Selepas Bapak Meninggal | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Selepas Bapak Meninggal Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:28 Rating: 4,5

Selepas Bapak Meninggal

KAKIKU sudah terasa begitu lemah menyusuri dinding bukit kapur ini. Aku, Paman Sahdan, Basir, dan Alif Rahman mengangkat peti mati Bapak. Peti itu berisi jenazah Bapak yang meninggal kemarin pagi. Kami mengangkatnya sudah ratusan meter dari rumah dan harus membawanya ke tebing untuk dimakamkan pada lubang-lubang di atas tebing. Namun kakiku terasa goyah. Paman Sahdan bilang, “Coba istirahat sebentar, lalu kita lanjutkan sedikit lebih atas lagi. Agar arwah bapakmu cepat diterima di pangkuan sang pemberi hidup.”

Alif Rahman dan Basir mengangguk. Aku menghela napas panjang dan mengusap keringat yang memenuhi wajahku. Selang dua menit, mereka bertiga bangun dan memintaku bangun juga untuk kembali mengangkat peti mati Bapak lebih tinggi lagi. Kami berjalan pelan. Sesekali kakiku hendak terpeleset.

“Di sini saja, Paman. Bapak bisa istirahat dengan damai di sini.” Aku mengisyaratkan berhenti, sembari menunjuk sebuah lubang yang teduh. Dan kurasa, di lubang itu, arwah Bapak akan istirahat dengan sedemikian tenang. Alif Rahman mengangguk dan Paman Sahdan mengangguk juga. Kami meletakkan peti itu dan mengucap doa sebentar lalu kembali turun ke bawah meninggalkan jasad Bapak yang sudah tidur tenang.

***
RUMAH terasa sepi sejak Bapak pamit meninggalkan dunia ini selamanya. Ibu sudah sakit-sakitan, hanya bisa terbaring di ranjang dengan batuk parah yang sudah setahun terakhir menggerogotinya. Namun Aisah, seorang perempuan yang sudah kulamar itu, sering memberi perasaan bahagia di sela-sela kesedihan mengenang mendiang Bapak.

Malam selepas kami mengantar jenazah Bapak, Paman Sahdan datang ke rumah. Disusul oleh Alif Rahman yang merupakan putranya. Alif Rahman umurnya sudah tiga puluh, tapi belum menikah. Selang sepuluh menit, Paman Ridwan, adiknya Bapak yang paling kecil di bawah Paman Sahdan, juga datang.

Aku pamit sebentar ke dapur membuatkan mereka teh hangat. Aku melihat ada perihal serius yang akan dibicarakan ma lam itu. Aku berjalan pelan membawa empat cangkir teh. Kemudian memberi mereka satu per satu. Paman Sahdan tersenyum dan menghela napas lumayan panjang. Sementara Alif Rahman membakar sebatang rokok dan Paman Ridwan memilin tembakau dengan daun jagung kering.

Aku duduk bersila di antara mereka. Paman Sahdan sejenak menghirup teh hangat di depannya. Bibirnya komat-kamit meniup teh itu sebelum dihirupnya. Sementara suara batuk Ibu terdengar jelas, diselingi suara tokek yang setia pada dinding rumah.

Paman Sahdan akhirnya membuka suara, “Begini, Nak Randuse. Bapakmu kan baru saja meninggal. Kami datang ke sini hendak membawa sebuah anjuran.” Paman Sahdan bicara pelan dan terlihat sangat hati-hati. Aku hanya menunduk, sementara Paman Ridwan dan Alif Rahman mengangguk.

“Alangkah baiknya jika beberapa hari selepas ini, kamu beli seekor sapi lalu korbankan pada perayaan nanti,” Paman Sahdan melanjutkan.

“Maaf sebelumnya, Paman, buat apakah sapi yang dikorbankan itu?” Aku memberanikan diri bertanya, sebab memang aku tak ngerti dengan pembicaraan tentang seekor sapi dikorbankan dan hubungannya dengan jasad Bapak.

“Walah-walah, Nak Randuse kok seperti bocah ingusan. Sebentar lagi kan mau kawin. Masa gak mengerti tentang adat kita di sini.” Paman Ridwan kali ini yang bicara. Paman Sahdan menggeleng-gelengkan kepalanya. Alif Rahman menatapku begitu tajam. Aku hanya menunduk saja dan tak tahu musti berkata apa. “Begini, Randuse…,” Alif Rahman angkat bicara.

“Setiap orang yang meninggal sebenarnya akan melakukan perjalanan yang teramat panjang untuk menemui surga sang pemberi hidup. Nah, dalam perjalanan yang teramat panjang itu, jasad seorang yang meninggal akan menemui berbagai rintangan. Konon, dalam perjalanan itu, bisa saja binatang buas mengganggunya dan menerkamnya. Bisa saja jasad yang meninggal itu menemui lubang besar dan teramat dalam. Lalu dia terperosok dan masuk. Dan surga hanya menjadi angan-angan saja. Nah, untuk memudahkan perjalanannya itu, kita, terutama keluarga dekat, dianjurkan untuk mengorbankan sapi. Seekor bisa, lebih seekor pun alangkah baiknya. Pengorbanan sapi itu dipercaya dapat mempermudah jalannya untuk menemui surga,” Alif Rahman menambahkan sekaligus menerangkan. Omongannya terlihat lebih dewasa dari umurnya.

Aku hanya menunduk, bingung hendak berkata apa. Tiba-tiba Paman Ridwan bicara sedikit lebih keras. “Randuse, kenapa kau menunduk saja? Apa tak bisa kau menatap paman-pamanmu ini yang sedang bicara? Kau hormatilah kami sedikit saja!”

Aku tersentak dan mengangkat kepala menatap Paman Ridwan, “Maaf, Paman, tak ada maksud untuk tidak menghormati kalian….”

“Apa mendiang bapakmu tak pernah mengajarkanmu adat kita di kampung ini? Oh, Randuse, merugi kau jadi orang. Janganlah kamu kikir begitu, jangan terlena pada duniawi ini saja. Paman yakin, kamu ada banyak tabungan. Usahamu akhir-akhir ini lancar. Apa susahnya jika kau sisihkan untuk hanya seekor sapi, itu juga untuk keselamatan bapakmu, orang yang sudah susah payah mendidik dan membesarkanmu.” Paman Ridwan bicara sembari menatapku begitu tajam.

Aku membenarkan posisi duduk, menatap mereka satu per satu. Kemudian mencoba bicara, “Maaf, Paman. Maaf, Saudara Alif Rahman. Bukannya aku pelit, bukannya aku tak mau melihat Bapak selamat dan cepat menemui surganya, namun sekira boleh aku bercerita sedikit saja. Mungkin paman semua akan faham….” Aku masih menatap mereka bergantian.

“Apa yang hendak Nak Randuse ceritakan?” Paman Sahdan masih bicara pelan. Berbeda dengan Paman Ridwan yang agak sedikit keras.

“Aku ingin cerita tentang pernikahanku yang beberapa hari lagi. Sekira aku tau Bapak akan meninggal, mungkin aku tak melakukan lamaran dulu. Tapi semua sudah terjadi dan tak mungkin lamaran itu aku tunda atau batalkan. Bukankah paman-paman semua tau, kalau pernikahan adalah ibadah dan tak baik jika ditunda-tunda. Bisa-bisa pamali dan Tuhan murka. Mendiang Bapak juga yang menganjurkanku untuk menikah. Beliau yang begitu ingin memiliki menantu dan secepatnya menimang cucu. Tapi kematian Bapak tak terduga. Bapak tak pernah sakit, hanya malangnya tertabrak truk. Dan kejadian itu begitu cepat. Aku memang punya tabungan, tapi sungguh itu cuma cukup buat kawinan. Bukannya aku hendak tak menghargai kalian, tak menghargai Ibu dan mendiang Bapak….” Aku bicara sangat pelan dan sesekali menunduk.

“Apakah benar memang tidak ada sama sekali, kami bisa membantu sedikit untuk harga seekor sapi.” Paman Ridwan bicara lagi.

“Sungguh, Paman, ini saja aku hendak menjual motor untuk menambah biaya kawinan.” Aku memandang Paman Ridwan.

Mereka bertiga geleng kepala, saling pandang dan menggeleng lagi. “Bukankah perjalanan mencapai surga juga ditentukan oleh perbuatan seseorang di masa hidupnya. Bapak orang baik, dia banyak ibadah semasa hidup. Tuhan akan memudahkan jalannya.” Aku memberanikan diri bicara lagi.

Ketiganya menggeleng, lalu Paman Ridwan bicara lagi, “Baiklah, Randuse, perjalanan itu amat panjang dan rumit. Kau pernah kan dengar cerita tentang apa yang didapat manusia sebelum menemui surga. Bisa saja tubuhnya dipanggang, lidahnya dipotong, badannya ditusuk besi yang nian panasnya. Alangkah mengerikan semua itu. Tapi apa hendak dikata kalau kau sudah bicara seperti itu. Kami pamit untuk pulang saja. Kabarkan kalau kau sudah berubah pikiran.”

Mereka bertiga pamit. Aku berdiri dan menyalami Paman Sahdan, kemudian menyalami Alif Rahman. Namun ketika hendak menyalami Paman Ridwan, ia melengoh tak menggubris uluran tanganku. Aku merasa bersalah sejenak padanya.

***
KETIKA kuceritakan semuanya pada Aisah, gadis itu tak bisa memberi saran apa-apa. Malah ia menangis di ujung telepon.

Aku duduk termenung, memikirkan semua omongan malam itu. Otakku melayang jauh dan tiba-tiba muncul pertanyaan di otakku. “Apa benar segala ucapan Paman Ridwan? Sedang apa mendiang Bapak saat ini?” Aku menyandarkan badan di ranjang, pikiranku terasa kacau. Belum lagi jika memikirkan perkawinanku dengan Aisah yang tinggal hitungan hari.

Dalam keadaan kacau demikian, aku tanpa sadar tidur lelap. Dan dalam tidur itu, entah kenapa aku bermimpi tentang masa kecilku. Dalam mimpi itu, aku tengah berjalan dengan Bapak.

“Bapak, aku mau beli eskrim.” Aku merengek.

“Uang di kantong Bapak hanya dua ribu, Nak. Kan mau beli pensil juga. Eskrim harganya tiga ribu. Pensil harganya dua ribu. Pensil kan kebutuhan buat sekolah. Mending dipake beli pensil, yang ada manfaatnya. Kelak, jika sudah memiliki uang lebih, baru kita beli eskrim. Kita harus bisa memilah dan memilih, mana yang merupakan kebutuhan, mana yang merupakan keinginan.”

Bapak bicara amat pelan. Lalu dia memelukku begitu hangat. Sangat hangat.


Rifat Khan. Lahir di Pancor, NTB, pada tanggal 24 April 1985. Beberapa karyanya dimuat Metro Riau, Majalah Cempaka, Suara NTB, Radar Surabaya, Harian Waktu, Lombok Post, Harian Rakyat Sumbar, Satelit Post, Bali Pos, Sinar Harapan, Jurnal Nasional, Riau Pos, dan Republika. Bermukim di NTB dan bergiat di Komunitas Rabu Langit Lombok Timur.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rifat Khan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu, 21 Januari 2018

0 Response to "Selepas Bapak Meninggal"