Kalender Baru | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kalender Baru Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:52 Rating: 4,5

Kalender Baru

AKU hanyalah kertas yang memuat catatan tanggal bagi orang-orang. Demi kepentingan mereka, demi memanja mereka. Sehingga dengan angka-angka di tubuhku ini, mereka dengan mudah dapat menyusun rencana atau membangkitkan kenangan. Temanku hanya sebatang paku karat yang menancap di tembok kusam. Setengah meter di atasku ada jam yang terus membisikkan jeritan-jeritan zaman. 

Seminggu sebelum pergantian tahun, lelaki pemilik rumah ini memasangku di pagi yang gerimis. Ia memukul pangkal paku karat berkali-kali dengan palu besi, setelah ujungnya melewati celah lingkar logam yang lekat sebagai gantungan di bagian atas tubuhku, lantas ia tersenyum menatapku, seraya tangannya cekatan membetulkan posisi paku yang agak miring karena datar tembok tua yang sedikit retak. Setelah agak lama menatapku, lelaki itu lalu keluar ruangan ini sembari menutup pintu dengan gerak yang pelan. 

Sebagai benda baru, aku berkenalan dengan benda-benda di ruagan ini, harum sisa cetakan tubuhku menyebar di udara, dihirup benda-benda lain hingga mereka mengucapkan selamat datang kepadaku. Kami saling cakap dan tertawa, menertawakan keganjilan manusia yang hidupnya sibuk karena diatur oleh waktu yang dibuatnya sendiri. Adapun kami makhluk yang berupa benda meski setiap detik hanya diam mematung, sebenarnya punya kemerdekaan yang sejati, karena kami tak diatur oleh waktu. 

Aku terkejut saat seorang perempuan masuk kamar sambil menarik lengan lelaki yang memasangku beberapa waktu lalu. Perempuan itu mencak-mencak, melotot, ngomel nyerocos sambil menunjuk-nunjuk ke arahku. 

Berkali-kali tangannya hendak menjangkauku dengan gerak yang kasar, tapi lelaki yang ternyata suaminya itu berhasil menggagalkannya. Mereka adu mulut, saling tuding, wajahnya sama-sama merah. 

“Kalender ini bergambar orang buka aurat, kalau tetap ditaruh di sini, malaikat tidak akan masuk ke ruangan ini. Pokoknya kalender ini harus segera dibuang,” ucap perempuan itu dengan suara menyentak. 

“Tidak! Aku tidak akan mengganti kalender ini!” 

“Ganti!. Kalau tidak diganti, akan kubakar kalender ini.” 

Suami-istri itu terus bertengkar mempermasalahkanku. Kegaduhannya memecah suasana pagi. Aku gemetar dan ketakutan, membayangkan sakitnya tubuh ini jika benar-benar dibakar. 

*** 
PEREMPUAN itu kembali masuk ruangan malam-malam. Menatapku dengan bola mata elang dan napasnya mendengus penuh amarah. Wajahnya tampak berparas api, api yang bahkan bisa melalap bulan. Ada selembar kalender di tangan kanannya. Aku semakin gemetar, rasa takutku kian bertambah. 

Tak lesat lagi dugaku, perempuan itu mengambilku dengan kasar, meremas-remas tubuhku penuh amarah, lalu mencampakkanku ke tempat sampah. Ia kemudian memasang kalender baru, warna hijau, bergambar kaligrafi. Ia tersenyum bahagia, seolah kalender itu umpan bagi para malaikat untuk datang ke ruangan. 

Aku menangis di tempat sampah, dalam segala sakit dan remuk yang kurasa. Kuamati tubuhku yang bergambar wanita-wanita hot. Aku sadar, beginilah memang nasib tubuh yang dihiasi aura kemaksiatan, mesti harus tercampak ke tempat yang hina, bahkan mungkin bisa dibakar. ❑-e 

*) A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jalan Raya Batang-Batang PP Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura.

Rujukan:

[1] Disalin dari karya A. Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 7 Januari 2018

0 Response to "Kalender Baru"