Kisah Amour dan Liberte | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kisah Amour dan Liberte Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Kisah Amour dan Liberte

BAHKAN jauh sebelum ”boarding”, sewaktu masih antre di pemeriksaan x-ray bagasi, pandanganku tertuju padanya dan tak bisa lepas lagi. Matanya sedikit biru, roman wajahnya Timur Tengah dengan bekas torehan luka di dahi, seketika membuatnya terlihat berbeda. Padahal, dini hari itu, di ruang tunggu Gate 08 Bandara Internasional Ngurah Rai, ada sekian orang lintas bangsa dengan aneka ciri yang tak kalah menarik, entah lelaki sejazirah dengannya dari Irak, Kuwait, boleh jadi dari Lebanon, Suriah atau siapa tahu pula pelarian kombatan Afghanistan. Belum lagi pasangan orang Perancis dan turunan China-Indonesia yang pastilah tengah mengalami "amour"; berpeluk kecup tak henti.

Kami semua sudah cukup lama menunggu, kini pemeriksaan terakhir boarding pass dan paspor. Lima belas menit lagi pesawat siap terbang lintas benua, transit di Doha dan berakhir di Zaventem, Brussels. Sekilas aku menoleh ke belakang, antrean kelas ekonomi; rupanya ia tak membawa koper atau bagasi lain, kecuali ransel biru yang kelihatan masih baru. Tidak berbeda denganku, mengenakan jaket penghangat, menghalau musim dingin di negeri Eropa nanti, berikut syal berwarna kelabu yang terlilit rapi menutupi lehernya yang kukuh itu. Ada semburat tato sekilas terlihat, seperti bunga zaitun atau ranting pohon kurma, tak pasti. Namun yang jelas, bukan bunga sakura, bunga botan, atau ekor naga, pertanda anggota sindikat Yakuza, mafioso yang bengis itu. 

”Baru pertama kali, ya, terbang dengan Qatar Airways ke Eropa?” sergah seseorang di belakangku. Ternyata si bule amour itu, senyumnya ringan dan hangat. Bahasa Indonesianya terbilang fasih, menjelaskan kemudian bahwa ia bermaksud kembali ke Paris bersama istrinya—yang belakangan aku tahu bahwa perempuan cantik glamorousis itu turunan Hainan-Manado. 

”Sudah berkali,” jawabku sekenanya. Ia pastilah sangsi, wajahnya mencerminkan itu. Ya, ini memang kali kedua perjalananku ke Eropa, setelah pertama kali 20 tahun lalu, semasa muda dulu. Ya, pikiranku melayang antara genangan kenangan yang kini datang berulang justru di tengah antrean menuju pesawat yang akan membawaku pada kenyataan lain yang tak terbayangkan. Sesekali tersadar, menoleh ke belakang, mataku terus dirundung sosok lelaki Timur Tengah itu, dirundung keinginan tahu, rahasia apakah yang sebenarnya ia bawa. 

Makin kucuri pandang, makin kuyakin bahwa lelaki yang tampak tenang dan dingin itu tengah menyimpan maksud-maksud tertentu. Entah kenapa aku mulai merasa gelisah, pikiranku melintas kemana-mana. Mungkin saja karena dipicu kabar belakangan ini di media sosial dan televisi tentang perang berkepanjangan antara tentara Irak dan pasukan ISIS, memperebutkan kota Allepo. Juga lintasan bayangan dengan bom bunuh diri di bandara dan stasiun metro di Belgia, teror beruntun di Paris dan Jerman yang menewaskan ratusan korban tak bersalah. Atau penampakan reruntuhan kota Raqqa di Suriah yang berulang hadir melalui video di Youtube atau foto-foto dengan korban berserak di Facebook dan media sosial lainnya. Berkelindan pula peristiwa ledakan bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu, Jakarta. 

Harus jujur diakui, sesungguhnya aku memang takut terbang. Padahal, sebelumnya, biasa saja, seperti naik bus lintas kota, aku biasa saja naik pesawat, hingga suatu hari terbang ke Bima dengan pesawat Merpati jenis Fokker dan nyaris di bandara tergelincir menabrak seekor sapi yang tengah melintas dengan langgam anggunnya. Sejak itu pulalah, entah bagaimana, selalu aku merasa cemas tak bernalar dan keringat dingin menetes bila mendapat undangan bepergian keluar kota menggunakan pesawat terbang. Bahkan, pada puncak kecemasan psikomatis ini, berhari-hari sebelum berangkat, derita sudah datang berulang berupa batuk, sesak napas, dan keringat dingin menyertai tidur yang tak nyenyak. 

Demikian pula sebelum aku terbang ke Eropa kali ini, siksaan itu mendera lahir batin. Namun, tak ada jalan, aku harus terbang untuk mengantar terakhir kali Ibu angkat, Nyonya Wietske Gils, yang kebaikan dan budinya pastilah tak bisa kubalas, bahkan hingga akhir hidupku nanti. Betapa tidak, hanya berkenalan tak sengaja di Pantai Kuta, berlanjut berkorespondensi melalui e-mail dan media sosial, ia tak putus mengirimkan uang bulanan dengan alasan biaya sekolah anakku satu-satunya. Itu sudah 15 tahun berjalan, hingga kemudian kudengar kabar bahwa dirinya sakit dan berpulang. 

Pesawat Airbus A350 ini sungguh memang berbeda dengan pesawat 15 tahun lalu yang kutumpangi untuk terakhir kali, apalagi dibandingkan Fokker sialan itu. Ruangnya besar, pramugarinya wangi dan ramah sekali, serta makan-minum mengalir sejurus permintaan penumpang. Namun, meski begitu, rasa kecut dan cemasku tetap saja mendesir dalam diri, naik turun beruntun sejalan dengan guncangan pada pesawat yang datang berulang, berikut peringatan agar segera menggunakan sabuk pengaman serta tak boleh menggunakan kamar kecil. 

Bukan semata turbulensi yang mengguncang hatiku, di mana keringat dingin mulai membasahi telapak tangan dan kaki, serta bikin kuyup tubuh dan nyaliku, melainkan pula pikiran yang terus menerus dirundung sosok lelaki Timur Tengah itu. Entah kenapa, ketika ia mulai mencuri-curi pandang padaku dari kursinya, serta berkali ke kamar kecil melintasi dudukku, aku makin yakin ia bermaksud meledakkan pesawat atau setidaknya membajaknya. Sesekali kutolak pikiran itu, tetapi makin merundung dan meyakinkanku bahwa di pesawat ini ada sejumlah kawan komplotannya. 

Pesawat landing dini hari di Doha, kuhitung setidaknya terbang 9 jam 25 menit dari Bandara Ngurah Rai, Bali. Orang-orang terbangun dan mulai meninggalkan pesawat sambil membawa bagasi masing-masing. Pilot serta pramugari memberi salam di pintu, entah selamat datang atau selamat jalan, aku tak bisa pastikan, masih saja nanar diguncang pikiran, dibentur kecemasan. 

Mungkin karena melihat aku kelelahan dan nerveous berlebih, sewaktu transit dan menunggu pesawat berikut, si Perancis amour itu, setengah memaksa, mengajakku berbincang. Bertanya ini-itu, kujawab seramah mungkin, hingga akhirnya sampai ke topik percakapan tentang adanya lingkaran rantai prasangka yang harus diputus dengan kesadaran universal yang disebut kemanusiaan. 

Baginya, agen-agen pencerahan adalah para kartunis majalah Charlie Hebdo yang berani menelanjangi kemunafikan dan hipokritisme masyarakat secara terang-terangan, bahkan dengan bahasa yang vulgar. Tujuannya adalah sesuatu yang idealis, mengangkat harkat kemanusiaan agar menjadi bagian realitas dari masyarakat global yang kian beradab. Sempat aku berbantah dan tak menyetujui kevulgaran para kartunis itu yang memperolok siapa dan apa saja, bahkan hingga Nabi, junjungan umat yang meyakini kesuciannya. Dan, ia menyebutnya sebagai martir, ketika para kartunis itu dibantai oleh para teroris di kantor redaksinya. 

”Ya, provokasi, kan, bisa menjadi alat intelektual, mengkritisi politik, bahkan mengolok-olok kaum moralis yang fanatik religius,” tandasnya, sembari membanggakan bahwa praktik kebebasan atau liberté memang sudah menjadi bagian historis dan sosial kultural masyarakat negerinya hingga kini. Sedangkan pasangannya, perempuan Hainan-Manado yang jelita itu, hanya berdiam dan memandangnya penuh kekaguman. 

Aku malas berbantah, lagi pula soal Tuhan, iman, dan kemanusiaan, sering kali berlapis-lapis kemungkinannya, masing-masing tergantung pengalaman pribadi berikut latar kehidupan sehari-hari. Kataku mengakhiri percapakan, ”Kemanusiaan bagi orang borjuis beda arti dan praktiknya dibandingkan pemahaman orang miskin di pedusunan atau di bawah jembatan. Tanpa keadilan, kemanusiaan hanya seruan indah, seperti janji yang melukai.” 

Pikiranku dan pandanganku masih saja dirundung lelaki Timur Tengah itu. Demikian pula ketika kami memasuki pesawat Airbus A350 lainnya yang kemudian menerbangkan kami ke Eropa musim dingin, meninggalkan keajaiban Doha di hamparan gurun pasir ini. 

Lelaki dengan gurat luka di dahi itu, kini tepat duduk di seberangku. Ia terlihat tenang, hening, memejamkan mata, sementara aku berusaha tak menoleh padanya. Aku gelisah, resah, sesekali menggeserkan tubuh dengan tetap memakai sabuk pengaman. Pikiranku makin dirundung dugaan bahwa ia dan komplotannya sebentar lagi akan membajak atau bahkan meledakkan pesawat ini. Aku mencoba beranjak ke kamar kecil berulang, kembali duduk, dan beranjak lagi, hingga seorang pramugari menanyakan apa ada yang perlu ia bantu. 

Cuaca memang sudah mulai terang, Doha-Brussels akan ditempuh dalam waktu 6 jam lebih, sekitar pukul 14.40 waktu Brussels, pesawat akan landing. Demikian pilot menyampaikan, juga pramugari, berseling dengan pikiranku sendiri, yang memang berharap segera saja sampai di bandara dan segera pula dapat menuju Louvain, sebuah kota kecil, 31 kilometer dari Brussels, tempat Ibu angkatku akan dimakamkan hari ini. 

Lelaki Timur Tengah itu terbatuk, ia meminta wine kepada pramugari. Aneh juga, pikirku. Bukankah itu haram? Atau jangan-jangan ia berpura-pura, menyamarkan sosok dirinya yang sebenarnya, seorang teroris yang siap berbuat apa saja demi janji surgawi. Peluh dinginku memang sudah henti dari tadi, tetapi pikiranku makin kacau. Apakah ini pertanda jetleg? Atau memang ketakutan yang lama tersembunyi dalam diri oleh timbunan informasi tentang surga dan neraka, tentang ajaran masa kecil, tentang perang tak berbentuk yang berulang hadir melalui media sosial, melalui internet, melalui rekayasa pikiran buruk, atau bahkan sosok-sosok asing yang datang kemana saja, entah dari mana. 

Tepat sebagaimana yang disampaikan pilot, pesawat mendarat di Bandara Internasional Brussels di Zaventem. Udara dingin menyergap, rinai salju menyapa. Segera kami digiring memasuki gedung terminal bandara dan terbentuk pulalah antrean di depan petugas imigrasi, yang sekali lagi akan memeriksa paspor berikut visa atau catatan lain penguat alasan kedatangan penumpang maskapai ini. 

Belum sempat mengambil antrean, aku seperti tersadar karena ada di ruang lain di sebuah negeri yang nun jauh ini. Tersadar pula bahwa pasporku tidak ada di saku baju, saku jaket, atau di dalam tas, berulang—yang entah sudah kali ke berapa kuperiksa kembali untuk memastikan keberadaannya. Aku nanar, keringat dingin menetes kembali. Napasku seperti tercekik, setengah terbata, kutanya beberapa orang di dekatku, dan mereka hanya mengangkat bahu atau berkata tidak tahu. 

Aku makin dirundung pikiranku, kecemasanku, mencoba melepas diri dari antrean dan kerumunan. Tiba-tiba teringat si amour dan gadisnya. Oh, pastilah mereka tahu. Ya, semoga tahu. Atau setidaknya membantuku untuk menjelaskan kepada petugas imigrasi bahwa aku sungguh-sungguh telah memiliki paspor. Nah, itu mereka! Rupanya tengah menuju antrean bagi pemilik paspor dari Eropa, Amerika, atau negara tertentu, bukan ”All Passport” untuk negeri-negeri dunia ketiga, seperti Indonesia. Seketika pula kuhampiri dan kutanya, ”Mister, apakah Anda melihat paspor saya, have you seen my passport?” 

Tuan Amour itu memandang saya, seperti merasa lucu, sambil mengangkat bahu, menjawab sekenanya, ”Ya, mungkin tertinggal di pesawat.” Ia berlalu terburu sambil berbisik pada pasangannya, ”Quel homme moindre! Pas étonnant que vous ne connaissiez pas l'égalité, pas même la liberté !” 

Nyaris saja aku ingin mengejarnya dan hendak memukulnya, apa dikiranya aku tak tahu artinya?! Sialan, berengsek, masa aku dikiranya orang kampung, dungu, dan buta sejarah, tak tahu apa itu liberté, égalité. Sesaat tanganku hendak terayun, seseorang menyentuh bahuku. Seketika itu aku berpaling ke belakang, nyaris bersamaan terdengar suara, ”Mister, ini paspormu. Tadi kutemukan di lantai.” Wajah lelaki Timur Tengah itu begitu dekat, begitu dekat dengan tatapku. Senyumnya ringan tipis, mata birunya menyiratkan kilau tulus. 

Warih Wisatsana, lebih dikenal sebagai penyair dan kurator. Ia pernah menjadi wartawan dan membuka koran dwimingguan di Denpasar, walau kemudian lebih memilih menjadi penyair. Puisi-puisinya termuat dalam antologi tunggal Ikan Terbang tak Berkawan. Kini menetap di Denpasar dan melahirkan penulis-penulis andal di Komunitas Sahaja.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Warih Wisatsana

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 31 Desember 2017

0 Response to "Kisah Amour dan Liberte"