Hilangnya Kata-Kata - Abadi di Telapak Kaki - Tak (lagi) Menulis Puisi - Mempertanyakan Banyak Hal - Kamu Puisiku (2) - Sulit Kugapai - Sesekali Berpaling dari Hujan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hilangnya Kata-Kata - Abadi di Telapak Kaki - Tak (lagi) Menulis Puisi - Mempertanyakan Banyak Hal - Kamu Puisiku (2) - Sulit Kugapai - Sesekali Berpaling dari Hujan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:14 Rating: 4,5

Hilangnya Kata-Kata - Abadi di Telapak Kaki - Tak (lagi) Menulis Puisi - Mempertanyakan Banyak Hal - Kamu Puisiku (2) - Sulit Kugapai - Sesekali Berpaling dari Hujan

Hilangnya Kata-Kata

kata-kata surut dalam sunyi ingatan
kalimat seperti apalagi yang hendak kutulis
sementara langit menyerap semua pikiran
pada detak hidupku
menimbunnya di gudang memori
yang lain

pernyataan matang dari amatanku
tak mungkin bisa disampaikan
lewat sajak-sajak mistis yang manis
sebab kau telah membawa
seluruh kewarasanku
dengan lari yang tak mungkin
terkejar lagi

Bumi Siliwangi, 2018

Abadi di Telapak Kaki

pagi-pagi sekali
aku ingin mengitari jari-jari
dan memasrahkan diri ke dalam tubuh
untuk berpindah dari bagian kanan
menuju tanganmu yang kiri
melintas di sana dalam gua-gua tulang
yang ngilu dan lugu
menerjang erangan darah
yang anyir mengalir
hingga bermuara di telapak kakimu
yang fi rdaus
tinggal di sana selama-lamanya

Negla, 18 Januari 2018

Tak (lagi) Menulis Puisi

aku sudah lupa berapakali tepatnya
kuulangulang membaca puisi
yang kau kirimkan tempo hari

kau tidak menulis puisi, lagi
bahkan aku tak mendengar kabarmu
sejak aku pergi
dan kamu juga berpindah rumah ke pulau
sebrang
padahal semua yang ada padamu, bagiku
sangat puitis
amat manis

laut adalah pemisah
bagi percakapan kecil kita
bahkan saking kecilnya, tahun-tahun
perjumpaan itu hanya
disesaki keterdiaman
saat itu, aku sungguh tak tahan

aku tak mampu memanggil seluruh ingatan,
tentang
seberapa banyak kita bertukar tanya dan
berganti jawab
hingga kini, laut benarbenar menelan semua
ingatanku,
entah ingatanmu
mungkin pula sama

kita menjadi dua orang asing yang saling tak
mampu memahami bahasa masingmasing

kepala kita dijejali desing bising kalimat tanya
tentang apa yang melengkinglengking di
dalam kepala

aku ingin membaca puisipuisimu, lagi
hingga jika kau memutuskan hubungan
dengannya
izinkan aku tetap membacamu, sebagai
puisi

Bandung, 8 Agustus 2017

Mempertanyakan Banyak Hal

angin punya desir, pantai punya pasir
dan kau, punya
segalanya

aku seorang fakir yang hanya terusmenerus
berfi kir
mengotakatik kebenaran yang selalu
kusangsikan
selalu kupertanyakan tentang
benar dan tidaknya

seperti apakah kau benar-benar mencintaiku
kekasih?

Bandung, Agustus 2017

Kamu Puisiku (2)

kamu adalah puisipuisi multiinterpretasi
bagaimana mungkin aku sempat
menerjemahkan puisi orang lain
untuk mengais makna, sementara puisi
di hadapanku pun tak ada habisnya
ditafsirkan?
kamu adalah mahakarya Tuhan
yang tak akan usai untuk kubaca

menguraikan maksudmaksud di tiap bait
dirimu
adalah pekerjaan sepanjang hidup
karena makin aku tahu apa yang tersembunyi
padamu,
pekerjaanku bukannya berkurang, justru kian
terbentang

sepanjang pandang yang ada hanyalah
hampar misteri
tentang kamu yang tak kupahami

kamu makin sulit kumengerti dan
berlipatlipat tak kukenali
aku hampirhampir putus asa mengetahui
dirimu
yang tak kunjung mampu kurangkum ke
dalam sebuah defi nisi
kamu tetap ruang yang menyimpan
lapisanlapisan arti
kamu serupa samudra yang dalamnya tak
terkira

izinkan aku menjadi satusatunya penyelam
yang mengambil mutiara dari dasar dirimu
aku saja, jangan ada penyelam lain

Bandung, 18 April 2017

Sulit Kugapai

dalam penantian yang harus dibayar nanar
pelukku, adalah tindak kosong,
hanya lolong
kau tak kunjung kugapai
alihalih kumiliki
hanya remuk redam
di ruang jumpa
yang tak kunjung padam

Cikondang, 8 Januari 2015

Sesekali Berpaling dari Hujan

langit mending mendung
agar kita tak ke luar rumah
dan banyak obrolan lahir di bawah atap
bertahan dan lama menetap

tembok tua rumah kita,
kursi dan meja di ruang tamu,
karpet tempat membaringkan badan,
kasur butut
yang tak lagi empuk,
dan televisi kado pernikahan
dari sahabat lama
biarkan mereka menyaksikan setiap jengkal
perbincangan
menguping tanpa pernah kita merasa risih
berharap ia mengabarkannya
ke anak cucu dan penerus-penerus
masa nanti, kekasih
tentang kemesraan kita selagi muda

hujan memang mempesona
tapi kita sangat sering berlari ke tengah hujan
dan sama-sama memasrahkan diri pada
basah
apakah kau tidak bosan, sayang?

kupikir, harus juga kita mengakrabkan diri
di dalam ruang relung, merenung
menghabisi resah yang tumpah

aku ingin kita sering berpelukan
saling menghangatkan tubuh
dari gigil yang berhasil
menyerang ujung pertahanan kita

Bandung, 11 Oktober 2017

Muhammad Irfan Ilmy, lahir di salah satu desa di Kab Tasikmalaya. Ia bergiat di komunitas Biblio Forum dan anggota Forum Lingkar Pena Bandung. Tiap Sabtu sore berbagi kebahagiaan di Komunitas Belajar dan Bermain anak Planet Antariksa, Gegerarum-Gegerkalong Bandung. Puisinya terhimpun dalam buku Geometri Kata Antologi Puisi 3 Komunitas Sastra Bandung.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Irfan Ilmy
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 28 Januari 2018

0 Response to "Hilangnya Kata-Kata - Abadi di Telapak Kaki - Tak (lagi) Menulis Puisi - Mempertanyakan Banyak Hal - Kamu Puisiku (2) - Sulit Kugapai - Sesekali Berpaling dari Hujan"