku baru betul-betul paham pahit kutelan di jiwa, saat ke sendirian menangkapku di masa tua. Tubuh dan jiwaku merasa kalah dan tak berdaya.

Kerentaan adalah ketentuan dari Yang Mahakuasa. Mau atau tidak, masa ini akan menarik tubuh ke nilai tanah. Aku telah memilih hidup penuh taruhan warna, dengan warna kemandirian yang dahulu pernah kubusungkan pada setiap orang. Kini kemandirian itu memberi tahu aku bagaimana rasanya dilanda kerinduan yang sunyi meratap.

Saat lonceng gereja berbunyi dan kidung pujian-pujian dilantunkan, aku menanyakan hati tentang takdir Tuhan, di mana jasad ini akan merebah. Pulang dan mengembuskan napas di tanah rahim atau sampai kaku dan rindu seikat hayat pupus di tanah rantau. Sudah tak ada lagi yang bisa kuharapkan untuk mengobati rindu yang tak sanggup kugapai. Aku hendak menyerah, menutup mata, istirahat yang panjang tak mengenal kesepian.

Tepat pada masa itu Suster Paulina berambut keemasan mengabarkan tentang kedatangan seorang gadis berkerudung putih dengan lesung pipit, ia sedang duduk di ruang tamu.

“Pani Sri… ada tamu untukmu, gadis dari Indonesia,” katanya.

“Dari Indonesia?” tanyaku lagi

“Ya. Gadis itu dari Indonesia. Keluarga Pani,” jawabnya.

“Aku sudah tak punya keluarga. Bagaimana bisa ada yang mengunjungiku di sini. Mustahil!” Hatiku membatin penuh tanya.

Di sisa hidup ini, aku sudah tak ingat lagi keluarga di Indonesia. Mungkin setali tiga uang perihal mereka padaku.

Paulina dengan wajah acuh mendorong tubuh kusutku ke ruang tamu yang dipenuhi aroma bau masa tua, menyengat tak ada sedap yang hadir. Aku terpukul memandangi wajah yang sekilas seperti bayangan adik bungsuku dalam suasana sunyi meratap itu.

“Kamu siapa, Neng?”

“Aku anak Abah Cecep, adik bungsu Teteh.”

“Oo, kau-uuu… , adik bungsuku?”

Abah sudah meninggal, penyakit lambungnya kambuh sejak Teteh tak lagi memberi kabar. Umi jatuh sakit dan pergi menyusul Abah lima bulan berselang.

“Aku kuliah dengan uang yang Teteh kirimkan setiap bulan. Umi menyimpannya untukku. Kang Asep sudah berkeluarga dan sukses di Bandung. Dini rindu Teteh. Tidak menyangka Dini diterima di Universitas Warsawa,” ia mengulang-ulang menyebut namanya entah sengaja atau memang ia berusaha membangunkan memoriku tentangnya.

“Abah rindukan aku?” tanyaku tak percaya.

“Abah menyuruhku menjemputmu. Teteh tak rindu shalat di surau? Suara azan Mang Sadeli masih syahdu memanggil. Santunan dari Teteh masih berjaya di kampung. Anak-anak yatim itu masih mendoakan kebahagiaanmu,” adikku terus bercakap sedangkan napasku semakin turun naik.

Apakah ini hanya ilusi? Gadis ini nyata. Ia benar-benar nyata. Ia datang mengobati rinduku.

“Urang sadaya sono kana anjeun. Kerinduan kanggo ngariung sanggeus senja. Hayu kubantu ucapkan syahadat .Teteh… hayu urang wangsul ka taneuh pianakan! (Kami semua merindukanmu. Kerinduan untuk kembali berkumpul setelah senja. Mari kubantu ucapkan syahadat. Teteh… mari pulang ke tanah rahim!)”

Suster Paulina mendengar suara asing dari kamar Pani Sri. Ia bergegas menuju kamar perempuan rantau yang ia kasihi itu. Diam. Bisu menyeli muti ruangan. Tubuh tua itu berbaring dengan tangan bersedekap ketika senja telah sempurna di langit Warsawa. Ada tulisan di meja kecilnya .

“Jestem Sri Rahayu, muzułmanka  z Indonezji. Prosz , pochowajcie mnie w tym kraju. (Aku Sri Rahayu, Muslimah dari Indonesia. Tolong kuburkan aku secara Islam di negeri ini).”

***
SEORANG gadis Sunda penerima beasiswa S-3 dari Universitas Warsawa mengalami tabrakan maut di tol Cipularang. Sebuah diari dengan sepucuk surat tersimpan dalam tasnya.

“Bismillah…

Teteh… bersama sepucuk surat ini aku hendak memberimu kabar bahagia bahwa sebentar lagi kita akan berjumpa di Warsawa. Proposal beasiswa S-3-ku diterima. Teteh yang kurindu… aku membayangkan berjalan bersama Teteh dalam sajadah musim gugur. Aku mengidolakanmu. Abah dan Umi tak pernah hilang kebanggaan pada anak perempuan mereka bernama Sri Rahayu. Kau, kakak perempuanku terkasih yang kurindu siang dan malam.

Aku ingin merasakan senja merona di Warsawa seperti dahulu kau berkisah dalam email panjangmu. Apakah warna itu masih sama menunggu kita bersua, berkata-kata? Bagaimana dengan kuba hijau yang kau ceritakan tempo hari? Masjid di kotamu masih ramai dengan kunjungan? Bagaimana Katedral agung dan sinagog? Kita akan bersama menjelajah dan berhenti di kafe penuh bunga yang kau banggakan itu.

Aku pikir sepeninggal Kang Sebastian kau akan kembali ke sini saat dulu suara Umi membangunkan kita shalat bersama di ruangan berlantai tanah merah. Jangan kubur mimpimu sekalipun kecewa pada anak-anakmu telah membuat kesehatanmu memburuk. Aku akan menjemputmu atas izin Tuhan di masa ini.

Teteh… bila masa tak bisa jumpakan jasad, biar sudah doa dan ruh bertaut menyapa melewati batas ruang dan waktu.Aku telah berjanji pada Abah dan Umi untuk datang menjemputmu kembali ke tanah rahim. Tolong… tunggu aku di Warsawa!”

Warsawa menjelang senja, 16 November 2017

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raidah Athirah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu, 17 Desember 2017

0 Response to "Rindu Menjelang Senja (Habis)"