Muazin Pertama di Luar Angkasa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Muazin Pertama di Luar Angkasa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:07 Rating: 4,5

Muazin Pertama di Luar Angkasa

DI dunia ini tidak ada yang lebih menakjubkan dari suara azan. Baginya, suara azan bisa menembus pori-pori, menyusup dalam tulang, bergerak dalam darah. Ia berpikir bahwa suara azan itulah yang membuatnya hidup; mendenyutkan nadinya, mendegupkan jantungnya, memompa paru-parunya. Suara azan menumbuhkan dan menguatkan tulang-tulangnya, memproduksi sel-sel darahnya, mengaktifkan kerja otaknya. Hingga ia bisa tumbuh dari bayi merah menjadi seseorang yang sanggup menentukan sendiri jalan hidupnya. Bukan itu saja, baginya suara azanlah yang sebenarnya menggerakkan seluruh kehidupan di muka bumi ini; menyusun sistem yang memungkinkan terjadinya fotosintesis bagi tanaman, mengembangkan jalur rantai makanan, sekaligus secara ajaib memungkinkan hadirnya hukum alam dengan kausalitasnya.

Karena itu, sudah sejak lama, ia hanya ingin menjadi muazin. 

Keinginan itu terdengar sederhana. Apalagi ia tinggal di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, terlebih di sebuah pulau dengan masjid yang dibangun hampir di setiap dusun. Jumlah masjid di pulau tersebut memang nyaris tak terhitung, meskipun pada perkembangannya jumlah tersebut tampaknya akan bersaing dengan jumlah minimarket dan kafe. Tetap saja, menjadi muazin bukan cita-cita yang mudah buatnya. Karena itu, ketika ia menyampaikan cita-citanya, dalam satu sesi tanya-jawab di sekolah dasar, gurunya senyum-senyum saja, dan teman-temannya terbahak-bahak.

Pada saat itu ia tidak paham maksud senyum guru dan bahak teman-temannya. Orang tuanya juga tidak menjadikan itu masalah, lantaran mereka mengira itu hanyalah cita-cita seorang bocah yang belum tahu apa-apa. Tetapi ketika ia ternyata demikian kukuh dengan cita-citanya, orang tuanya mulai khawatir. Tidak, mereka tidak membawanya ke seorang psikolog atau mencoba berkonsultasi dengan pakar. Mereka justru mendatangi seorang alim-ulama dan bertanya dengan hati-hati perihal perkara tersebut. Kesimpulannya, cita-cita tersebut terbilang mustahil.

Seperti juga kemustahilan cita-cita itu, tampaknya mustahil pula baginya untuk surut. Semakin ia tumbuh besar, semakin besar pula keinginannya untuk mewujudkannya. Apalagi ketika ia melihat sendiri saat sepupunya lahir, seseorang mengumandangkan azan di telinga bayi merah itu. Memang, selama itu tidak banyak usaha yang dilakukannya, karena ia tidak tahu bagaimana harus memulai. Paling-paling, dengan suara lirih, ia mengumandangkan azan di dalam kamarnya. Setiap kali melakukan itu, matanya berlinang dan terasa seperti ada tetesan air yang demikian sejuk membasahi kedalaman dadanya. Sekali-dua ibunya akan mengetuk pintu dan menengok ke dalam, ia pura-pura tidak sedang melakukan apa-apa. Ibunya selalu tampak curiga seakan menduga-duga hal ganjil apa yang sedang dilakukannya. Ia tahu orang tuanya paham apa yang dilakukannya. Dan di mata keduanya, tindakan azan dalam kamar tergolong ganjil.

Tetapi sampai kuliah ia terus melakukan kebiasaan itu.

“Kedua orang tuaku taat beragama. Tentu mereka senang kalau anak satu-satunya ini juga taat beragama, rajin ibadah dan selalu menyebut nama tuhan. Tapi yang aku lakukan itu sepertinya meresahkan mereka. Padahal aku hanya azan, sendirian pula,” katanya pada suatu ketika kepada seorang kawan.

“Bagaimana tidak resah, kamu azannya di kamar. Azan itu di masjid atau ikut lomba.”

“Tapi kan tidak bisa. Memangnya kamu bisa mengupayakan supaya aku jadi muazin?”

“Itu masalahnya. Lagi pula kenapa sih kamu suka sekali azan?”

Pada saat itulah ia menyampaikan pikirannya tentang azan. Ia juga sudah coba mencari tahu perihal kemungkinan ia menjadi muazin. Sesungguhnya cita-cita itu tidak semustahil yang dibayangkan. Tapi syaratnya memang sulit, dan syarat itulah yang tampaknya mustahil. Ketika ia membaca satu artikel bahwa sepanjang waktu di dunia ini azan tidak pernah berhenti dikumandangkan, keinginannya semakin kuat untuk menjadi muazin. Setiap hari ia memutar rekaman azan di kamarnya, menjadikan lantunan azan sebagai nada dering telepon genggamnya. Meski begitu, tetap saja tidak banyak usaha yang dilakukannya untuk menjadi muazin. Memangnya apa yang bisa dilakukan? Tak mungkin tiba-tiba ia datang ke suatu masjid, berbicara dengan pengurusnya, dan melamar menjadi muazin. Bisa-bisa pengurus masjid itu senyum-senyum saja, dan bila ada orang lain dalam pembicaraan itu bisa dipastikan mereka akan terbahak-bahak, seperti teman-teman sekolahnya dulu. Sementara ia termasuk orang yang tidak begitu suka bergaul, lantaran kecintaannya pada azan sering membuat ia merasa kawan-kawannya tidak nyaman. Apabila azan berkumandang ketika mereka sedang berbincang-bincang, ia akan berhenti bicara (apabila ia sedang bicara) atau berhenti mendengar (apabila ia sedang mendengar). Seketika ia akan memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, seakan-akan azan itulah udara. Mungkin, sesungguhnya, teman-temannya tidak terganggu. Buktinya hal semacam itu kerap terjadi di antara mereka. Paling sering karena telepon genggam. Meskipun telepon genggam mereka tidak berbunyi tiap saat, mereka tampaknya selalu sibuk dengan benda itu. Dan, sepertinya, tidak ada yang terganggu. Tapi itu wajar saja, pikirnya, sebab semua kawan-kawannya melakukan hal yang sama, sementara perkara azan ini, hanya ia sendiri yang melakukannya.

Sadar tidak ada yang bisa dilaksanakan untuk mencapai cita-citanya, selesai kuliah, ia memutuskan untuk berhenti berandai-andai. Itu pekerjaan yang lebih berat lagi, sebab artinya ia harus menghindar dari azan supaya godaan untuk memikirkan cita-cita itu tak timbul kembali. Sementara azan tak pernah berhenti dikumandangkan. Bahkan seandainya ia punya kesempatan untuk pergi ke negara-negara tertentu, di mana tidak banyak masjid dan karenanya azan jarang terdengar, ia pastikan akan mendengar suara azan pada waktu-waktu biasanya. Azan sudah mengejawantah menjadi petunjuk waktu. Ia akan mendengar azan di pagi buta, ketika matahari tepat di atas kepala, ketika matahari yang sama mulai melembut sinarnya, ketika datang senja dan warna magenta mengembang di angkasa, dan ketika kegelapan turun bagai kelir tua. Tidak ada tempat, tidak ada waktu, di mana ia bisa terlepas dari azan.

Suatu ketika, setelah lama tak jumpa, kawannya bertanya perihal cita-citanya, ia menjawab, “Mungkin aku memang tak bisa menjadi muazin di bumi ini. Tapi aku kira aku bisa menjadi muazin di luar angkasa, siapa yang tahu? Lagi pula, di atas sana waktu tidak linear, tapi terlipat-lipat, jadi aku bisa azan kapan saja.”

Tidak. Kawannya tidak menganggap ia sudah kehilangan akal sehat. Sebab ia menjalani hidupnya sebagaimana kebanyakan orang. Ia menyelesaikan pendidikan, bekerja, menikah, memiliki seorang anak perempuan, dan menjalani hari-harinya dengan normal. Memang ia masih terdiam dan memejamkan mata ketika mendengar azan, tetapi setiap orang pasti punya hal-hal semacam itu; misalnya menggoyang-goyangkan kaki, atau mengangguk-angguk saja meski tidak ada yang berbicara. Maka ketika ia menjelaskan bahwa ia merasa suara azan dari masjid atau dari mana saja seperti berasal dari luar angkasa, kawannya menanggapi dengan biasa-biasa saja.

Ia memang menjalani kehidupan sebagaimana umumnya orang. Dan semua keluarganya menganggap kegemarannya yang kemudian, yakni mengumpulkan rekaman suara azan dari berbagai tempat, adalah hobi belaka sebagaimana orang gemar mengumpulkan tutup botol atau gantungan kunci. Jadi bisa dikatakan ia hidup bahagia.

Sayang sekali, ia tak berumur panjang. Sesungguhnya kematian akan selalu membuat sebuah cerita terasa klise. Tapi mau bagaimana lagi, ia memang benar-benar mati oleh sebab-sebab yang tidak bisa diceritakan di sini lantaran khawatir cerita akan menjadi kian klise.

Menjelang wafat, ada permintaannya yang membuat keluarga ragu-ragu untuk melaksanakan; ia meminta agar anak perempuannya membisikkan azan di telinganya. Pihak keluarga sempat berdebat soal itu, bahkan sampai mengundang seorang alim-ulama. Tapi perdebatan tidak berlangsung lama—mungkin karena disimpulkan bahwa hal tersebut tak melanggar apa-apa, atau karena pihak keluarga mengingat cita-cita lama yang tak kesampaian itu, dan lantas merasa kasihan padanya—ia meninggal dengan tenang di rumahnya yang asri, dan putrinya melaksanakan permintaan terakhirnya itu.

“Mungkin saat aku lahir Ibu ingin sekali membisikkan azan di telingaku, tapi itu tidak mungkin. Jadi pasti Ayah yang melakukannya. Tahu kan, sepanjang hidupnya Ibu hanya ingin menjadi muazin. Dia bahkan ingin menjadi muazin di luar angkasa,” kata Sirin kepadaku sambil senyum-senyum waktu peringatan seribu hari meninggalnya kakak sepupuku itu. Aku terbahak-bahak, “Kira-kira apa dia berhasil jadi muazin di atas sana?”

“Aku yakin dia berhasil. Bahkan ia sudah mengumandangkan azan di sana jauh sebelum ia lahir. Tahu waktu Neil Armstrong menjejakkan kakinya di bulan? Konon, pada saat itu ia mendengar suara azan. Ibulah yang mengumandangkan azan itu,” kata Sirin.

Kekalik, 2017

Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok. Menulis puisi dan cerita pendek untuk pelbagai media cetak maupun online. Buku puisinya Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (2017) meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 27-28 Januari 2018

0 Response to "Muazin Pertama di Luar Angkasa"