Rumah Tanpa Jendela | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rumah Tanpa Jendela Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:30 Rating: 4,5

Rumah Tanpa Jendela

LALU ia berubah menjadi logam dan terbang ke angkasa. Kembali aku tertegun saat cahaya masuk melalui lubang pintu dan meninggalkan garis cahaya dengan debu-debu yang beterbangan, pada saat yang sama cahaya berhasil sedikit masuk dari bawah celah antara pintu dan lantai. Tinggal di rumah ini membuatku sedikit gila. Rumah kayu tanpa sekat, hanya kamar mandi yang diberi sekat dan pintu, juga sebuah meja dan kursi buatan tangan yang keropos dan rumah busuk tanpa jendela.

SAAT aku mulai tertekan aku selalu mengintip keluar lewat lubang kunci. Melihat bunga yang kata Ayah namanya bunga matahari, mengikuti gerak bunga matahari yang berayun disapa angin dan gerakannya yang selalu menguntit matahari. Kurasa itulah yang menjadi dasar penamaan bunga ini.

Oh yah, soal Ayahku, aku tak pernah melihatnya hampir sebulan ini. Mungkin ia datang setelah aku tidur, lalu pergi bekerja setelah menyiapkan makan sebelum aku bangun, mungkin. Satu yang pasti selama ini Ayahku tak pernah membiarkan aku keluar, tak tahu karena apa, entah.

Tapi aku ingin keluar menyapa bunga matahari, lalu bersama-sama pergi mengikuti arah cahaya dan tak pernah kembali. Kupikir tak ada jalan keluar dari sini, pintu ini selalu dikunci. Tapi aku ingin melihat dunia, meski lewat jendela. Kuputuskan untuk mengambil spidol lalu menggambar jendela dengan gambar bunga matahari di tembok samping pintu. Setelah gambar selesai, aku masih ingin keluar.

***
AKU masih ingin keluar, ini jam sembilan malam dan aku akan bicara pada Ayah, aku akan menunggunya pulang. Sudah tiga jam berlalu mungkin ia tak tahu jalan pulang dan tersesat di jalan, atau ia telah pergi bersama hilangnya cahaya dimakan malam. Waktu makin buatku mengantuk. Aku tertidur.

Praaaang!

Suara piring jatuh membangunkanku, saat itu berdiri seorang perempuan menata makanan di atas meja.

“Siapa kau?”

Ia langsung pergi menembus pintu, kulihat dari lubang kunci kalau orang itu sedang berdiri lalu ia berubah menjadi logam dan terbang ke angkasa.

Sepertinya mataku menipu, atau ini hanya mimpi yang jika aku merasa ingin pipis aku akan terbangun. Tapi kabar buruknya ini bukan mimpi. Sial! Aku takut, otot leherku menegang, apa yang harus kulakukan. Mati? Aku hanya perlu setetes keberanian lagi untuk itu dan dengan itu aku dapat terbang mengikuti cahaya seperti bunga matahari. Tapi itu bukan jawaban, kupukul wajahku sendiri agar pikiran bunuh diri tak merasuk lagu dalam kepalaku.

***
INI siang hari dan aku belum makan apa pun, dan aku tidak mungkin memakan apa yang sosok itu taruh di atas meja. Aku hanya bisa tertegun, mungkin hanya itu yang kubisa dan satu-satunya keahlian yang kupunya. Saat tertegun aku berpikir berarti yang menyiapkan makanan untukku makan selama sebulan ini adalah sosok itu, dengan memikirkannya perutku tiba-tiba terasa panas. Tetapi kenapa dia menyiapkan makanan untukku? Di mana Ayahku yang berarti satu bulan ini ia tak pernah pulang? Aku harus menemui sosok itu lagi dan memuntahkan segala pertanyaan di otakku.

Sekarang tengah malam dan aku menanti sosok itu, mungkin ia takut dan takkan kembali lagi, pikirku. Satu menit kemudian ia benar-benar datang dengan menembus pintu dan membawa makanan di tangannya.

“Siapa kau?”

“Mau apa kau ke sini?”

“Sekarang di mana Ayahku?”

Dari raut wajahnya aku tahu dia tak punya niat untuk menjawab pertanyaanku. Setelah menyimpan makanan di atas meja, ia berjalan menuju pintu.

“Berhenti bodoh!” kuberlari sambil memegang tangannya.

“Aaaaahhhh” ia berteriak tanda kesakitan.

Tangannya yang kupegang menimbulkan luka seperti luka bakar, makhluk macam apa dia? Berarti dengan memegang seluruh tubuhnya aku dapat membunuhnya.

“Tunggu jika kau ingin mengetahui jawaban dari semua jawaban itu tunggulah sampai jam sembilan pagi, akan aku buka pintu rumahmu agar kau mengetahui jawabannya.”

Aku pun mengangguk setuju. Setelah itu ia pergi menembus pintu lalu ia berubah menjadi logam dan terbang ke angkasa.

Mungkin sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak, tapi otakku selalu berspekulasi tentang apa yang akan terjadi esok pagi. Sial! Hanya saat ini kurasa jarum jam malas untuk bergerak seperti seorang pekerja yang mengetahui gajinya bulan ini akan telat dibayarkan.

Aku bangun, setelah akhirnya dapat tertidur karena terlalu lelah menanti waktu. Lima menit lagi dan segala pertanyaan yang berkumpul di kepalaku akan terjawab. Aku harus menyiapkan hatiku sembari berdiri di depan pintu.

Klik!

Perlahan pintu terbuka, mataku silau karena tak pernah menerima cahaya sebanyak ini sebelumnya. Aku buru-buru keluar dan kudapat Ayahku telah mati tergeletak, posisinya tepat pada tembok yang kugambar jendela di sisi dalam rumah. Dan mungkin sosok itu adalah makhluk yang diutus langit untuk menjagaku setelah Ayahku tiada. Kesedihan mendera setiap sel dalam tubuhku, kesedihan menggerogoti setiap inci dari tubuhku. Oh, andai saja sebulan yang lalu rumahku punya jendela. ***

Bandung, 30 Agustus 2017


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Syahril Sugianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 28 Januari 2018

0 Response to "Rumah Tanpa Jendela"