Pesan Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pesan Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:13 Rating: 4,5

Pesan Ibu

AKU kembali ke tempat itu, dan berjongkok mengusap kepalanya. “Ibu, aku tak kuasa.” Napasku tersendat, tangisku terisak. Tak ada tangan yang mampu kugenggam, tak ada pundak untuk bersandar, dan tak ada tubuh yang untuk kupeluk. Aku benar-benar sendiri. Teringat saat itu…

AKU kembali ke tempat itu, dan berjongkok mengusap kepalanya.

“Ibu, aku tak kuasa.” Napasku tersendat, tangisku terisak. Tak ada tangan yang mampu kugenggam, tak ada pundak untuk bersandar, dan tak ada tubuh yang untuk kupeluk. Aku benar-benar sendiri.

Teringat saat itu…

Hujan merincik menimbulkan suara damai yang sejuk. Dengan butiran mutira yang terus meluncur berjatuhan. Ibu tertatih berjalan mendekatiku. Tanpa baju. Ya, memang seperti itu.

Ibu sudah sakit parah, sangat parah menurutku. Satu dari dua payudaranya sudah membusuk.

Tak mampu menahan sakit jika sesuatu menyentuhnya. Ibu lebih memilih tidak memakai baju, hanya di depan keluarga. Ibu duduk tepat di sampingku, wajahku masih tertutup jari-jari putih dan kecil seperti ranting di musim kemarau.

“Kenapa kamu menangis Lily?” tanya ibu seraya mengusapkan tangannya ke kepalaku. Aku hanya menggelengkan kepala.

“Katakanlah,” ucapnya Iembut.

Aku mulai menatap mata ibu yang lembut dengan tatapan hangatnya.

“Sebentar lagi Idulfitri bu, aku iri sama teman-teman yang membuat macam-macam kue bersama ibunya,” jawabku lirih

“Ya sudah, kita buat kue saja sekarang,” ajak ibu antusias.Tak sadar dengan keadaannya, seakan semuanya baik-baik saja.

Hari itu, 3 hari sebelum Hari Raya Idulfitri aku dan ibu membuat kue di dapur rumah yang cukup sempit. Ibu tetap memilih untuk tidak memakai baju. Hanya kami berdua saat itu, kakak-kakakku sudah menikah dan bapa sedang bekerja (berjualan koran).

“Tapi ibu baik-baik saja?” tanyaku khawatir.

“Oh tentu saja,” jawab ibu ceria. Walau aku tahu ia sedang menahan rasa sakit. Karena sesekali ia membelakangiku untuk merintih. Aku tak kuasa menahan air mata. Tapi ibu tetap terlihat baik-baik saja sampai kue berjejer di dalam kaleng bekas kue-kue instan.

Malamnya, ibu tertidur pulas. Mungkin karena lelah setelah seharian membuatkanku kue. Aku ingin melihat wajah ibu, sekarang juga.

Aku buka tirai kamar ibu yang terbuat dari kain lusuh bekas berwarna cokelat kekuning-kuningan karena luntur. Dan, ini pemandangan setiap malam sekaligus pekerjaanku. Seperti biasa aku ambil 2 lembar tisu dan kugelar di atas telapak tangan. Perlahan aku duduk di samping ibu.

Belatung itu bermunculan, keluar dari payudara ibu yang membusuk. Tangisku tak dapat kutahan. Aku ambil satu persatu belatung tersebut dengan perlahan dan menyimpannya di atas tisu. Butiran air mata turut membasahi pipi. Dan itu memang keseharinku.

Malam takbiran tiba. Gema takbir menggelegar di seluruh penjuru. Lagi-lagi, hanya aku dan ibu di rumah. Yang lain akan datang setelah malam semakin mencekam. Saat itu, ibu memanggilku.

“Lily, sini nak. Temani ibu.” Aku segera menuju kamar ibu, dan ibu menyuruhku untuk berbaring tepat di sampingnya. Ibu meraih lenganku dan meletakkannya di atas pinggangnya. Jari-jari ibu yang lemah mulai merasuk ke sela-sela rambutku yang pirang.

“Nanti kalo ibu sudah sembuh, kita jalan-jalan ya. Ibu akan membeikanmu boneka yang lucu.”

Ucap ibu lirih namun penuh harap. Aku hanya tersenyum memandangnya.

“Ibu,” kataku menengadah.

“Iya Lily?” jawabnya Iembut.

“Kenapa kakak-kakak tak pernah ada yang datang untuk hanya sekadar merawat ibu?” tanyaku kesal.

“Mereka sudah punya kesibukan masing-masing Lily,” jawabnya tegar.

“Lalu kenapa ayah hanya berjualan koran? Penghasilannya kan sedikit dan tidak cukup untuk biaya operasi ibu. Kak Adam juga sudah sukses, kenapa dia tiak memberikan sebagian uangnya untuk biaya pengobtan ibu?” Air mataku mulai berlinang, penuh amarah.

“Lily, kamu tidak usah memikirkan hal sejauh itu. Kamu masih belum mengerti.” Ibu masih menjawabnya dengan tenang.

“Tapi aku benci mereka ibu! Mereka jahat sama ibu!” Aku mulai membentak.

“Hey… anak ibu tidak boleh begini. Lily… sejahat apa pun orang terhadap kita, kita tidak boleh membencinya. Tetaplah berperilaku baik dan santun. Karena membenci itu bukan cara untuk memecahkan masalah. Ingat selalu pesan ibu, Lily, semua akan baik kepada kita jika kita baik kepada mereka,” ucap ibu menasihati.

“Tapi ibu sudah baik sama mereka, dan mereka tetap jahat sama ibu, gak peduli sama ibu.” Jawabku dengan sedikit menekan.

“Lily, apa pun yang terjadi kepadamu. Saat ini, ataupun suatu saat nanti. Selalu ingat pesan ibu, jangan pernah membenci siapa pun. Selalu berperilaku baik kepada siapa pun. Mengerti ?”

Menekan namun tetap lembut di telinga. Aku tersenyum terpaksa. Tapi aku hanyut oleh ucpan ibu. Bagaimanapun itu pesan ibu.

Di Hari Raya Idul Fitri, aku bangun sangat pagi. Saat  itu pukul 4:00, sangat pagi menurutku. Aku sengaja membersihkan rumah terlebih dahulu, lalu mandi. Selesai mandi aku masuk kamar ibu, ia masih tertidur pulas. Tapi aku harus membangunkannya, karena ini adalah hari yang kita tunggu-tunggu. Kugoyangkan tubuh ibu perlahan, ibu tak bangun. Kucoba agak kuat, ibu masih belum bangun. Aku mulai resah, aku ingin sekali berpikir positif saat itu. Namun feeling ini memang memberontak. Aku cek pernapasan ibu, dan itu saatnya aku tahu bahwa ibu telah pergi.

Tepat di hari yang kita tunggu-tunggu ibu tak pernah bangun lagi. Hari yang kita rencanakan untuk menghabiskan waktu dengan balapan makan kue, jalan-jalan, nonton bareng dan ibu juga janji akan membelikanku boneka lucu ketika ia sembuh nanti. Tapi kini ibu sudah pergi.

Aku seperti orang gila saat itu, meraung, berteriak, mengamuk dan memukul siapa saja yang mendekati ibu.

“Ibu pasti bercanda kan? Ibu bilang ibu akan sembuh dan membelikanku boneka lucu, kita kan mau balapan makan kue hari ini, mau jalan-jalan… Aaaaaaaahhhh ibuuuuuuuu !!!” Aku tak kuasa menahan semua itu.

“Lily, sudahh.” Bapa dan kakak-kakak ku berusaha menenangkan.

“Diam kalian, kalian tidak sayang kepada ibu. Hanya aku yang mengurusi ibu ketika sakit. Kalian jahat!! ibu kesakitan kalian gak pernah ada, sampai belatung menggerogoti tubuhnya pun kalian entah di mana!”

“Lily…” Tetangga juga ikut melerai kesedihanku.

“DIAM! IBU TIDAK MATI!!”

Kakak-kakak ku menyesal dan bapak terpukul. Ingin sekali aku membenci mereka namun larangan ibu adalah peraturan bagiku.

Aku tak tahan menahan tangis ketika bayang-bayang itu berkeliaran. Tangisku lepas di atas makam ibu. Selalu ingin memeluk ibu walau terhalang gundukan tanah. Ibu, aku sangat rindu.

Sepasang tangan lembut membangunkanku dari makam ibu. Merengkuh dan menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Tangisku kembali meledak di atas dadanya yang bidang, hangat dalam pelukan.

Dia adalah suamiku, teman hidupku, pengganti ibu. Yang ibu tunjukan kepadaku. Keluargaku satu-satunya. Setelah kakak dan bapakku meninggalkanku ketik aku beranjak dewasa.

“Jadiah wanita solehah dan murah hati, niscaya kamu akan mendapatkan pasangan yang soleh dan murah hati juga. Jangan berkecil hati dengan kedaanmu saat ini, Tuhan telah mengatur semuanya. Dan tentu, Tuhan adalah sutradara paling hebat yang selalu membuat cerita indah dengan happy ending. Suatu saat jodohmu akan meenjemputmu dan menjagamu.” Pesan terakhir ibu di malam takbiran yang menjadi motivasi hidupku. Yang membuatku menjadi pekerja keras yang tak kenal lelah. Sampai akhirnya seseorang yang soleh nan murah hati seperti apa yang telah ibu katakan menjemput dan meminangku. Dan mengubah jalan hidupku.

“Ini adalah skenario Tuhan.” Akupun tak pernah melupakan kata-kata itu. Makasih ibu. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irfan Maulana Yusuf
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 21 Januari 2018

0 Response to "Pesan Ibu"