Pada Kota Serupa Sajak Chairil Anwar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pada Kota Serupa Sajak Chairil Anwar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Pada Kota Serupa Sajak Chairil Anwar

MUNGKIN kau pernah melihat film atau mendengar kisah tentang seekor anjing jenis Akita Inu, kelahiran Ôdate: Prefektur Akita. Anjing setia yang menunggu tuannya: Profesor Ueno; yang setiap hari bekerja pergi-pulang dari Stasiun Sibuya dan mendadak meninggal di perjalanan: tak kembali.1 Anjing itu menunggu dengan harapan dirinya bertemu majikannya. Kenyataannya anjing itu tak pernah bertemu hingga ajal menjemput. Hawa dingin membunuh anjing itu. Mungkin seperti itulah aku hari ini: berdiri di menara setinggi 170 meter pada distrik Gunwharf Quays, Spinnaker Tower, Portsmouth, pada pengujung tahun. Kedatanganku hari ini menunggumu: orang asing yang kukenal lima tahun lalu, dan aku telah banyak menaruh harapan padamu. 

Aku tak ingin bernasib seperti anjing tersebut. Namun bila dipikir: Sedikit gila kedatanganku ke kota yang terletak di bagian selatan London. Baru dua kali aku ke sini. Dan hari ini adalah kesempatan kedua. Aku datang hanya berbekal yang semuanya pas-pasan. Bahasa Inggris yang tak lancar, dan nama-nama jalan atau tempat yang sedikit aku tahu dari film serta buku. Hal besar yang membuatku datang ke Gunwharf Quays ialah harapan. Ada janji diantaranya. Selebihnya kenekatan pria sinting yang ingin menemuimu di akhir tahun ini. Aku menatap langit kota Portsmouth yang biru. Gunwharf Quays yang terletak persis di tepi pelabuhan Portsmouth Harbour menjelma seperti puisi berjudul Senja di Pelabuhan Kecil. 2 Seperti hari itu-lima tahun lalu-saat pertama bertemu denganmu.

Mataku tabah menyisir kerumunan orang yang menghabiskan waktu akhir tahun di tepi laut Britania. Semuanya berpasangan. Mereka berdecak dengan pembahasan yang entah. Portsmouth Harbour memang satu-satunya tempat ramai di kota yang hanya memiliki 400-an penduduk. Gunwharf Quays dapat dikatakan jantung kota Porstmouth. Selain sebagai dermaga, tempat ini merupakan pusat perbelanjaan dengan konsep terbuka. Jumlah toko bisa mencapai angka 95-termasuk 25 restoran bila memasuki akhir pekan. Namun di antara keramaian tahun baru, aku tak menemukanmu: sesosok wanita dengan pipi cembung, mata tipis yang nyaris tenggelam bila tertawa, dan senyum manis serupa Strawberry Cheesecake Bite.

“Masih satu setengah jam lagi,” kataku. “Semoga kau masih ingat janji kita lima tahun lalu.”

Aku mengerling ke arah jam yang melilit tangan kiri. Pukul 17.30. Langit di tepi pelabuhan Portsmouth Harbour meremang. Cahaya jingga menindih langit kota yang sebelumnya biru. Lampu-lampu putih-keperakan mulai menyala dengan terangnya; tidak mencolok mata di sela kafe-kafe kecil di Gunwharf Quays. Dari menara setinggi 170 meter, cahaya-cahaya kecil itu mengingatkanku pada kunang-kunang. Hatiku singup ketika mengingat kedatanganku ke kota ini hanya berbekal harapan kosong. Aku meraba tas kecilku; mengambil novel berjudul: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu3; buku yang sebenarnya sengaja aku bawa untukmu.

Tak ingin jengah dilahap bosan, aku membaca novel itu. Sepasang mataku mengurai satu persatu kata yang menjelma kalimat. Namun konsentrasiku selalu pecah di kerumunan orang. Rasanya aku tak ingin melewatkan pandang mengiringi kedatanganmu dari keramaian. Kenyataannya: kau belum tampak. Kau menjelma pengertian yang sulit aku urai seperti dalam buku-buku sejarah; yang sering menghabiskan waktuku setiap malam. Sekali lagi aku melengos pada jam tanganku. Gelisah ternyata lebih pandai menyamak waktu. Sudah tiga puluh menit berlalu. Jadi aku masih memiliki satu jam lagi menunggumu di Spinnaker Tower sebelum tahun yang baru tiba.

***
KEDATANGANKU ini memang tanpa janji baik pesan singkat, e-mail, atau surat. Kehadiranku persis seperti yang kami janjikan lima tahun lalu. Ini dapat dikatakan sebagai upaya mengingat arti seseorang dalam hidup kami. Begitulah. Aku tiba pagi tadi dalam kecemasan kau melupakanku. Aku menarik napas panjang. Udara pesisir Portsmouth Harbour yang asin menggumpal di dadaku. Perjalanan panjang dari Indonesia-London bukanlah waktu singkat. Bahkan sepanjang perjalanan di tubuh pesawat hingga mendarat di Heathrow International Airport, masygul terus menggelayut.

Aku ingat dahulu bertemu denganmu di tepi Sungai Thames. Perjumpaan tidak sengaja. Waktu itu-pada kedatangan pertamaku-wajahku terlihat pasi. Apabila dibandingkan pasti mirip kisah dalam Alkitab yang dituturkan oleh Yesus kepada murid-muridnya, tentang: seekor domba yang terpisah dari 99 domba lainnya di tengah padang.4 Peta yang detail tidak berhasil menyelamatkanku dari sesat. Dan kau menjelma menjadi seorang penggembala yang menemukanku. Kau melihat kepanikanku dan menawarkan bantuan. Aku terkejut-sekaligus bersyukur-ketika itu. Yang membuatku tenang, kau adalah orang senegara denganku.

“Kau tersesat?” katamu. “Kau orang Indonesia?”

Mendengar suara lembut dan bahasa yang tak asing cepat menyeret perhatianku. Aku mengerling ke arah suara itu. Aku mendapati dirimu tersenyum dengan sepasang mata yang nyaris tenggelam. Selain itu aku menemukan pipi kenyalmu yang cembung, dan senyum manis yang sampai hari ini sulit aku lupakan. Aku-waktu itu-menatapmu antara linglung dan malu. Rasanya aku tak ingin diselamatkan oleh wanita secantik dirimu. Namun kenyataannya aku bisa tenggelam dalam liang sesaat Lucifer5 di sepertiga malam.

“Kau mau ke mana?”

“Porstmouth.”

“Porstmouth?” katamu mengulangi. “Kota itu berada di ujung selatan London.”

Aku melirik peta. Benar. Letak Portsmouth jauh dari pusat kota. Aku membuang sepasang mata ke arahmu. Kau melihatku santai. Kau malah mengajakku berkenalan. Kau melampirkan sepucuk tanganmu di hadapanku. Aku menyambutnya. Aku rasakan lembut telapak tanganmu. Pada saat itu-ketika sekali lagi menatapmu-aku melihat sosok Clíodhna atau Queen of the Banshees6.

“Aku Rinda. Dari Aceh. Aku sudah lama tinggal di sini. Kuliah. Kau?”

“Tarno. Dari Jogja. Ini pertama aku ke sini.”

“Sedang liburan?”

Aku menggeleng dan menjelaskan kedatanganku menemui seseorang penting di kota Portsmouth. Aku di sini mutlak karena pekerjaan sebagai seorang wartawan dari Indonesia. Seperti mengenal lama, kau mengajakku berangkat bersama menuju Portsmouth. Ketika itu kau juga memiliki tugas kuliah menulis artikel mengenai kehidupan orang-orang di ujung selatan London.

Kau menyarankanku menaiki minibus menuju Portsmouth: “Dengan minibus kita bisa lebih menikmati isi kota.”

Karena memiliki banyak waktu, aku mengiyakan ajakan itu. Kami memesan minibus. Kami pergi dengan kecepatan sedang menuju wilayah Hampshire. Sepanjang jalan pohon-pohon tumbuh menghijau. Satu jam kami terkurung. Hingga kemudian kau menyuruh sopir berhenti di suatu bukit. Kau menjelaskan kami sedang berada di posisi paling tinggi kota. Kau menyebut apabila melewatinya malam hari: Perpadauan cahaya lampu kota dan laut menjelma surga kecil di bumi.

“Di Portsdown Hill ketika malam, kita seperti melihat pecahan taman Eden,” ucapmu. “Kau harus melewati jalan ini ketika malam.”

“Oh, mungkin apabila di Jogja seperti Bukit Bintang.”

Kau tertarik dengan nama itu. Lalu aku menjelaskan letak Bukit Bintang. Aku berjanji mengantarkanmu ke sana apabila berkunjung ke Jogja. Hanya 30 menit kami menikmati kota Portsmouth dari bukit. Gerimis turun. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan memesan dua kamar hotel di distrik Southsea Common. Beberapa hari kami disibukkan dengan urusan masing-masing. Ketika pekerjaan selesai, kami kembali membuat janji: bertemu. Kami meluangkan waktu berdua. Kami mendatangi tempat-tempat yang sebelumnya hanya aku tahu di internet. Kau menjadi peta baruku. Seperti ketika kami mengunjungi Old Porstmouth: benteng yang dibangun untuk mempertahankan pelabuhan pada perang dunia kedua.

Selain itu kami mengunjungi Historica Dockyard. Kau menjelaskan mengenai dok kapal raksasa yang masih aktif. Di sana aku menemukan kapal-kapal pribadi. Namun paling mencolok adalah kapal perang milik angkatan laut Inggris yang masih aktif digunakan. Tidak hanya kapal perang yang aktif; di Historica Dockyard terdapat kapal perang Inggris bernama HMS Victory. Kapal itu sudah tidak bisa digunakan lagi dan menjadi museum. Kapal besar itu tinggal menyisakan kejayaan dari beratnya yang lebih dari 3.000 ton. Kau menjelaskan: Kapal itu dahulu dikemudikan Laksamana Nelson7. HMS Victory terkenal karena digunakan pada perang laut Trafalgar melawan Spanyol dan Prancis di tahun 1805. Kapal itu merupakan benda favorit raja Henry ke-8.

Aku terdiam mendengarkan kisahmu. Aku terpesona dengan kecerdasanmu mengenai benda-benda tua. Lantas ketika senja sudah matang, kau mengajakku ke Spinnaker Tower. “Kau harus melihat bagaimana senja tenggelam di kota ini. Senja di kota ini mirip dengan lirik puisi Senja di Pelabuhan Kecil,” katamu.

Kami naik ke menara serupa layar. Benar. Terdapat senja yang begitu murung. Kau berkata lagi: “Rasanya sedih berpisah denganmu.”

“Aku juga.”

“Kira-kira apakah kita bisa bertemu lagi?”

“Bagaimana kalau kita bertemu lagi di sini kelak?”

Kau terdiam lantas berkata, “Bagaimana lima tahun lagi kita bertemu di sini. Ketika tahun baru. Kita tak perlu bertukar alamat atau apapun yang dapat menghubungkan. Kita bekerja dengan filing. Kita lihat seberapa penting diri kita mengartikan seseorang selama lima tahun itu.”

Aku mengangguk. Setelah itu aku mencium bibirmu panjang. Hingga tak dapat aku lupakan selama lima tahun terakhir.

***
RASANYA begitu konyol datang ke kota ini. Aku seperti pungguk yang terlalu tinggi merindukan bulan. Apalagi ketika aku mengingat telah mengorbankan banyak hal. Termasuk-seminggu sebelum datang ke kota ini-memutuskan jalinan cinta dengan kekasihku yang berjalan cukup lama. Aku-sedikit sengit-menghempaskan mataku ke arah laut yang keperakan. Malam ini bulan memantulkan tubuh bulat pucatnya di atas permukaan laut. Syahdan aku berpikir: Mungkin kau telah melupakanku?

Aku benar-benar datang ke kota ini dengan harapan kosong. Ketika menyadari kini telah lima tahun lebih satu setengah jam berlalu, dan tahun yang lama sudah berlalu. Aku mengutuki pendeknya akalku. Aku mengemas novel bacaanku. Aku bergegas pergi meninggalkan Spinnaker Tower. Ketika pintu lift terbuka, sebuah suara memanggilku: ‘Tarno.’ Dan aku termenung tak tahu berbuat apa.

Catatan:
1 Kisah Hachiko
2 Puisi Senja di Pelabuhan Kecil, adalah karya Chairil Anwar
3 Novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, adalah karya Phutut Ea
4 Perumpamaan tentang domba yang hilang adalah sebuah perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridnya. Kisah ini tercantum di dalam Matius18:12-14 dan Lukas15:3-7.
5 Lucifer adalah nama yang seringkali diberikan kepada Iblis dalam keyakinan Kristen karena penafsiran tertentu atas sebuah ayat dalam Kitab Yesaya. Secara lebih khusus, diyakini bahwa inilah nama Iblis sebelum ia diusir dari surga.
6 Clíodhna atau Queen of the Banshees, adalah dewi/peri perang yang memiliki wajah cantik dari mitologi Irlandia
7 Laksamana Nelson, adalah seorang laksamana Inggris yang terkenal karena jasa-jasanya dalam Perang Napoleon, terutama dalam Pertempuran Trafalgar, di mana ia wafat. Ia menjadi pahlawan angkatan laut terbesar dalam sejarah Britania Raya, melebihi Robert Blake dalam ketenaran.

Risda Nur Widia. Cerpennya tersiar di berbagai media. Buku cerpennya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 30 - 31 Desember 2017

0 Response to "Pada Kota Serupa Sajak Chairil Anwar"