Pangrukti Laya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pangrukti Laya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:30 Rating: 4,5

Pangrukti Laya

Setiap ada orang mati, ibu selalu mendatangi. Tak pernah ada ketakutan yang menyertai. Tiga kotak kapas, dua botol alkohol 70 persen, dan seperangkat piranti rias wajah menjadi bekal ibu.

ENTAH bagaimana mulanya ibu bisa menjadi seorang perias jenazah di kelompok pangrukti laya1 gereja kami di Margoyudan. Sedari aku bisa mengingat dan sependek cerita bapak, ibu sama sekali bukan ahli merias wajah. Apalagi wajah orang yang sudah meninggal. Yang membuatku semakin heran, mengapa orang-orang di gereja begitu percaya dengan kemampuan merias ibu sementara ia sendiri tak suka memoleskan gincu di pipinya?

’’Ini pelayanan, ini bentuk mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Kamu mestinya mengerti apa arti kasih dan mengasihi.’’ Ibu selalu menyorongkan kalimat itu bila aku mulai bertanya buat apa menjadi perias mayat jemaat gereja. Tak mendapat gaji, tak boleh menerima amplop isi uang pula. Paling banter ibu hanya akan mendapat sekotak kue atau piring bertulis peringatan sekian hari matinya si ini atau si itu.

Alasan-alasan yang sangat Alkitabiyah lantas ia ucapkan sebagai dasar kesibukannya sebagai anggota pangrukti laya gereja kami. Ya, ibu memang aktivis gereja. Saking aktifnya, bapak sering menyebut ibu sebagai anggota panitia surga alias orang-orang di dunia yang terlalu sibuk dengan hal-hal surgawi tanpa pernah pusing kelak bisa jadi penghuni surga atau tidak.

Baik surgawi atau tidak, tetap saja aku tak habis pikir mengapa ibu yang tak suka bersolek dapat menjadi penata rias tubuh-tubuh tak bernyawa. Bagaimana bila ternyata bedak pada wajah mayat yang diriasnya tebal sebelah? Atau ada gincu menor di pipi beku tubuh tanpa nyawa itu? Lalu bagaimana bila kemudian mayat-mayat itu bangkit dari kubur untuk meminta ibu merapikan riasannya? Segala hal yang sulit kubayangkan ada pada ibu dan kesibukannya bersama kematian.

’’ Le, tolong jemput Bude Rose. Nanti kamu mampir sekalian ke gereja. Pak Ayub dan Pak Switadi sudah menunggu. Ibu siap-siap dulu.’’

Perintah dari ibu semacam itu adalah tanda ia mendapat panggilan duka dari warga gereja. Aku tak mungkin mengelak. Sejak menjadi penggangguran tak kentara setelah lulus kuliah tiga tahun lalu, aku adalah kaki bagi ibu. Ke mana ibu pergi, aku mengantarnya.

Bude Rose, Pak Ayub, dan Pak Switadi adalah pangrukti laya yang selalu bertugas bersama ibu. Bude Rose adalah ketua kelompok itu. Pengalamannya selama 30 tahun sebagai perawat rumah sakit Dokter Oen di Nji Seng Yan menjadi alasan utama mengapa Bude Rose jadi ketua. Ia paham benar bagaimana membersihkan mayat sebelum layak kubur. Maklum, separo lebih dari waktunya menjadi perawat adalah tugas di kamar mayat. Aku selalu ingin menyumpal mulutnya bila di dalam mobil ia mulai berkisah tentang pengalaman-pengalaman aneh di sekitar kamar mayat.

*** 
SETIAP kali aku menjadi sopir rombongan pangrukti laya, di saat itu pula aku mendengar pembagian tugas di antara mereka. Bila yang kehilangan nyawa adalah perempuan, maka ibu dan Bude Rose mendapat tugas lebih banyak. Mulai dari memandikan dan membersihkan jenazah, hingga memasangkan baju. Sementara itu Pak Ayub dan Pak Switadi bertugas merencanakan kebaktian bagi keluarga yang berduka.

Beda cerita bila yang kehilangan nyawa adalah laki-laki. Pak Ayub dan Pak Switadi yang akan memandikan dan membersihkan tubuh tak bernyawa itu, lalu memasangkan baju. Sedangkan ibu dan Bude Rose akan bertugas merencanakan kebaktian. Selain itu, tak peduli laki-laki atau perempuan, ibu juga bertugas merias wajah mayat-mayat itu.

Pembagian tugas tersebut akan berubah bila kematian tidak datang di rumah sakit. Bude Rose dibantu Pak Switadi dan Pak Ayub akan melakukan tugas-tugas pulasara2 berupa memandikan dan mengeluarkan cairan-cairan dalam tubuh jenazah dengan tepukan-tepukan bagian perutnya.

Bila urusan pulasara sudah beres, ibu dan teman- temannya akan berkonsentrasi membersihkan tubuh yang mulai kaku itu. Memotong kuku, membersihkan dan merapikan bulu- bulu di tubuh mayat, lalu meriasnya. Selain pisau cukur dan gun ting kuku, pekerjaan ibu dan temantemannya di bagian ini sangat mem- su- butuhkan kapas beralkohol.

Kapas dan alkohol menjadi senjata untuk membersihkan daerah sekitar dubur, kelamin, pusar, mulut, hidung, telinga, mata, dan luka di bagian tubuh mana pun. Selain ketiak, titik-titik itu rawan menjadi sumber bau busuk tubuh manusia dan alkohol 70 persen sangat ampuh mengaburkan aroma-aroma itu.

Ibu dan teman-temannya selalu berkeringat bila mendapati tubuh kaku mengeluarkan aroma tak sedap yang bersumber di sekitar bagian ketiak. Tangan yang sudah mulai kaku terlipat di atas perut sangat sulit kembali direntangkan agar sumber bau bisa terjamah alkohol.

Tak seperti Pak Mahbub, ustad sebelah rumah, yang mengharamkan jenazah terkena alkohol, ibu dan tiga karibnya itu justru benarbenar mengandalkannya. Senyatanya, alkohol adalah senjata ampuh untuk membersihkan daki di sekujur tubuh, baik tubuh yang masih bernyawa atau tidak. Alkohol juga ampuh untuk sedikit mengendurkan urat-urat wajah mayat yang mulai kaku.

Pada mayat yang mati cemberut, olesan alkohol di sekitar bibir dapat sedikit melunakkan kekakuan hingga bisa ditarik ke samping agar roman wajah tanpa nyawa tak cemberutcemberut amat. Begitu pula untuk mayat bermulut nganga. Olesan alkohol di bagian geraham hingga dagu dan ikatan ujung dagu ke atas kepala selama beberapa jam jadi cara mengatupkan mulut terbuka. Namun, alkohol sama sekali tak mampu menunjukkan keajaibannya bila berjumpa dengan mayat yang sudah berumur lebih dari 12 jam. Mayat berumur setengah hari macam itu sudah menuju puncak kaku dan sulit disiasati. Setali tiga uang, alkohol juga tak berguna untuk mayat berumur 24 jam atau lebih. Memuncaknya kekakuan yang terjadi pada umur sehari akan berlanjut dengan proses pembusukan berupa melemasnya kembali jaringan tubuh mayat tanpa pernah bisa kembali kaku. Tubuh tak bernyawa itu akan terus melembek, berangsur mengeluarkan cairan, lalu benar-benar busuk. 

*** 
MENGANTAR ibu saat bertugas menjadi pangrukti laya adalah horor yang sesungguhnya buatku. Maklum, selain pembagian tugas, tak jarang rombongan ini membicarakan dugaan-dugaan atas mayat macam apa yang akan mereka hadapi di rumah duka. Biasanya, dugaan-dugaan itu berlanjut pada cerita menjahit wajah cuwil, merias wajah di kepala retak yang direkatkan lakban transparan, hingga menutup luka busuk oleh penyakit.

Bila sudah begitu, tak mungkin aku memutar kaset dan mengencangkan suaranya agar cerita-cerita itu tak sampai ke telingaku. Mau tak mau aku mendengarkannya walau rasa mual, seram, dan takut teramat leluasa menghunjam pikiranku. Mereka tak pernah tahu daya imajinasiku yang luar biasa kerap berujung pada ketakutan ke kamar mandi pada malam-malam usai mendengar cerita mereka. Aku memang penakut dan mereka sebetulnya paham benar soal itu.

Suatu kali Pak Switadi pernah berhalangan hadir untuk tugas pangrukti laya. Ibu, Bude Rose, dan Pak Ayub mendadak memintaku untuk menggantikannya. Di sepanjang jalan menuju rumah duka, diselingi tawa, mereka terus-menerus memintaku menggantikan Pak Switadi. Entah bercanda atau serius, aku menganggap permintaan itu dengan sangat serius. Mobil kutepikan, pintu samping kemudi kubuka, lalu aku pergi meninggalkan mereka. Selama dua jam mereka terdampar di jalanan hingga keluarga yang berduka datang menjemput. Sejak itu, mereka tak pernah lagi memintaku terlibat dalam urusan mayat walau hanya candaan. Cukup jadi sopir, titik.

Seperti siang itu, saat aku diminta mengantar rombongan pangrukti laya ke Bibis, sementara Pak Ayub tak bisa bergabung. Tak sepatah kata pun permintaan agar aku membantu mereka kudengar. Mereka sudah memutuskan untuk minta bantuan anggota keluarga yang berduka untuk mengganti peran Pak Ayub. Tentu saja keputusan itu membuatku nyaman dan sedikit tenang.

Seperti biasa, aku mengantar rombongan ibu hingga rumah duka. Kali ini rumah duka yang menjadi tujuan berada di tepi jalan besar utara Pasar Mebel. Segala jenis truk bebas berlalu lalang di jalanan sejajar Kali Anyar itu. Tak ada horor yang kudengar di sepanjang perjalanan. Kalaupun ada, sejak dari rumah aku sudah siap dengan walkman yang telah tersambung kabel-kabel pengantar lengking Phil Collins menutup telinga.

*** 
SAMPAI di rumah duka, aku ikut turun sebentar untuk minum teh dan camilan yang sudah disiapkan tetangga kiri kanan rumah duka. Sudah cukup banyak orang yang datang. Sebagian besar sibuk menata tenda, kursi, dan memasang bendera merah di halaman sebagai tanda rumah duka. Aku memilih segera menghabiskan teh lalu menyingkir. Tidur di dalam mobil yang terparkir di bawah rindang pohon jambu di pinggir jalan depan rumah duka adalah pilihan utama bagiku ketimbang ikut menata tenda dan kursi.

Di dalam mobil, cuaca bagian utara Solo yang begitu terik siang itu sama sekali tak membuatku berkeringat. Sebaliknya, aku sangat merasakan kesejukan pendingin udara yang dua hari lalu sudah berisi freon baru. Kaca jendela mobil kututup rapat agar udara dingin tak merembes keluar percuma. Aku tak memusingkan bau knalpot bocor yang belum sempat kubereskan di bengkel meruap di dalam kabin mobil.

Aku benar-benar menikmati udara sejuk dengan sedikit bau asap knalpot di dalam mobil. Rindang pohon jambu yang menangkis terpaan matahari pada kaca mobil menyempurnakan kesejukan ini. Dan, pilihan lagu-lagu terkini di sela suara Herman Jambojay yang tengah siaran dari studio Radio SAS menjadi pengantar tidur siang itu. Tak butuh waktu lama untuk membuatku pulas di kursi belakang kemudi yang sudah kuatur sandarannya sedemikian rupa agar tubuhku nyaman.

Entah sudah berapa lama aku lelap di dalam mobil. Rasanya belum pernah aku tidur senyenyak ini. Pulasku masih panjang saat kurasakan dingin di sudut kiri kanan bibirku. Dingin itu diikuti pijitan lembut yang menarik sudut bibir ke kiri dan kanan ke arah samping. Aku tak peduli. Pulasku belum tanak.

Tak lama setelah hilang rasa dingin itu, aku merasakan sensasi lain. Wajahku seperti tersapu kuas lembut. Sapuan kuas itu berlanjut dengan aroma bedak. Tak lama setelah aroma bedak dan sapuan kuas itu hilang, aku kembali merasakan pipiku basah oleh air. Berkali kuusap, berkali pula basah itu datang. Aku semakin merasa basah. Kini tak lagi pipi, namun sekujur wajah kurasakan basah.

Aku terpaksa membuka mata. Namun, hanya gelap yang tampak. Aku makin bingung saat kusadari gelap itu berasal dari wajah ibu yang tengah mencium keningku. Ibu menangis. Linangan air matanya membasahi wajahku. Aku mencoba mendorongnya, ibu bergeming. Aku mencoba teriak namun ibu tetap menangis tepat di wajahku. Sekencang apa pun aku berteriak, ibu sama sekali tak mendengarnya.

Belum hilang bingungku, aku semakin tak paham saat dapat melihat diriku sendiri. Kulihat tubuhku terbujur di dalam peti di pendapa rumahku dengan wajah sedikit cemberut. Tak ada celana pendek dan kaus hitam yang kukenakan saat mengantar ibu ke rumah duka di utara Pasar Mebel. Aku justru melihat tubuhku terbalut jas milikku satu-satunya dengan tangan terlipat di depan perut menggamit kitab suci. Tepat di samping ibu aku melihat bapak yang bermata sembab mencoba menenangkannya. Kudengar lirih bapak menggumamkan penyesalan.

’’Maafkan Bapakmu, Nak. Mestinya kita segera ke bengkel selagi sempat.’’

Bapak tak mampu menahan air matanya. Ia menangis bersama ibu di depan peti berisi tubuhku. Aku mulai bisa meraba apa yang terjadi. Wajah-wajah kerabat yang hanya datang saat ada kematian menguatkan rabaanku. Mereka saling berbisik tentang bahayanya berada di dalam mobil berhenti dengan pendingin udara dan mesin yang menyala selama berjam-jam. Mereka juga menggunjingkan ibu sebagai pangrukti laya yang tetap tabah merias wajah anaknya sendiri yang sudah tak bernyawa. Ah… *** 

Catatan: 
1. Pangrukti Laya: pengurus jenazah dan perkabungan 
2. Pulasara: merawat, membersihkan 

Hendromasto Prasetyo, penulis budaya, tinggal di pinggiran Jakarta

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hendromasto Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 31 Desember 2017

0 Response to "Pangrukti Laya"