kuharap kau hadir - air mata - rindu menjemput | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
kuharap kau hadir - air mata - rindu menjemput Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:42 Rating: 4,5

kuharap kau hadir - air mata - rindu menjemput

kuharap kau hadir

kuharap kau hadir
bunga hampir layu di taman
daun daun menguning dibilas kemarau
waktu mengejar jarum jam berputar memburu gelisah
cuaca

kuharap kau hadir
malam mengusir dengkur
memburu angin
merancang nyanyian percakapan
di meja meja pertemuan

kuharap kau hadir
di sini sutradara gusar
aktor kebablasan
latar dan cahaya sia sia
seruling mengalun hampa

kuharap kau hadir

2017

air mata

menatap lusuh pipimu
melihat genangan air mata
menganak sungai
mengucur di jiwamu

sungai air mata
tumpah ke muara
buaya merobek robek jantung derita yang lama kau simpan

laut menguap menjadi awan
awan menjadi hujan
hujan membasuh tanah lekang
menganak sungai
sungai air mata
tumpah ke muara

air mata berdarah
menuju samudra
tempat segala duka digiling menjadi cinta

2017

rindu menjemput

kerinduan menjemput
untuk kita kembali bersama

aroma rindumu
telah sampai padaku
lewat angin yang menyelinap di ventilasi
sebab jendela dan pintu rapat terkunci

kutitip pesan sebagai jawaban
“dengan bismillah
kita kan bersama
tuntaskan rindu
yang kandas
diterpa cuaca”
burung burung bernyanyi di ranting jambu biji

remah remah rindu yang pecah
menjadi serakan serakan kedukaan
ketakutan
yang tiba tiba menjelma dendam
mencabik-cabik wajah seusai dibasuh air mata
memorakporandakan jiwa yang belum rampung ditata

purnama menyala
angin sangat dingin
entah sebab selusin hari hujan mendera
entah sebab rindu tak lagi mesra

aku lelaki merindu purnama
kusambut ia datang dengan rekah senyum kembang
setaman
lalu kutulis sajak cinta
di kursi taman
mengeja angkasa

purnama menatap malam
aku gigil kedinginan
berlari
memburu perapian
hangatkan rindu
agar tak beku

2017

- Jayu Marsuis lahir di Manna, Bengkulu Selatan. Puisinya termuat dalam antologi Cermin, Nyanyi Musim, Maharaja Disastra (ketiganya 2006), Mengucap Sungai(2010), Nyanyian Puisi untuk Ane Matahari, Bunga Bangsa, Jejak Kata(ketiganya 2017), Salam Ombak dan Mengeja Tanda(2018). Kini, aktif di Lembaga Seni Kedai Proses dan membina Teater Mahkota Dewa.(44)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jayu Marsuis
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 21 Januari 2018

0 Response to "kuharap kau hadir - air mata - rindu menjemput "